IHSG Menyentuh Titik Terendah dalam 5 Tahun, Anjlok 3,9 Persen

IHSG anjlok ke level 5.486, terendah dalam lima tahun, dengan mayoritas saham melemah dan sektor infrastruktur menjadi yang paling terpukul.
Aksi jual asing mencapai Rp7,38 triliun menekan saham big caps seperti BBCA, BBRI, BMRI, TPIA, dan ASII.
Pelemahan rupiah, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed, hingga inflasi domestik memperparah tekanan terhadap pasar saham Indonesia.
Jakarta, FORTUNE — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada awal pekan. Setelah turun 8,69 persen sepanjang 2–5 Juni 2026 dan ditutup di level 5.594,76, IHSG menyentuh titik terendah dalam 5 tahun sejak 5 November 2020.
Tekanan masih berlanjut pada perdagangan Senin (8/6). IHSG melemah 1,94 persen ke level 5.486 dan sempat merosot hingga 3,94 persen ke posisi 5.374.
Pelemahan terjadi secara luas mencakup 515 saham turun, sementara hanya 71 saham menguat, dan 373 saham bergerak stagnan. Seluruh indeks utama turut berada di zona merah. Sektor infrastruktur menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 6,24 persen, diikuti sektor bahan baku 5,47 persen dan energi 4,64 persen.
Table of Content
Aksi jual asing tekan saham-saham big caps
Arus keluar dana asing masih menjadi salah satu faktor yang menekan IHSG. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp7,38 triliun di pasar reguler selama 2–5 Juni 2026. Secara year-to-date (YtD), total net sell asing telah mencapai Rp72,22 triliun.
Tekanan jual terbesar terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang memiliki bobot dominan terhadap indeks.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham dengan net sell terbesar mencapai Rp2,28 triliun. Saham BBCA turun 10,96 persen hingga berada di level Rp5.075 per saham.
Selain BBCA, investor asing juga melepas saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) senilai Rp2 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp1,02 triliun, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp399,53 miliar, dan PT Astra International Tbk (ASII) Rp382,97 miliar.
Efek The Fed dan pelemahan rupiah ke IHSG
Pelemahan rupiah turut menambah tekanan di pasar saham. Pada perdagangan Senin (8/6) pagi, rupiah menyentuh level Rp18.165 per dolar AS. dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar keuangan domestik.
Menurut MNC Sekuritas, depresiasi mata uang domestik dinilai dapat memengaruhi aliran modal asing dan meningkatkan risiko investasi di pasar berkembang.
Di saat yang sama, dolar AS menguat setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat dirilis jauh lebih kuat dibandingkan ekspektasi pasar. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut mendorong investor global mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman dan berimbal hasil menarik, salah satunya instrumen berbasis dolar AS.
Baca Juga: Kenapa IHSG Turun? Ini 6 Faktor Penyebabnya
Baca Juga: Dolar AS Tembus Rp18.100, Rupiah Semakin Tertekan
Sentimen global perburuk tekanan terhadap IHSG
Tekanan terhadap IHSG juga dipengaruhi sentimen global. MNC Sekuritas menilai koreksi indeks domestik sejalan dengan pelemahan mayoritas bursa saham global dan regional Asia.
Sentimen utama berasal dari meningkatnya ekspektasi kebijakan higher for longer The Fed setelah data non-farm payrolls (NFP) AS melampaui perkiraan pasar.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menyebut data ketenagakerjaan AS yang solid telah mengubah ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter The Fed.
"Sentimen semakin tertekan oleh rilis NFP Mei yang jauh melampaui ekspektasi (172.000 vs. konsensus 80.000), mendorong yield UST 10-tahun menembus 4,5 persen dan probabilitas kenaikan Fed Funds Rate akhir tahun melonjak ke 72,7 persen, menjadikannya angin kepala bagi growth stocks," ujar Hari dalam risetnya, Senin (8/6).
Di luar sentimen suku bunga, pasar juga mencermati potensi tersedotnya likuiditas menjelang pencatatan saham SpaceX di Nasdaq, ditargetkan menghimpun dana hingga 75 miliar dolar AS.
Faktor domestik membebani, IHSG berpeluang rebound
Kejatuhan IHSG pada pekan lalu bukan hanya dipicu faktor eksternal, tapi juga sejumlah faktor domestik.
Hari menjelaskan koreksi tajam terjadi akibat kombinasi tiga faktor utama, yaitu rebalancing indeks FTSE Russell yang memicu aksi jual paksa pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, inflasi Mei 2026 yang mencapai 3,08 persen secara tahunan, serta pelemahan rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS.
"Kombinasi ketiga faktor tersebut membentuk tekanan yang sulit diimbangi oleh aliran dana domestik, menjadikan pekan ini sebagai salah satu yang paling berat bagi IHSG dalam beberapa bulan terakhir," ujarnya.
Sementara itu, M. Nafan Aji Gusta Utama sebagai Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menyatakan IHSG telah memasuki area extremely oversold berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI). Tekanan jual sudah sangat tinggi, sehingga secara teknikal berpotensi terjadinya rebound.
Meski demikian, Nafan menilai tren pelemahan belum sepenuhnya berakhir. Ia memperkirakan IHSG memiliki level support di 5.491 dan 5.390, sementara level resistance berada di 5.733 dan 5.839.
Pergerakan indeks dalam jangka pendek juga akan dipengaruhi sentimen global, arus dana asing, serta sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis pekan ini.
FAQ seputar IHSG menyentuh titik terendah dalam 5 tahun
| Berapa total net sell investor asing sepanjang 2026? | Investor asing mencatat net sell Rp72,22 triliun di pasar reguler hingga awal Juni 2026. |
| Saham apa yang paling banyak dijual investor asing? | PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham dengan net sell terbesar sebesar Rp2,28 triliun. |
| Berapa level penutupan IHSG pada 5 Juni 2026? | IHSG ditutup di level 5.594,76 setelah turun 8,69 persen dalam sepekan. |










