Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Rupiah Melemah hingga Rp17.700 per Dolar AS?

Kenapa Rupiah Melemah hingga Rp17.700 per Dolar AS?
ilustrasi rupiah (unsplash.com/Naufal Jajuli)
Intinya Sih

  • Rupiah melemah ke Rp17.700 per dolar AS akibat kombinasi tekanan global dan domestik, serta arus modal keluar dari negara berkembang.

  • Kondisi domestik seperti belanja pemerintah besar, subsidi energi meningkat, dan pertumbuhan impor lebih cepat dari ekspor mempersempit ruang penguatan rupiah.

  • Kepercayaan pasar terhadap kebijakan ekonomi dan komunikasi pejabat publik menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas rupiah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE — Nilai tukar rupiah menembus level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (19/5). Kondisi ini memicu pertanyaan publik tentang kenapa rupiah melemah dalam beberapa waktu terakhir.

Pelemahan ini dinilai bukan sekadar dampak dari gejolak global, melainkan akumulasi dari berbagai faktor. Melalui kanal YouTube pribadinya, kreator konten sekaligus aktivitis Ferry Irwandi menilai pelemahan nilai tukar rupiah saat ini memiliki karakteristik yang jauh berbeda dengan krisis moneter 1998.

Table of Content

Tekanan eksternal melemahkan rupiah

Tekanan eksternal melemahkan rupiah

Tekanan terjadi secara bertahap, bukan akibat satu guncangan besar dalam waktu singkat. Namun, kombinasi faktor global dan domestik membuat rupiah terus berada dalam tekanan.

Ferry Irwandi menjelaskan pelemahan rupiah tidak dapat dipahami hanya dari satu sisi. Terdapat tiga lapisan utama yang saling berkaitan, yakni:

  1. Faktor eksternal
  2. Kondisi domestik
  3. Kepercayaan pasar terhadap kebijakan ekonomi pemerintah.

Faktor pertama berasal dari kondisi global. Suku bunga bank sentral AS atau The Fed yang masih tinggi membuat dolar AS tetap menjadi aset safe haven bagi investor global. Situasi geopolitik di Timur Tengah juga memperkuat arus perpindahan modal ke dolar AS.

Dalam kondisi tersebut, modal asing cenderung keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Ferry menyebut fenomena ini tidak hanya terjadi pada rupiah, melainkan juga mata uang negara berkembang lain.

“Memang dolar itu lagi kuat-kuatnya. Kenapa dolar lagi kuat-kuatnya? Karena dunia lagi enggak baik-baik saja dan orang butuh safe heaven,” ujar Ferry, dikutip Senin (18/5).

Arus modal keluar itu memperbesar tekanan terhadap rupiah karena permintaan dolar meningkat di pasar global. Investor memilih instrumen berbasis dolar yang dianggap lebih stabil di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Faktor domestik memperberat tekanan rupiah

Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kondisi domestik. Ferry menyoroti besarnya belanja pemerintah, peningkatan subsidi energi, serta tingginya kebutuhan impor sebagai faktor yang mempersempit ruang penguatan rupiah.

Ia mengungkapkan pertumbuhan impor Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor. Data BPS mencatat nilai impor kuartal I-2026 menembus 61,30 miliar dolar AS atau naik 10,05 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, kinerja ekspor hanya merangkak naik 0,34 persen menjadi 66,85 miliar dolar AS. Ketimpangan tersebut membuat kebutuhan dolar meningkat, terutama untuk pembayaran impor bahan baku, energi, hingga komponen industri.

“Pertumbuhan ekspor kita melambat, beban subsidi semakin besar, belanja pemerintah semakin besar, sementara pendapatan negara kita enggak ngejar,” kata Ferry.

Berdasarkan dokumen APBN Kita, total belanja pemerintah pusat mencapai Rp610 triliun pada kuartal I 2026. Di sisi lain, subsidi energi meningkat signifikan sehingga memperbesar tekanan fiskal ketika rupiah melemah.

Ferry menilai pelemahan rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada Bank Indonesia. Stabilitas kurs dipengaruhi kebijakan fiskal, moneter, hingga arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Kepercayaan pasar jadi faktor lain kenapa rupiah melemah

Lapisan ketiga yang dinilai menjadi alasan kenapa rupiah melemah adalah kepercayaan pasar. Pasar kini semakin sensitif terhadap konsistensi komunikasi pemerintah dan kredibilitas kebijakan ekonomi.

Ferry mengkritik kecenderungan pejabat yang membandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan negara maju tanpa mempertimbangkan perbedaan skala ekonomi.

Menurutnya, narasi yang terlalu optimistis justru dapat mengurangi kepercayaan pasar apabila tidak disertai penjelasan objektif mengenai kondisi ekonomi sebenarnya.

Pandangan serupa juga disampaikan Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Ia mengatakan komunikasi pejabat publik memiliki pengaruh besar terhadap persepsi pasar.

“Di ekonomi modern, kata-kata pejabat tinggi itu sudah jadi instrumen kebijakan tersendiri,” ujar Yusuf, Sabtu (16/5).

Pasar keuangan biasanya merespons cepat terhadap sinyal kebijakan maupun pernyataan pejabat negara, terutama terkait stabilitas rupiah dan inflasi.

Empat langkah untuk menahan pelemahan rupiah

Dalam analisisnya, Ferry menyebut terdapat empat langkah yang dapat membantu menahan tekanan terhadap rupiah, mencakup:

  1. Memperbaiki komunikasi publik agar lebih objektif dan berbasis data.
  2. Membenahi struktur APBN melalui efisiensi belanja pemerintah dan penguatan ruang fiskal.
  3. Meningkatkan insentif bagi devisa hasil ekspor (DHE) agar lebih banyak dolar parkir di dalam negeri.
  4. Memperkuat koordinasi antara BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kementerian Keuangan agar kebijakan fiskal dan moneter berjalan selaras.

Ferry menegaskan pelemahan rupiah saat ini bukan krisis mendadak seperti 1998. Meski tidak sama, tapi tekanan yang terjadi tetap perlu direspons melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel.

FAQ seputar kenapa rupiah melemah

Apa pengaruh suku bunga The Fed terhadap rupiah?

Suku bunga The Fed yang tinggi membuat investor memilih aset dolar AS sehingga modal keluar dari negara berkembang.

Mengapa impor memengaruhi nilai tukar rupiah?

Kenaikan impor meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran barang dari luar negeri.

Apa langkah yang dinilai bisa menahan pelemahan rupiah?

Perbaikan komunikasi kebijakan, efisiensi APBN, penguatan DHE, dan sinergi antar lembaga ekonomi.

Rupiah anjlok, apa dampaknya?

Pelemahan rupiah bisa berdampak langsung pada harga barang impor, harga bahan pangan, dan barang elektronik.

Berapa 1$ jika di rupiah kan?

Pada Mei 2026 ini, dolar AS (US$1) sekitar Rp17.700.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ana Widiawati
EditorAna Widiawati

Related Articles

See More