Pasca-Rebound 7%, Bagaimana Proyeksi Laju IHSG Hari Ini?

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (10/6), setelah rebound 7,57 persen ke level 5.746,65 pada penutupan Selasa (9/6).
Tim riset Phintraco Sekuritas menjelaskan, secara teknikal, setelah sehari sebelumnya IHSG sempat ditutup di bawah MA200 monthly, IHSG berbalik menguat dan ditutup di atas level tersebut. Secara chart harian, IHSG juga ditutup di atas level MA5, sekaligus menutup gap up yang terbentuk sehari sebelumnya.
"Stochasctic RSI membentuk golden cross di area oversold. IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran 5.600-5.850," demikian dikutip dari riset Phintraco Sekuritas, Rabu.
Salah satu sentimen yang disoroti tim Phintraco Sekuritas adalah keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali menaikan suku bunga menjadi 5,5 persen. Langkah itu dinilai berpotensi mendorong kenaikan permintaan obligasi pemerintah Indonesia seiring dengan masuknya aliran modal asing, karena investor mencari imbal hasil yang lebih tinggi.
"Aliran modal asing yang masuk ke Indonesia tersebut berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah," kata tim riset Phintraco Sekuritas.
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas Indonesa (MASI) menilai, keputusan BI yang cukup mendadak itu dapat ditafsirkan bahwa otoritas bank sentral khawatir dengan perkembangan rupiah akhir-akhir ini. Perlu diperhatikan lebih lanjut apakah kenaikan BI Rate tersebut mampu kembali mengangkat rupiah dan mengembalikan minat investor asing terhadap instrumen keuangan Indonesia.
Senada, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyebut, secara teknikal, area 5.430-5.318 kini menjadi support utama IHSG setelah penguatan signifikan pada perdagangan Selasa. Area 5.900 menjadi target rebound jangka pendek yang perlu diuji terlebih dahulu sebelum pasar dapat berbicara mengenai pemulihan yang lebih berkelanjutan.
Menurutnya, rebound yang terjadi kemarin lebih bijak dilihat sebagai respons terhadap kondisi oversold yang ekstrem. Lalu diperkuat oleh kombinasi dukungan kebijakan dan harapan bahwa pemerintah akhirnya mulai menyadari seriusnya kondisi pasar.
"Dengan kata lain, setiap pembelian saat ini masih lebih cocok dikategorikan sebagai akumulasi bertahap atau speculative buy dibandingkan buy-and-hold jangka panjang yang agresif," kata Liza dalam risetnya.
Sebagai konteks, salah satu dukungan kebijakan tergambar dari hasil pertemuan dadakan antara Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad dengan jajaran bank himbara, Danantara, INA, dan beberapa institusi BUMN lain. Salah satu agenda yang muncul dari diskusi itu adalah peluang buyback saham-saham BUMN yang beberapa bulan terakhir ini terdampak tekanan pasar.







