BI Pede Rupiah Kembali Menguat, Ekonom: Pemulihan Bergantung 3 Syarat

- Bank Indonesia memproyeksikan rupiah berpeluang menguat pada Juli–Agustus 2026 setelah tekanan musiman mereda, dengan fokus menjaga volatilitas nilai tukar agar tetap terkendali.
- Ekonom menilai pemulihan rupiah bergantung pada tiga faktor utama: stabilnya harga minyak dunia, imbal hasil obligasi AS yang tidak naik terus, serta konsistensi kebijakan fiskal pemerintah.
- Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI melakukan intervensi terukur di pasar valas dan SBN, mempertahankan suku bunga acuan 4,75 persen, serta memastikan inflasi tetap dalam sasaran.
Jakarta, FORTUNE - Bank Indonesia (BI) memprediksi nilai tukar rupiah berpeluang kembali menguat pada Juli- Agustus 2026 setelah tekanan musiman yang memicu tingginya demand terhadap mata uang dolar mereda. Meski demikian, Ekonom menilai, penguatan rupiah diperkirakan berlangsung bertahap dan pemulihannya sulit berlangsung cepat.
Pada perdagangan Selasa (19/5), rupiah kembali turun 30 poin atau 0,20 persen menyentuh Rp17.704 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp16.668 per dolar AS.
Chief Economist Permata Bank, Joshua Pardede menilai alasan BI meyakini rupiah menguat cukup masuk akal. Karena, pada kuartal II biasanya permintaan dolar AS meningkat akibat kebutuhan pembayaran haji, dividen perusahaan, impor, hingga kewajiban utang pemerintah. Ketika kebutuhan tersebut menurun, tekanan terhadap rupiah juga berpotensi berkurang.
BI sebelumnya mengatakan optimistis rupiah masih dapat bergerak menuju rata-rata sekitar Rp16.500 per dolar AS pada 2026 atau berada dalam kisaran asumsi APBN sebesar Rp16.200-Rp16.800 per dolar AS. Namun, fokus utama bank sentral saat ini dinilai bukan mempertahankan satu level kurs tertentu, melainkan menjaga volatilitas rupiah agar tetap terkendali.
Meski begitu, untuk membuat rupiah kembali perkasa menurutnya sangat bergantung pada tiga syarat: yakni harga minyak dunia yang tidak kembali melonjak, imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang tidak terus naik, serta keyakinan pasar terhadap konsistensi disiplin fiskal dan kepastian kebijakan pemerintah.
“Kejatuhan rupiah beberapa hari terakhir tidak bisa hanya dibaca sebagai faktor musiman. Tekanan saat ini lebih berat karena terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak, kenaikan imbal hasil surat utang Amerika, penguatan dolar AS, kekhawatiran defisit fiskal, tekanan MSCI di pasar saham, serta perubahan prospek peringkat Indonesia oleh Moody’s dan Fitch menjadi negatif,” kata Josua kepada Fortune Indonesia, Selasa (19/5).
Pada 18 Mei 2026, rupiah melemah ke kisaran Rp17.658-Rp17.663 per dolar AS. Di saat yang sama, pasar saham domestik terkoreksi tajam dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke level sekitar 6,82 persen-6,86 persen.
“Artinya, rupiah berpeluang menguat setelah faktor musiman mereda, tetapi pemulihannya kemungkinan tidak kembali cepat ke bawah Rp17.000 jika sentimen global dan domestik belum membaik,” ujarnya.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, langkah yang paling mungkin dilakukan BI saat ini adalah mempertahankan intervensi terukur di pasar valuta asing, menjaga daya tarik instrumen rupiah, serta mengelola pasar SBN agar volatilitas tidak meningkat tajam.
BI telah menyatakan komitmennya untuk tetap hadir di pasar melalui transaksi valas langsung, transaksi valas berjangka di dalam dan luar negeri, serta optimalisasi instrumen moneter guna meredam tekanan terhadap rupiah.
Selain itu, BI juga disebut melakukan penjualan SBN tenor pendek dan pembelian SBN tenor panjang untuk membantu menjaga stabilitas imbal hasil obligasi pemerintah. Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu menenangkan pasar, meski memiliki konsekuensi berupa penggunaan cadangan devisa, pengetatan likuiditas rupiah, tingginya imbal hasil instrumen domestik, serta semakin terbatasnya ruang penurunan suku bunga.
Di sisi lain, BI diperkirakan tetap mempertahankan BI Rate pada level yang mendukung stabilitas rupiah, bahkan membuka peluang pengetatan apabila tekanan terhadap rupiah, harga minyak, dan inflasi meningkat lebih kuat.
Pada April 2026, BI mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen dengan fokus menjaga stabilitas nilai tukar serta memastikan inflasi 2026-2027 tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
“Dalam konteks saat ini, penurunan suku bunga menjadi makin sulit karena dapat memperlemah daya tarik aset rupiah. Sehingga implikasinya bagi ekonomi adalah biaya dana tidak cepat turun, kredit bisa tertahan, dan sektor riil harus menghadapi periode bunga yang relatif tinggi lebih lama,” ujar Josua.
Dengan demikian, dia memperkirakan rupiah memang berpeluang menguat pada Juli ketika tekanan musiman mereda. Meski demikian, penguatan itu tidak akan berkelanjutan tanpa perbaikan sentimen global, stabilisasi harga minyak, dan pemulihan kepercayaan terhadap kebijakan fiskal.
“Langkah BI yang paling mungkin adalah intervensi terukur, menjaga daya tarik aset rupiah, mempertahankan suku bunga, dan mengelola pasar SBN,” pungkas Josua.

















