Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa IHSG Turun? Ini 6 Faktor Penyebabnya

Kenapa IHSG Turun? Ini 6 Faktor Penyebabnya
ilustrasi IHSG (pexels.com/Burak The Weekender)
Intinya Sih
  • IHSG melemah lebih dari 2% ke level 5.700-an akibat pelemahan rupiah, aksi jual asing, dan tekanan global.

  • Investor asing mencatat net sell besar hingga Rp68,50 triliun sepanjang 2026, menekan saham-saham perbankan dan konglomerasi di BEI.

  • Ketidakpastian kebijakan domestik, ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta ekspektasi suku bunga tinggi AS memperburuk sentimen pasar.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun drastis pada perdagangan sebelumnya. Usai ditutup di level 5.846 pada Kamis (4/6), IHSG hari ini pada Jumat (5/6) menguat tipis sebelum merosot lagi lebih dari 2 persen ke level 5.700-an.

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia itu dipicu oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah hingga sentimen terkait kebijakan domestik. Berikut penjelasan selengkapnya mengenai 6 faktor kenapa IHSG turun.

Table of Content

1. Rupiah melemah tekan pasar saham

1. Rupiah melemah tekan pasar saham

Salah satu faktor yang membebani IHSG adalah melemahnya nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada Jumat (5/6) pagi dibuka melemah ke level Rp18.050 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya ditutup di Rp18.020 per dolar AS.

Pelemahan mata uang domestik umumnya memengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko, termasuk saham. Phintraco Sekuritas menilai depresiasi rupiah menjadi salah satu penyebab yang menekan pasar saham sepanjang tahun ini.

Selain berdampak terhadap persepsi risiko investasi, pelemahan kurs juga meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya impor. Tekanan di pasar valuta asing ini terjadi bersamaan dengan arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik.

2. Investor asing lakukan aksi jual besar

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan investor asing masih melakukan aksi jual bersih (net sell) sepanjang 2026. Hingga awal Juni, nilai net sell investor asing di pasar reguler mencapai Rp68,50 triliun.

Aksi itu berdampak pada pergerakan saham-saham kapitalisasi besar yang menjadi penopang IHSG.

Pada perdagangan Jumat (5/6) pagi, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 4,15 persen. Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melemah 3,80 persen, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 2,27 persen, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terkoreksi 2,14 persen.

Sejumlah saham konglomerasi juga mengalami tekanan. PANI turun 9,69 persen, sementara BREN melemah 3,25 persen.

3. Ketidakpastian kebijakan

Pelaku pasar turut mencermati berbagai perkembangan kebijakan di dalam negeri. Phintraco menyebut ketidakpastian terkait kebijakan pemerintah menjadi salah satu alasan kenapa IHSG turun.

Analis juga menyoroti agenda penting yang akan dipantau pasar dalam beberapa pekan mendatang, termasuk implementasi kebijakan ekspor, revisi tarif royalti sektor pertambangan, hingga evaluasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.

MSCI dijadwalkan merilis Global Market Accessibility Review sekitar 18 Juni dan Annual Market Classification Review sekitar 23 Juni 2026. Sebelumnya, MSCI menyampaikan perhatian terkait transparansi kepemilikan saham dan likuiditas beberapa emiten di Indonesia.

4. Geopolitik Timur Tengah

Bursa saham Asia bergerak melemah setelah muncul keraguan terhadap gencatan senjata Israel dan Lebanon. Situasi tersebut memperbesar ketidakpastian geopolitik di kawasan Timteng sekaligus memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Akibatnya, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke instrumen investasi lain yang ebih aman.

Di kawasan Asia, tekanan terlihat pada sejumlah indeks utama seperti Nikkei Jepang turun 1,23 persen, Kospi Korea Selatan merosot 3,62 persen, dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,52 persen

5. Suku bunga tinggi AS

Faktor lain yang membayangi pasar adalah ekspektasi The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Dalam laporan strategi bulanan, Phintraco menyebut ketahanan ekonomi AS masih solid, sehingga peluang penurunan suku bunga lebih terbatas.

"Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer dalam waktu dekat," tulis Phintraco, Rabu (3/6).

Suku bunga tinggi biasanya mendorong investor global mengalihkan dana ke aset dolar AS karena imbal hasil lebih menarik. Dampaknya, pasar negara berkembang seperti Indonesia menghadapi tekanan arus modal keluar.

6. Faktor teknikal dan rebalancing indeks global

Selain faktor fundamental, kenapa IHSG turun bisa dipengaruhi faktor teknikal pasar. Phintraco mencatat dampak rebalancing indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell turut memengaruhi aliran dana investasi ke sejumlah saham domestik.

Tekanan juga muncul dari aktivitas perdagangan rutin, termasuk aksi jual akibat margin call maupun berakhirnya periode cum dividen sejumlah emiten.

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas, William Suryawijaya, mengatakan sebagian pelemahan pasar dipengaruhi sentimen jangka pendek dan derasnya informasi negatif.

“Selain faktor geopolitik dan kenaikan harga minyak global, di dalam negeri saat ini terlalu banyak informasi negatif yang belum tentu kebenarannya sehingga seakan-akan sebuah kebenaran,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Di tengah tekanan tersebut, BEI menyatakan fundamental emiten masih relatif kuat. Pelaksana Tugas Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyebut lebih dari 80 persen perusahaan membukukan laba bersih pada kuartal I-2026.

Sementara kelompok LQ45 mencatat pertumbuhan laba hampir 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

FAQ seputar kenapa IHSG turun

Seberapa besar aksi jual investor asing di pasar saham?

Investor asing mencatat net sell Rp68,50 triliun di pasar reguler sepanjang 2026 hingga awal Juni.

Apa pengaruh pelemahan rupiah terhadap IHSG?

Pelemahan rupiah meningkatkan persepsi risiko investasi dan memicu tekanan terhadap pasar saham.

Mengapa konflik Timur Tengah memengaruhi IHSG?

Ketegangan geopolitik meningkatkan ketidakpastian global sehingga investor mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ana Widiawati
EditorAna Widiawati

Related Articles

See More