Kurs Dolar ke Rupiah Hari Ini Tembus Rp18.031, Apa Penyebabnya?

Nilai tukar rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS, mencatat rekor terlemah akibat tekanan global dan permintaan terhadap dolar.
Pelemahan rupiah dipicu imbal hasil obligasi AS yang tinggi, faktor musiman seperti kebutuhan valas untuk haji, serta konflik geopolitik antara AS dan Iran.
Menkeu Purbaya menegaskan pelemahan rupiah bukan karena kebijakan fiskal buruk, melainkan pengaruh sentimen pasar dan isu eksternal.
Jakarta, FORTUNE — Kurs dolar ke rupiah hari ini menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Investing pada Kamis pagi (4/6), nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp18.031 per dolar AS atau melemah 0,43 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Pelemahan rupiah hingga Rp18.000 terjadi di tengah tekanan global dan domestik. Selain meningkatnya permintaan dolar AS, pasar juga mencermati perkembangan konflik geopolitik hingga berbagai sentimen yang memengaruhi persepsi investor terhadap aset-aset negara berkembang.
Table of Content
Rupiah mencetak rekor terlemah
Sebelum menembus level Rp18.000, rupiah lebih dulu ditutup di Rp17.966,5 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6). Posisi itu sudah menjadi level penutupan terendah yang pernah dicapai rupiah.
Pada pembukaan perdagangan hari yang sama, rupiah masih berada di sekitar Rp17.897 per dolar AS. Namun tekanan berlanjut hingga akhir sesi perdagangan.
Analis pasar keuangan Ibrahim Assuaibi sebelumnya memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS. Proyeksi tersebut kemudian terbukti setelah mata uang domestik menembus batas Rp18.000 pada perdagangan Kamis pagi.
Pergerakan ini terjadi meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate menjadi 5,25 persen. Kenaikan suku bunga yang biasanya mendukung penguatan mata uang belum mampu mengimbangi tekanan eksternal yang masih mendominasi pasar.
Kenapa rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS?
Salah satu faktor yang disebut mendorong pelemahan rupiah adalah tingginya permintaan terhadap dolar AS. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menjelaskan instrumen investasi AS masih menarik bagi investor global.
“Bond-nya Amerika, Amerika US Treasury itu masih lebih menarik, itu juga mempengaruhi, bond juga mempengaruhi,” kata Rizal, dikutip Kamis (4/6).
Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang relatif tinggi membuat arus modal global cenderung mengalir ke aset dolar. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar terhadap berbagai mata uang, termasuk rupiah.
Selain faktor investasi, Rizal menilai terdapat unsur musiman yang turut meningkatkan kebutuhan dolar AS. Pada periode Mei hingga Juni, permintaan valas cenderung naik karena berbagai aktivitas internasional, termasuk perjalanan ibadah haji.
“Kemudian yang ketiga, ini kan musiman. Jadi musiman dalam makna ternyata di bulan Mei, Juni ini permintaan terhadap dolar juga tinggi. Banyak aktivitas katakanlah kalau haji,” ujarnya.
Konflik AS-Iran ikut tekan rupiah
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari faktor geopolitik global. Sejumlah analis menilai ketidakpastian hubungan AS dan Iran masih menjadi salah satu pendorong utama penguatan dolar AS.
Analis mata uang Ariston Tjendra mengatakan konflik kedua negara kembali memicu kekhawatiran pasar, terutama terkait pasokan energi dunia.
“Penggerak utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih soal konflik AS dan Iran. Kabar terbaru, AS dan Iran masing-masing belum sepakat damai, bahkan saling serang yang mendorong kenaikan harga minyak mentah,” ujar Ariston.
Pandangan serupa disampaikan Ibrahim Assuaibi. Menurutnya, pasar masih mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran.
Ketika risiko geopolitik meningkat, investor global umumnya mencari safe haven. Dolar AS menjadi salah satu instrumen yang paling banyak diburu dalam situasi tersebut, sehingga nilainya menguat terhadap mata uang lain.
Purbaya bantah pelemahan rupiah akibat fiskal yang buruk
Di tengah pelemahan rupiah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa kondisi tersebut dipicu kebijakan fiskal pemerintah.
“Banyak yang bilang (rupiah melemah) gara-gara fiskalnya berantakan. Kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur, fiskalnya ugal-ugalan, nggak begitu,” ujar Purbaya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6).
Menurut Purbaya, kondisi fiskal Indonesia saat ini justru lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menyoroti pertumbuhan penerimaan pajak yang disebut sebagai hasil dari reformasi perpajakan.
Ia juga menilai terdapat berbagai rumor yang beredar di pasar dan memengaruhi sentimen investor terhadap rupiah.
“Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau rupiahnya Rp18.000 lebih. Padahal saya nggak pernah (mengatakan) seperti itu. Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen negatif ke rupiah,” ucapnya.
Ia menegaskan pemerintah berfokus menjaga fondasi ekonomi domestik, sementara stabilitas nilai tukar menjadi kewenangan BI sebagai otoritas moneter.
Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang saat ini mencapai Rp18 ribu per dolar AS.
"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Rabu (3/6).
Selain intervensi di pasar keuangan, BI juga mulai memberlakukan aturan baru pembelian valas tunai. Mulai 2 Juni 2026, pembelian valas tunai terhadap rupiah tanpa underlying dibatasi maksimal US$25 ribu per pelaku per bulan.
Di sisi lain, BI terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus meredam risiko gejolak nilai tukar.
Saat ini, kerja sama LCT telah berjalan dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Untuk melengkapi strategi, BI memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar. Menurut Ramdan, sinergi antarlembaga diperlukan untuk memastikan stabilitas pasar keuangan dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional.
FAQ seputar kurs dolar ke rupiah hari ini
| 1 dolar AS berapa rupiah sekarang? | Pada Kamis (4/6) pagi, rupiah sempat menyentuh Rp18.031 per dolar AS. |
| Mengapa rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS? | Pelemahan dipengaruhi tingginya permintaan dolar AS, konflik AS-Iran, dan kuatnya daya tarik US Treasury. |
| Apa langkah Bank Indonesia untuk menjaga rupiah? | BI melakukan intervensi pasar, membatasi pembelian valas tanpa underlying, dan memperluas kerja sama LCT. |
| Apa kata pemerintah soal pelemahan rupiah? | Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah pelemahan rupiah disebabkan kebijakan fiskal yang buruk. |


















