Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Kurs Dolar ke Rupiah Hari Ini Terpuruk Lagi ke Rp17.700

Kurs Dolar ke Rupiah Hari Ini Terpuruk Lagi ke Rp17.700
ilustrasi rupiah (bi.go.id)
Intinya Sih
  • Rupiah melemah lagi hingga mencapai Rp17.700 per dolar AS pada 22 Mei 2026.

  • Pelemahan rupiah dipicu penguatan dolar global, ketidakpastian geopolitik, dan keluarnya dana asing dari pasar domestik.

  • Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, FORTUNEKurs dolar ke rupiah hari ini kembali melemah dan menembus level Rp17.700 per dolar AS pada Jumat (22/5). Tekanan terus berlanjut di tengah penguatan dolar AS global, ketidakpastian geopolitik, hingga kekhawatiran pasar terhadap ketahanan eksternal Indonesia.

Sesuai data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, rupiah berada di level Rp17.700 per dolar AS atau melemah 0,34 persen. Posisi tersebut lebih rendah dibanding pembukaan perdagangan yang sempat di Rp17.660 per dolar AS sekaligus melanjutkan pelemahan sehari sebelumnya saat rupiah ditutup di Rp17.640 per dolar AS.

Bahkan, pada perdagangan intraday Rabu (20/5), rupiah menyentuh level terendah sepanjang masa di Rp17.760 per dolar AS.

Table of Content

Kenapa kurs dolar ke rupiah hari ini melemah lagi?

Kenapa kurs dolar ke rupiah hari ini melemah lagi?

Tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari global, indeks dolar AS masih bertahan di area tertinggi dalam enam minggu terakhir seiring sikap hawkish Federal Reserve (The Fed) dan meningkatnya risiko geopolitik akibat konflik Iran.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan ketidakpastian konflik Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang menahan optimisme pasar.

“Selat Hormuz sebagian besar tetap tertutup, sehingga harga minyak relatif tetap tinggi meskipun terjadi penurunan tajam awal pekan ini,” ujar Ibrahim dalam risetnya.

Iran juga memperketat kontrol terhadap Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global dan mendorong permintaan aset safe haven seperti dolar AS.

Di sisi lain, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi AS tetap tinggi.

“Risalah tersebut menyoroti kekhawatiran yang semakin dalam di antara para pejabat Fed tentang tekanan inflasi yang disebabkan oleh perang Iran,” tulis Ibrahim.

Faktor domestik ikut menekan rupiah

Dari dalam negeri, pasar mencermati rilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2026 untuk menilai ketahanan eksternal Indonesia di tengah tekanan global.

Pada kuartal IV-2025, transaksi berjalan Indonesia tercatat defisit 2,5 miliar dolar AS atau 0,7 persen dari PDB. Kondisi itu berbalik dibanding kuartal sebelumnya yang masih mencatat surplus.

Investor juga mencermati kebijakan pemerintah terkait ekspor komoditas strategis. Stockbit menilai sistem ekspor satu pintu lewat BUMN untuk komoditas seperti batu bara dan minyak sawit justru meningkatkan kehati-hatian pelaku pasar.

S&P Global Ratings sebelumnya menilai kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi ekspor dan neraca pembayaran Indonesia. Sementara Moody’s menyebut kebijakan itu dapat membantu devisa, namun berisiko menambah distorsi pasar.

Selain itu, arus dana asing keluar dari pasar saham dan obligasi domestik turut menekan rupiah. IDX Channel mewartakan pasar saham Indonesia mengalami net foreign outflow Rp544,9 miliar pada perdagangan Kamis (21/5).

BI Rate naik jadi 5,25 persen

Di tengah tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 19–20 Mei 2026. Tujuannya untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengantisipasi tekanan inflasi.

“Hasil RDG Bank Indonesia pada 19-20 Mei 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo, Rabu (20/5).

Kenaikan suku bunga acuan tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik, terutama setelah rupiah terus melemah dan menyentuh level terendah.

Selain menaikkan suku bunga, BI juga memperkuat intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.

Menurut Perry, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, termasuk penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik global.

Rupiah jadi salah satu mata uang terlemah di Asia

Menurut Stockbit, rupiah menjadi salah satu mata uang dengan performa terburuk di Asia sepanjang 2026. Hingga Mei 2026, rupiah telah melemah sekitar 5,6 persen secara year to date (YTD).

Tekanan terhadap rupiah juga terjadi bersamaan dengan pelemahan IHSG dan rebalancing indeks global MSCI yang memicu aksi jual investor asing di pasar domestik.

Pelaku pasar kini menunggu data Neraca Pembayaran Indonesia serta langkah lanjutan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah volatilitas global yang masih tinggi.

FAQ seputar kurs dolar ke rupiah hari ini

Berapa kurs dolar ke rupiah hari ini?

Per 22 Mei 2026 pukul 09.15 WIB, rupiah berada di level Rp17.700 per dolar AS.

Kenapa rupiah melemah lagi?

Pelemahan dipicu penguatan dolar AS, konflik Iran, harga minyak tinggi, dan arus keluar dana asing.

Apakah BI sudah menaikkan suku bunga?

Ya, BI menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

Apa dampak pelemahan rupiah?

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor dan menekan pasar keuangan domestik.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ana Widiawati
EditorAna Widiawati

Related Articles

See More