Saham GoTo Anjlok ke Rp50, Tertekan Aturan Tarif Baru

Saham GoTo anjlok ke Rp50 per saham setelah pemerintah menetapkan aturan baru pembagian pendapatan transportasi online.
Manajemen GoTo menyatakan akan mematuhi regulasi sambil mengkaji dampaknya terhadap operasional dan terus berkoordinasi dengan pemerintah serta pemangku kepentingan.
Meski harga saham tertekan, kinerja keuangan GoTo kuartal I-2026 menunjukkan perbaikan signifikan dengan laba bersih Rp171 miliar dan pertumbuhan pendapatan 26 persen secara tahunan.
Jakarta, FORTUNE — Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) turun tajam pada awal perdagangan Senin (4/5), usai pemerintah menetapkan kebijakan baru terkait pembagian pendapatan di sektor transportasi online.
Akibatnya, harga saham GOTO menyentuh level Rp50 per saham atau batas auto rejection bawah (ARB). Hal ini sekaligus menjadi titik terendah sejak perusahaan melantai di bursa pada 2022.
Aturan baru tekan saham GOTO
Pada pembukaan perdagangan, saham GOTO langsung melemah 7,41 persen ke level Rp50. Aktivitas perdagangan tercatat tinggi dengan volume mencapai 15,73 juta saham dan nilai transaksi sekitar Rp1,7 triliun, menjadikannya salah satu saham paling aktif di bursa hari ini.
Penurunan saham terjadi seiring dengan keputusan Presiden Prabowo Subianto yang meneken Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online. Salah satu poin utamanya adalah peningkatan porsi pendapatan untuk pengemudi, yang mana ini berdampak pada model bisnis aplikator seperti GoTo.
Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan perubahan signifikan dalam skema bagi hasil.
"Saya telah tanda tangan Peraturan Presiden Nomor 27 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online. Yang tadi saya bicara, harus diberi jaminan kecelakaan kerja, akan diberi BPJS Kesehatan, asuransi kesehatan," ujar Prabowo, dikutip Senin (4/5).
Pembagian pendapatan juga berubah, dari 80 persen untuk pengemudi menjadi minimal 92 persen untuk pengemudi. Pernyataan tersebut menunjukkan potongan maksimal untuk aplikator dibatasi hingga sekitar 8 persen, turun dari sebelumnya yang mencapai 20 persen.
Respons perusahaan dan pemangku kepentingan
Menanggapi kebijakan tersebut, manajemen GoTo menyatakan akan mengikuti aturan yang berlaku sambil mengkaji dampaknya terhadap operasional. Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, menyebut perusahaan masih mempelajari implikasi kebijakan tersebut.
"Saat ini kami akan melakukan pengkajian untuk memahami detail, implikasi dan penyesuaian yang diperlukan sesuai dengan peraturan tersebut," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (1/5).
GoTo juga akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan keberlanjutan layanan bagi mitra pengemudi dan pelanggan.
Di sisi lain, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengungkapkan keterlibatan pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Ia menyebut langkah tersebut bertujuan menyesuaikan kebijakan komisi bagi pengemudi.
“Pemerintah, melalui Danantara, terlibat dalam proses ini untuk memastikan bahwa semua pihak, termasuk driver online, mendapatkan perhatian yang tepat. Simulasi mengenai efektivitas sistem ini masih dalam tahap pengembangan, dan komunikasi dengan para mitra akan terus dilakukan untuk mendapatkan masukan dan saran yang konstruktif,” ujar Dasco, Jumat (1/5).
Kinerja keuangan GoTo masih tumbuh
Di tengah tekanan pada harga saham, GoTo sebelumnya melaporkan kinerja keuangan yang menunjukkan perbaikan. Pada kuartal I-2026, perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp171 miliar, berbalik dari kerugian Rp367 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, EBITDA grup yang disesuaikan mencapai Rp907 miliar dan disebut berada dalam jalur untuk memenuhi target tahunan sebesar Rp3,2–3,4 triliun.
Pendapatan bersih juga tumbuh 26 persen secara tahunan menjadi Rp5,3 triliun, didorong oleh peningkatan aktivitas pengguna dan transaksi di ekosistem.
Jumlah pengguna bertransaksi tahunan tercatat mencapai 69 juta atau tumbuh 22 persen. Sementara itu, nilai transaksi bruto (GTV) inti meningkat signifikan sebesar 65 persen menjadi Rp138 triliun.
Kinerja positif terlihat pada segmen fintech dan layanan on-demand. EBITDA pada segmen fintech naik tajam, sementara layanan on-demand mencatat pertumbuhan yang didorong oleh peningkatan penggunaan produk premium.
Dinamika pasar dan tekanan jangka pendek
Meski kinerja fundamental menunjukkan perbaikan, pergerakan saham GOTO dalam jangka pendek dipengaruhi oleh perubahan regulasi yang berdampak langsung pada struktur pendapatan perusahaan. Sebelum penurunan tajam ini, saham GOTO juga tercatat melemah 1,82 persen pada perdagangan 30 April 2026.
Kebijakan pembatasan komisi dinilai menjadi faktor utama yang memicu reaksi pasar, mengingat potensi penurunan margin bagi aplikator. Di sisi lain, implementasi kebijakan masih akan melalui tahap penyesuaian dan pembahasan lebih lanjut dengan berbagai pihak terkait.
FAQ seputar saham GOTO
| Mengapa saham GOTO turun tajam? | Karena kebijakan baru pemerintah yang membatasi potongan komisi aplikator menjadi maksimal sekitar 8 persen. |
| Berapa harga terendah saham GOTO saat ini? | Saham GOTO turun ke Rp50 per saham, level terendah sejak IPO. |
| Bagaimana kinerja keuangan GoTo terbaru? | GoTo mencatat laba bersih Rp171 miliar pada kuartal I-2026, berbalik dari rugi tahun sebelumnya. |
















