Kurs Dolar ke Rupiah Hari Ini 19 Mei 2026: Anjlok ke Rp17.730

Rupiah melemah ke level Rp17.738 per dolar AS, menjadi posisi terendah baru akibat penguatan dolar global dan volatilitas pasar energi.
Tekanan eksternal seperti konflik AS-Iran dan kenaikan imbal hasil obligasi AS mendorong arus modal keluar serta mempersempit selisih imbal hasil aset rupiah.
Bank Indonesia memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah, dengan cadangan devisa kuat senilai 146,2 miliar dolar AS.
Jakarta, FORTUNE — Kurs dolar ke rupiah hari ini kembali melemah pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Berdasarkan data Google Finance per pukul 12.35 WIB, rupiah menyentuh level Rp17.738 per dolar AS.
Angka tersebut menjadi level rupiah terlemah baru setelah sehari sebelumnya berada di kisaran Rp17.660 per dolar AS.
Pada awal perdagangan, rupiah dibuka melemah 0,11 persen ke level Rp17.675 per dolar AS. Pelemahan kemudian berlanjut hingga menyentuh Rp17.690 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB.
Di tengah tekanan nilai tukar, pasar mulai memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mengambil langkah lebih agresif, termasuk kemungkinan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate.
Table of Content
Penyebab kurs dolar ke rupiah hari ini melemah
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring penguatan dolar AS global dan tingginya volatilitas pasar energi. Indeks dolar AS tercatat masih bertahan di level 99,03, sementara harga minyak mentah dunia berada di kisaran 109,41 dolar AS per barel.
Ketidakpastian terkait konflik AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz turut meningkatkan permintaan aset safe haven seperti dolar AS. Meski terdapat kabar penundaan serangan AS terhadap Iran, harga minyak global tetap bertahan di atas 100 dolar AS per barel.
Kondisi tersebut memicu pelemahan sejumlah mata uang Asia. Rupiah tercatat menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam selain won Korea Selatan dan dolar Taiwan.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai tekanan terhadap rupiah kini mulai menyentuh faktor yang lebih mendasar.
“Dalam situasi seperti ini, bank sentral tidak hanya sedang mengelola inflasi. Bank sentral sedang mempertahankan policy anchor itu sendiri. Ketika pasar mulai mempertanyakan di mana terminal level rupiah, di mana inflation anchor, dan bagaimana koordinasi fiskal-moneter akan berjalan, maka biaya stabilisasi ke depan bisa menjadi jauh lebih mahal,” ujar Fakhrul, dikutip Selasa (19/5).
Selain faktor eksternal, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury juga mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dampak pelemahan rupiah terhadap pasar domestik
Pelemahan rupiah meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan domestik, terutama pada pasar obligasi dan likuiditas perbankan. Selisih imbal hasil aset rupiah dengan risiko pasar dinilai semakin tipis di tengah penguatan dolar AS.
Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi, mengatakan tekanan depresiasi rupiah masih berpotensi berlanjut menuju rentang Rp17.650 hingga Rp17.750 per dolar AS.
“Kami memperkirakan kenaikan BI Rate 25 basis poin (bps) menjadi 5 persen besok, akibat kuatnya tekanan depresiasi terhadap rupiah,” ujar Lionel.
Pelemahan rupiah juga meningkatkan biaya impor, terutama energi dan bahan baku industri. Kondisi tersebut dapat memengaruhi inflasi domestik apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Di sisi lain, pasar mulai mencermati respons kebijakan Bank Indonesia. Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI DPR RI, Gubernur BI Perry Warjiyo memberi sinyal perubahan arah kebijakan moneter.
“Kalau di 2025 monetary policy pada waktu prosperity and growth, maka dengan global seperti ini, monetary policy-nya tidak bisa lagi pro growth. Harus kembali kepada stability,” ujar Perry.
Ia juga menegaskan tekanan global membuat BI perlu menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan lebih agresif.
“Kalau suku bunga dalam negeri tidak naik, ya outflow. Kalau tidak mau outflow, maka suku bunga domestik harus naik,” katanya.
Apa yang perlu dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah?
Bank Indonesia menyatakan posisi cadangan devisa Indonesia masih kuat untuk menjaga ketahanan eksternal dan stabilitas makroekonomi. Hingga akhir April 2026, cadangan devisa tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan posisi tersebut setara dengan sekitar 114 persen standar kecukupan internasional IMF dan mampu membiayai 5,8 bulan impor. Kebijakan stabilisasi nilai tukar terus dilakukan di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global.
Selain intervensi pasar valuta asing, pelaku pasar menilai kebijakan suku bunga menjadi instrumen penting untuk menjaga daya tarik aset rupiah dan mengurangi tekanan arus modal keluar.
Kini, perhatian pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada 19–20 Mei 2026. Keputusan tersebut diproyeksikan menjadi kompas arah kebijakan moneter nasional di tengah gempuran tekanan rupiah dan tingginya volatilitas global.
FAQ seputar kurs dolar ke rupiah hari ini
| Berapa kurs dolar ke rupiah hari ini? | Per 19 Mei 2026 pukul 13.05 WIB, rupiah menyentuh Rp17.735 per dolar AS berdasarkan xe.com. |
| Apa penyebab rupiah melemah hari ini? | Pelemahan rupiah dipicu penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak dunia, dan ketidakpastian geopolitik global. |
| Apakah BI akan menaikkan suku bunga? | Sejumlah analis memperkirakan BI berpotensi menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen. |
| Berapa cadangan devisa Indonesia saat ini? | Cadangan devisa Indonesia per akhir April 2026 tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS. |

















