- Emas: BRMS (+4,12 persen), ARCI (3,72 persen), dan EMAS (3,60 persen).
Volatilitas Naik Buntut Konflik AS-Israel-Iran, Ini Lis Sektor Pilihan

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hampir 2 persen pada perdagangan sesi I, Senin (2/3), buntut meningkatnya tensi geopolitik karena serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran. Analis menilai, terdapat peluang untuk trading saham beberapa sektor di tengah volatilitas karena sentimen itu, seperti saham komoditas dan energi.
Tim riset Stockbit Sekuritas menjelaskan, komoditas emas dan minyak (khususnya minyak mentah, LNG, dan tarif freight pelayaran) pada umumnya menjadi sektor penerima manfaat awal (beneficiary) dari eskalasi geopolitik tersebut.
"Namun, lanjutan harga komoditas dan sentimen IHSG akan sangat ditentukan oleh berapa lama Selat Hormuz terganggu dan respons dari negara global lainnya," kata Tim riset Stockbit Sekuritas yang dipimpin oleh Vivi Handoyo, Head of Investment Research Stockbit, Senin (2/3).
Lebih lanjut, tim Stockbit menambahkan, dalam jangka panjang, penguatan harga minyak dapat turut meningkatkan harga komoditas energi substitusi seperti batu bara.
Apabila konflik mereda, lalu Selat Hormuz tetap dibuka, seperti yang terjadi pada Juni 2025, sentimen negatif terhadap pasar masih terbatas dan rebound cepat berpotensi terjadi lagi. Di lain sisi, jika gangguan selat itu terus berlanjut dalam jangka waktu lebih lama, maka ada risiko lebih panjang seperti inflasi energi struktural dan sentimen negatif lebih dalam.
Lebih lanjut, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menjelaskan, secara historis, IHSG masih dapat menguat sekitar 5 persen saat perang Rusia dan Ukraina pada 2022 walaupun harga minyak melonjak. Kinerja IHSG saat itu dipimpin sektor energi dan logam.
"Jika gangguan bersifat sementara, minyak Brent berpotensi naik ke US$90-US$100 per barel sebelum stabil kembali," demikian menurut tim riset BRIDS.
Pengamat Pasar Modal, Elandry Pratama, memproyeksikan IHSG menguji support 8.133 di tengah eskalasi tensi geopolitik tersebut. Jika menembus level itu, maka area 8.000 akan menjadi level psikologis berikutnya, dengan resisten di kisaran 8.300.
Ia menilai, sektor komoditas seperti emas dan minyak, masih berpotensi diuntungkan. Selain komoditas, sektor pelayaran juga berpeluang diuntungkan karena gangguan jalur distribusi membuat kapal harus memutar lebih jauh dan menghadapi risiko lebih tinggi. Dampaknya, biaya operasional dan tarif angkut meningkat, yang pada akhirnya dibebankan kepada pelanggan.
"Namun investor tetap perlu disiplin dan selektif dalam menentukan strategi," katanya.
Secara sektoral, berikut ini pergerakan saham-saham yang berkaitan dengan sektor tersebut pada perdagangan sesi I, Senin:
- Minyak: MEDC (+5,22 persen) dan RATU (+1,74 persen).
- Pelayaran dan batu bara:
- SOCI (+1,48 persen), BULL (-0,40 persen), HUMI (-0,85 persen), dan GTSI (-1,94 persen).
- AADI (+9,19 persen), ITMG (+0,77 persen), dan PTBA (+2,69 persen).
Sebelumnya, akibat serangan AS dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2), Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei; Menteri Pertahanan Iran, Amir Nasirzadeh; dan Komandan IRGC, Mohammed Pakpour dilaporkan tewas. Sebagai serangan balasan, Iran meluncurkan rudal dan drone ke Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi.
Selain itu, Iran juga memperingatkan kapal-kapal tanker yang melewati Selat Hormuz. Karena itu, lalu lintas pengiriman di jalur itu terganggu. Sebagai konteks, sekitar 20 persen ekspor minyak global dan mayoritas pengiriman LNG internasional perlu melintasi selat itu.
















