Kurs Dolar ke Rupiah Hari Ini 18 Mei 2026: Tembus Rp17.660

- Rupiah melemah ke sekitar Rp17.660 per dolar AS pada 18 Mei 2026, dipicu penguatan dolar global dan kenaikan imbal hasil obligasi AS.
- Sentimen eksternal seperti negosiasi AS-Iran yang belum tuntas dan lonjakan harga minyak dunia menambah tekanan terhadap mata uang negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
- Pasar memperkirakan tekanan rupiah berlanjut karena ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed meningkat, sementara yield US Treasury mencapai level tertinggi dalam setahun.
Jakarta, FORTUNE — Kurs dolar ke rupiah hari ini menjadi perhatian pasar setelah nilai tukar rupiah dibuka melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (18/5).
Tekanan eksternal yang berasal dari penguatan dolar AS global, kenaikan imbal hasil obligasi AS, hingga meningkatnya tensi geopolitik mendorong rupiah bergerak di zona merah sejak awal perdagangan.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah pada pembukaan perdagangan melemah 0,97 persen ke level Rp17.630 per dolar AS. Pelemahan tersebut berbalik dari posisi penutupan terakhir sebelum libur panjang pada Rabu (13/5), ketika rupiah sempat menguat ke level Rp17.460 per dolar AS.
Sementara itu, data xe.com menunjukkan bahwa per 18 Mei 2026 pukul 10.00 WIB, rupiah menyentuh level Rp17.660 per dolar AS.
Table of Content
Berapa kurs dolar ke rupiah hari ini?
Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan penguatan indeks dolar AS atau DXY. Pada pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS tercatat naik 0,09 persen ke level 99,370. Penguatan dolar global tersebut membatasi ruang penguatan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Data Bloomberg juga menunjukkan rupiah melemah 51 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.648 per dolar AS pada pukul 09.02 WIB di pasar spot exchange. Pada saat yang sama, indeks dolar AS naik 0,06 persen ke level 99,34.
Pergerakan kurs dolar ke rupiah hari ini dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal yang masih membayangi pasar keuangan global. Salah satunya berasal dari proses negosiasi antara AS dan Iran yang belum mencapai titik terang, sehingga meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi faktor tambahan yang menekan mata uang negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
Tekanan global dorong dolar AS menguat
Kenaikan dolar AS terjadi di tengah perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve atau The Fed. Pelaku pasar mulai melihat kemungkinan kenaikan suku bunga kembali terbuka setelah data ekonomi AS menunjukkan tekanan inflasi masih tinggi.
Mengacu pada CME FedWatch, peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember 2026 naik menjadi 48,4 persen. Angka tersebut melonjak dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di level 14,3 persen.
Di saat bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga terus meningkat. Yield US Treasury sempat menyentuh level 4,581 persen, tertinggi dalam satu tahun terakhir. Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap inflasi global serta potensi gangguan pasokan energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Penguatan dolar AS telah berlangsung selama lima hari beruntun pada perdagangan Jumat lalu dan berada di jalur penguatan mingguan terbesar dalam dua bulan terakhir.
Tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh sentimen regional. Mata uang Asia lain tercatat ikut melemah terhadap dolar AS pada perdagangan pagi.
“Pelemahan ini terutama terjadi pada negara pengimpor minyak seperti rupee India (INR) dan peso Filipina (PHP), yang kini menghadapi tekanan ganda dari kenaikan harga minyak dan meningkatnya imbal hasil obligasi AS,” ujar analis senior mata uang MUFG Bank, Michael Wan, dalam laporan risetnya.
Ia juga menyebut rupiah termasuk mata uang yang sensitif terhadap kenaikan yield AS.
Prediksi rupiah masih tertekan
Sejumlah analis memproyeksikan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek apabila sentimen global belum mereda. Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan nilai tukar rupiah masih berpotensi melemah lagi terhadap dolar AS.
“Ya bisa saja di Rp17.800-an, bisa saja di Rp17.850,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (17/5).
Dalam pernyataan sebelumnya, Ibrahim juga menyebut potensi pelemahan rupiah hingga menembus level psikologis baru apabila tekanan eksternal meningkat.
“Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp18.000 akan tembus,” katanya.
Tekanan terhadap rupiah juga terjadi ketika mayoritas mata uang Asia bergerak melemah. Berdasarkan data LSEG, dolar AS naik 0,2 persen terhadap peso Filipina, menguat 0,4 persen terhadap won Korea Selatan, serta naik 0,1 persen terhadap dolar Singapura.
Pergerakan tersebut memperlihatkan penguatan dolar AS terjadi secara luas di pasar global, bukan hanya terhadap rupiah.
Pelaku pasar memantau arah kebijakan The Fed
Pasar saat ini memantau pernyataan sejumlah pejabat The Fed terkait arah kebijakan moneter AS ke depan. Sejumlah pejabat bank sentral AS menegaskan pengendalian inflasi masih menjadi prioritas utama.
Kondisi itu membuat pasar kembali menghitung peluang kenaikan suku bunga lanjutan apabila tekanan harga belum menunjukkan penurunan signifikan.
Situasi tersebut turut memengaruhi arus modal di negara berkembang. Penguatan dolar AS dan naiknya yield obligasi AS berpotensi meningkatkan aliran dana keluar dari pasar emerging markets, termasuk Indonesia.
Di pasar domestik, pelemahan kurs dolar ke rupiah hari ini juga terjadi setelah periode libur panjang, sehingga aktivitas pasar kembali merespons perkembangan global yang terjadi selama beberapa hari terakhir.
FAQ seputar kurs dolar ke rupiah hari ini
| Apa penyebab kurs dolar ke rupiah hari ini melemah? | Pelemahan rupiah dipicu penguatan dolar AS global, kenaikan yield obligasi AS, dan sentimen geopolitik Timur Tengah. |
| Berapa kurs dolar ke rupiah per 18 Mei 2026? | Dilansir xe.com, per 18 Mei 2026 pukul 10.00 WIB, rupiah menyentuh Rp17.660 per dolar AS. |
| Apa faktor yang membuat dolar AS menguat? | Pasar melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed kembali terbuka akibat inflasi AS yang masih tinggi. |
| Apakah mata uang Asia lain juga melemah? | Ya, sejumlah mata uang Asia seperti won Korea Selatan dan peso Filipina turut melemah terhadap dolar AS. |
















