- Jasa pengiriman: Rp5,8 triliun (naik 8,3 persen)
- Imbalan jasa: Rp5,7 triliun (turun sekitar 2 persen)
- Pendapatan pinjaman fintech: Rp3,8 triliun (melonjak 95 persen)
GoTo Pangkas Rugi Jadi Rp1,2 Triliun pada 2025, Pendapatan Naik

GoTo mencatat rugi bersih Rp1,2 triliun pada 2025, turun signifikan dari Rp5,2 triliun pada 2024.
Pendapatan bersih meningkat menjadi Rp18,3 triliun didorong pertumbuhan layanan fintech dan on-demand.
Perusahaan menargetkan EBITDA 2026 di kisaran Rp3,2–Rp3,4 triliun seiring ekspansi bisnis digital.
Jakarta, FORTUNE — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melaporkan perbaikan kinerja keuangan sepanjang 2025 dengan penurunan signifikan pada rugi bersih. Dalam laporan keuangan terbaru, perusahaan mencatat kerugian sebesar Rp1,2 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan Rp5,2 triliun pada 2024.
Seiring dengan itu, pendapatan bersih GoTo juga meningkat. Sepanjang 2025, perseroan membukukan pendapatan bersih Rp18,3 triliun, tumbuh sekitar 15 persen secara tahunan.
Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan transaksi dalam ekosistem digital perusahaan yang mencakup layanan on-demand, e-commerce, serta financial technology (fintech). Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, mengatakan perusahaan mencatatkan pertumbuhan bisnis yang kuat sepanjang tahun lalu.
“Kami mencatatkan kinerja yang kuat di kuartal keempat dan selama tahun 2025, dengan GTV inti meningkat 49 persen secara tahunan dan EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp2 triliun, melampaui pedoman yang telah kami tetapkan,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (11/3).
Pendapatan tumbuh, kerugian operasional menyusut
Kinerja operasional GoTo menunjukkan perbaikan pada sejumlah indikator utama. Pendapatan bersih meningkat menjadi Rp18,3 triliun dari sebelumnya sekitar Rp15,9 triliun pada 2024.
Secara rinci, beberapa sumber pendapatan utama meliputi:
Pertumbuhan paling signifikan berasal dari lini fintech, khususnya layanan pinjaman yang meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, total beban usaha tercatat sekitar Rp18,7 triliun, naik sekitar 3 persen. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan beban pokok pendapatan yang mencapai Rp7,75 triliun.
Beberapa komponen biaya terbesar perusahaan meliputi:
- Biaya layanan kirim: Rp5,6 triliun
- Gaji karyawan: Rp3,6 triliun
- Biaya iklan dan pemasaran: Rp1,7 triliun
- Biaya teknologi informasi: Rp1,6 triliun
- Insentif pelanggan: Rp1,1 triliun
Kelima komponen tersebut menyumbang sekitar 73 persen dari total beban usaha GoTo.
Kinerja tiap lini bisnis GoTo
Dari sisi operasional, beberapa unit bisnis GoTo menunjukkan kontribusi berbeda terhadap profitabilitas perusahaan.
Bisnis On-Demand Services yang mencakup layanan Gojek menghasilkan laba operasional Rp888,6 miliar. Sementara unit e-commerce Tokopedia membukukan laba sekitar Rp572 miliar.
Sebaliknya, segmen fintech (Gopay) masih mencatatkan kerugian operasional sekitar Rp397 miliar.
Setelah memperhitungkan biaya korporasi sebesar Rp1,44 triliun, kerugian operasional konsolidasi GoTo tercatat sekitar Rp378 miliar. Meski demikian, angka tersebut menyusut sekitar 83 persen dibandingkan kerugian operasional Rp2,24 triliun pada 2024.
Pertumbuhan transaksi dan pengguna
Selain kinerja keuangan, indikator operasional GoTo juga mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang 2025. Nilai transaksi bruto atau Gross Transaction Value (GTV) inti meningkat 49 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp400 triliun untuk satu tahun penuh.
Sementara pada kuartal keempat saja, GTV inti mencapai Rp124 triliun, naik 57 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan jumlah pengguna yang aktif bertransaksi di dalam ekosistem GoTo.
Jumlah Pengguna yang Bertransaksi Tahunan (Annual Transacting Users/ATU) meningkat sekitar 24 persen menjadi 66 juta pengguna.
EBITDA dan arus kas mencatat rekor baru
GoTo juga melaporkan peningkatan pada indikator profitabilitas operasional.
Sepanjang 2025, EBITDA yang disesuaikan mencapai sekitar Rp2 triliun, melampaui pedoman kinerja perusahaan yang sebelumnya berada pada kisaran Rp1,8 triliun hingga Rp1,9 triliun.
Direktur Keuangan GoTo, Simon Ho, mengatakan capaian tersebut mencerminkan perbaikan fundamental bisnis perusahaan.
“Kinerja kami mencerminkan keberhasilan yang terus berlanjut dalam upaya mencetak pertumbuhan pendapatan (top-line) dan meningkatkan profitabilitas (bottom-line). Kami kembali mencetak rekor EBITDA Grup yang disesuaikan,” ujarnya.
Selain itu, GoTo juga mencatat arus kas bebas yang disesuaikan positif sebesar Rp966 miliar untuk setahun penuh 2025.
Posisi keuangan dan proyeksi 2026
Dari sisi neraca, posisi likuiditas perusahaan masih relatif kuat. Hingga 31 Desember 2025, GoTo memiliki kas dan setara kas Rp21,76 triliun.
Sebagian dana tersebut ditempatkan dalam tabungan dan deposito berjangka yang menghasilkan pendapatan keuangan sekitar Rp573 miliar sepanjang tahun.
Total aset perusahaan tercatat Rp45,7 triliun, meningkat sekitar 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara ekuitas mencapai Rp28,7 triliun.
Meski demikian, secara historis perusahaan masih mencatat akumulasi kerugian sebesar Rp215 triliun.
Untuk tahun 2026, GoTo menargetkan peningkatan profitabilitas. Perusahaan memperkirakan EBITDA yang disesuaikan berada di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun, seiring momentum pertumbuhan bisnis di lini fintech dan on-demand services.
FAQ seputar GoTo pangkas rugi
| Berapa rugi bersih GoTo pada 2025? | GoTo mencatat rugi bersih sekitar Rp1,2 triliun pada 2025, turun signifikan dari Rp5,2 triliun pada 2024. |
| Berapa pendapatan GoTo sepanjang 2025? | Pendapatan bersih GoTo mencapai Rp18,3 triliun atau tumbuh sekitar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. |
| Berapa target EBITDA GoTo pada 2026? | GoTo memperkirakan EBITDA yang disesuaikan pada 2026 berada di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun. |
















