Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Pembukaan IHSG Hari Ini Anjlok, Turun Hampir 5 Persen

Pembukaan IHSG Hari Ini Anjlok, Turun Hampir 5 Persen
ilustrasi IHSG anjlok (IDN Times/Pitoko)
Intinya Sih
  • Pembukaan IHSG hari ini turun 4,94 persen ke level 7.210 pada awal perdagangan Senin (9/3).

  • Sentimen geopolitik Timur Tengah dan perubahan outlook kredit Indonesia menekan pasar saham.

  • Investor juga mencermati posisi Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tajam pada perdagangan Senin (9/3). Pada awal sesi, indeks langsung terkoreksi 374,93 poin atau 4,94 persen ke level 7.210,74.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia menunjukkan mayoritas saham berada di zona merah. Tercatat 628 saham melemah, 34 saham menguat, dan 55 saham stagnan dengan nilai transaksi awal mencapai sekitar Rp3,8 triliun.

Tekanan jual ini memperpanjang tren pelemahan IHSG yang dalam sepekan terakhir tercatat turun hampir 8 persen.

Pembukaan IHSG hari ini didominasi tekanan jual

Tekanan terhadap IHSG terlihat sejak awal sesi perdagangan. Dalam beberapa menit pertama perdagangan, indeks langsung turun lebih dari 2 persen sebelum melanjutkan pelemahan hingga di atas 4 persen dan hampir menyentuh 5 persen.

Berdasarkan data perdagangan hingga sekitar pukul 09.05 WIB, IHSG tercatat masih melemah signifikan. Volume transaksi mencapai 6,29 miliar saham dengan nilai perdagangan sekitar Rp2,97 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 283.385 kali.

Pada pembukaan tersebut, sebagian besar saham bergerak di zona merah, dengan 595 saham melemah, 36 saham menguat, dan 79 saham tidak bergerak.

Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham global dan domestik, sehingga memicu kehati-hatian investor pada awal pekan perdagangan.

Ketegangan geopolitik memicu sentimen risk-off

Salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar adalah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Dalam situasi ketidakpastian geopolitik, investor global cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Fenomena ini dikenal sebagai risk-off, yaitu perubahan preferensi investor menuju aset safe haven seperti obligasi negara maju atau aset berbasis dolar AS.

Perubahan sentimen tersebut dapat memicu aliran keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini sering disebut sebagai geopolitical contagion, yakni dampak konflik di satu kawasan yang menyebar ke pasar keuangan global.

Akibatnya, pasar saham di emerging markets cenderung menghadapi tekanan volatilitas yang lebih tinggi.

Kekhawatiran terhadap posisi Indonesia di indeks global

Sentimen lain yang turut memengaruhi pergerakan IHSG berkaitan dengan posisi Indonesia dalam indeks saham global.

Perhatian investor tertuju pada kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dalam indeks yang disusun oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Saat ini, bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index dilaporkan terus menurun dan mendekati kisaran 1 persen.

Penurunan bobot tersebut mencerminkan semakin kecilnya porsi pasar saham Indonesia dalam portofolio global yang mengikuti indeks tersebut.

Diskusi mengenai kemungkinan Indonesia turun dari kategori emerging market menjadi frontier market mulai muncul di kalangan pelaku pasar. Meskipun skenario tersebut belum tentu terjadi dalam waktu dekat, pembahasan mengenai potensi perubahan klasifikasi dapat memengaruhi sentimen investor.

Banyak dana investasi global, khususnya dana pasif dan ETF, menyesuaikan portofolionya secara otomatis mengikuti komposisi indeks MSCI. Jika klasifikasi berubah, aliran dana asing yang mengikuti indeks tersebut juga berpotensi berubah.

Outlook kredit Indonesia turut dicermati investor

Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mencermati perkembangan dari sisi fundamental domestik, khususnya terkait persepsi risiko terhadap utang pemerintah.

Sejumlah lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch Ratings, Moody’s Investors Service, dan S&P Global Ratings memberikan sinyal kehati-hatian terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Fitch Ratings sebelumnya memangkas outlook atau prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil.

Perubahan outlook ini tidak berarti penurunan peringkat kredit akan terjadi dalam waktu dekat. Namun, sinyal tersebut menunjukkan adanya faktor risiko yang mulai diperhatikan lembaga pemeringkat, termasuk kondisi fiskal, dinamika utang pemerintah, serta potensi tekanan terhadap defisit anggaran.

Bagi investor global, perubahan persepsi terhadap risiko kredit negara dapat memengaruhi keputusan investasi karena berkaitan dengan biaya pendanaan dan stabilitas ekonomi.

Proyeksi pergerakan IHSG dari analis

Sejumlah analis pasar melihat pergerakan IHSG masih dipengaruhi berbagai sentimen global dan domestik.

BRI Danareksa Sekuritas menyebut pasar akan terus mencermati perkembangan konflik Timur Tengah serta rilis data ekonomi domestik dalam waktu dekat.

“Pasar akan terus mencermati perkembangan konflik Timur Tengah yang berpengaruh terhadap harga komoditas sembari menunggu rilis beberapa data ekonomi domestik seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK),” mengutip riset BRI Danareksa Sekuritas.

CGS International Sekuritas Indonesia juga memproyeksikan pergerakan IHSG masih berpotensi berlanjut di tengah tekanan eksternal.

“IHSG diprediksi akan melanjutkan pelemahannya dengan kisaran support 7.475–7.365 dan resisten 7.700–7.810,” tulis riset CGS International.

FAQ seputar pembukaan IHSG hari ini

Bagaimana pembukaan IHSG hari ini?

IHSG dibuka turun 4,94 persen atau 374,93 poin ke level 7.210,74 pada perdagangan Senin (9/3).

Mengapa IHSG melemah pada pembukaan perdagangan?

Pelemahan dipengaruhi sentimen geopolitik global, perubahan outlook kredit Indonesia, dan kekhawatiran posisi Indonesia di indeks MSCI.

Berapa jumlah saham yang turun pada pembukaan IHSG?

Sebanyak 628 saham tercatat melemah pada awal perdagangan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yunisda Dwi Saputri
EditorYunisda Dwi Saputri
Follow Us

Latest in Market

See More