Bank INA Raih Lonjakan Laba 268%, Ini Pendorongnya

- Bank INA mencatat lonjakan laba bersih 268% menjadi Rp52,98 miliar pada kuartal pertama 2026, didukung pertumbuhan aset dan peningkatan Dana Pihak Ketiga hingga Rp25,04 triliun.
- Pendapatan operasional naik 59% menjadi Rp277 miliar, sementara biaya operasional tercatat Rp175 miliar; rasio CASA meningkat ke level 40,07%, menandakan efisiensi pendanaan yang lebih baik.
- Penyaluran kredit tumbuh 10% mencapai Rp14,78 triliun dengan kualitas kredit terjaga; Bank INA juga memperkuat transformasi digital lewat pengembangan API banking dan aplikasi mobile.
Jakarta, FORTUNE - PT Bank Ina Perdana Tbk (Bank INA) membukukan laba bersih Rp52,98 miliar pada kuartal pertama 2026, naik tajam hingga 268 persen bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Keuangan Bank INA, Kiung Hui Ngo, mengatakan, sepanjang tiga bulan pertama 2026, situasi perekonomian dalam global dan dalam negeri masih menghadapi ketidakpastian. Isu geopolitik hingga domestik, dinilai banyak mempengaruhi dan mengganggu pertumbuhan usaha yang ada di Indonesia, termasuk perbankan.
Meski demikian, fundamental bank masih relatif solid. Hingga Maret 2026, total aset Bank INA misalnya, tercatat Rp31,30 triliun. Aset perseroan tumbuh salah satunya ditopang oleh kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) secara tahunan menjadi Rp 25,04 triliun. Selain itu, Bank INA mencatatkan perbaikan pada struktur pendanaan dengan rasio CASA yang meningkat tajam ke level 40,07 persen dari periode tahun sebelumnya yang sebesar 37,48 persen.
"Dengan optimalisasi aset produktif yang ada, kami masih bisa menumbuhkan pendapatan operasional 59 persen menjadi Rp277 miliar. Pencapaian total pendapatan operasional ini masih sangat mampu menopang biaya operasional yang sebesar Rp175 miliar," ujarnya dalam paparan kinerja perseroan di Jakarta, Rabu (13/5).
Dari sisi intermediasi, realisasi penyaluran kredit Bank INA mencapai Rp14,78 triliun, naik 10 persen dibandingkan Rp13,39 triliun pada periode kuaftal pertama tahun lalu.
Lonjakan tertinggi terjadi pada segmen kredit konsumsi yang tumbuh menjadi Rp1,59 triliun, diikuti oleh kredit investasi dan kredit modal kerja yang masing-masing meningkat Rp4,40 triliun dan Rp8,79 triliun.
Sejalan dengan itu, rasio pinjaman terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) perseroan terjaga pada pada level 59,03 persen.
Adapun, pertumbuhan kredit itu terbilang tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan DPK. Kiung menyebut, untuk dana-dana yang belum bisa disalurkan ke kredit, Bank Ina mengoptimalkan melalui penempatan di Surat Berhaga di Bank Indonesia atau bank lainnya.
"Kalau kita lihat pertumbuhan dana pihak ketiga itu yang lebih tinggi, di level 22 persen dibanding dengan pertumbuhan atau kecepatan penyaluran kredit. Tapi rasio ini juga membuat bahwa likuiditas Bank itu masih sangat baik, masih terjaga dengan optimal," katanya.
Sejalan dengan itu, kualitas kredit terjaga dengan rasio NPL gross 3,13 persen dan NPL net berada di level 1,83 persen.
Dalam hal digitalisasi, entitas group Salim ini juga mengatakan terus mengoptimalkan teknologi digital agar bisnis perusahaan tetap relevan dan mempercepat laju pertumbuhan, di antaranya lewat layanan API banking, aplikasi mobile, hingga perluasan penetrasi pada acceptance business dan internet business.
















