Menimbang Risiko Outflow dan Dampak Putusan MSCI ke Saham Konglomerasi

Jakarta, FORTUNE - Pengumuman MSCI pada Mei ini diperkirakan berdampak negatif dalam jangka pendek hingga menengah. Sentimen tersebut diperkirakan masih akan menekan pasar sampai proses effective rebalancing selesai.
Berkaitan dengan volatilitas tersebut, Head of Research PT Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, memproyeksikan potensi outflow pasif dapat mencapai sekitar US$200 juta hingga US$400 juta secara bertahap. Terutama dari saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI dan saham-saham konglomerasi yang sebelumnya menjadi proxy likuiditas pasar.
"IHSG saya lihat masih volatile di 6.700-7.250 sampai akhir semester-I 2026, untuk semester-II 2025, peluang pemulihan tetap terbuka jika isu global mereda, rupiah stabil, dan suku bunga BI lanjut turun," kata Wafi kepada Fortune Indonesia, Rabu (13/5).
Katalis pendukung lain yang dapat mendukung pembalikan arah IHSG adalah masuknya dana domestik institusi, stimulus pemerintah, serta perbaikan kinerja emiten bank-bank raksasa dan consumer pada paruh kedua tahun ini.
Sebelumnya, dalam riset, Phintraco Sekuritas mencatat, dengan country weight Indonesia sekitar 0,72 persen pada indeks MSCI, rebalancing MSCI pada Mei ini dapat mendorong potensi outflow sekitar Rp28 triliun-Rp31 triliun. Khususnya pada saham-saham yang dikeluarkan seiring penyesuaian portofolio investor institusi global.
Secara keseluruhan, hasil rebalancing tersebut dinilai dapat menjadi sentimen negatif bagi IHSG karena mencerminkan berkurangnya representasi saham Indonesia dalam indeks MSCI. "Khususnya pada kategori global standard yang menjadi acuan utama investor institusi asing," tulis tim riset Phintraco Sekuritas.
Senada, Analis dan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama juga memperkirakan potensi outflow dari pasar modal Indonesia bisa mencapai ratusan juta dolar Amerika Serikat secara bertahap, hingga putusan rebalancing MSCI efektif pada 1 Juni 2026. Terutama, outflow dari ETF dan dana pasif yang wajib mengikuti komposisi MSCI.
"Sentimen ini masih bisa membayangi pasar hingga beberapa bulan ke depan, terutama bila belum ada katalis besar yang mampu mengembalikan minat asing," ujarnya kepada Fortune Indonesia, Selasa.
Saham konglomerasi merupakan salah satu yang cukup terpengaruh oleh sentimen MSCI. Sebab, beberapa saham konglomerasi itu sebelumnya menjadi katalis indeks sekaligus target utama arus modal asing. Tak ayal, saat saham-saham itu keluar dari MSCI, potensi tekanan teknikal dan penurunan likuiditas turut meningkat.
"Di sisi lain, saham-saham Indonesia yang masih bertahan di MSCI seperti big banks, TLKM, ASII, dan beberapa saham likuid lainnya justru berpotensi menjadi tempat rotasi dana asing karena tetap menjadi benchmark utama investor global," kata Elandry.
Lebih lanjut, valuasi saham-saham konglomerasi pun mulai terkoreksi dari posisi premium. Itu karena penurunan eksposur dari MSCI. Wafi menambahkan, seleksi terhadap saham-saham itu pun akan makin ketat.
"Saham konglomerasi dengan fundamental dan arus kas kuat masih bisa rebound, sedangkan yang rally-nya lebih ditopang sentimen atau likuiditas kemungkinan tetap volatile," ujar Wafi.


















