Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Strategi Investasi saat IHSG Turun agar Portofolio Aman

5 Strategi Investasi saat IHSG Turun agar Portofolio Aman
ilustrasi IHSG (freepik.com/Wirestock)
Intinya Sih
  • IHSG melemah ke level 5.866 akibat aksi jual investor asing dan isu kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah.

  • Hans Kwee menyoroti faktor eksternal seperti konflik geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia yang turut menekan pasar.

  • Investor disarankan menghidanri panic selling, menerapkan averaging, fokus pada analisis fundamental, serta diversifikasi dan rebalancing.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Kamis (4/6). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG dibuka melemah 0,36 persen ke level 5.919,57 dan sempat melemah ke area 5.866.

Pelemahan tersebut melanjutkan tren hari sebelumnya, yang mana IHSG ditutup di level 5.941 dan mencapai posisi terendah sejak 2021. Di saat yang sama, nilai tukar rupiah juga terus mendekati level psikologis Rp18.031 per dolar AS.

Di tengah kondisi tersebut, investor dihadapkan pada tantangan untuk mengelola portofolio tanpa terburu-buru mengambil keputusan. Sehingga, dibutuhkan strategi investasi saat IHSG turun dan rupiah melemah.

Table of Content

Mengapa IHSG turun ke level terendah?

Mengapa IHSG turun ke level terendah?

Pelemahan IHSG dalam beberapa pekan terakhir tidak lepas dari meningkatnya aksi jual investor asing. Praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, menilai faktor utama yang membebani pasar saat ini adalah isu kepercayaan investor terhadap arah kebijakan pemerintah.

"Asing itu kan memang jualan terus di pasar kita. Sebenarnya (masalah) kita itu bukan masalah fundamental tapi trust issue (isu kepercayaan) gitu ya. Jadi kita pikir asing itu enggak trust dengan (pemerintah) kita, itu masalahnya," kata Hans, Rabu (3/6).

Meski demikian, Hans menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 tercatat 5,61 persen, inflasi tetap terkendali, dan kondisi fiskal menunjukkan perbaikan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Dari sisi eksternal, pasar menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Belum lagi tngginya harga minyak dunia serta kecenderungan investor global mengalihkan dana ke aset negara maju dengan imbal hasil lebih menarik.

Strategi investasi saat IHSG turun

Dalam kondisi pasar yang bergejolak, sejumlah langkah berikut dapat menjadi pertimbangan bagi investor untuk mengelola portofolio secara lebih terukur.

1. Hindari panic selling saat IHSG melemah

Penurunan harga saham sering memicu keputusan emosional. Namun, menjual aset ketika pasar sedang tertekan justru berpotensi mengubah unrealized loss atau kerugian di atas kertas menjadi kerugian yang benar-benar terjadi.

Investor perlu memahami perbedaan antara penurunan nilai portofolio yang sementara dan kerugian yang sudah direalisasikan. Selama saham belum dijual, masih ada peluang bagi harga untuk pulih seiring membaiknya sentimen pasar dan kondisi ekonomi.

2. Evaluasi kembali tujuan investasi

Koreksi pasar dapat menjadi momentum untuk meninjau kembali strategi investasi yang telah disusun. Pastikan dana yang ditempatkan di pasar saham merupakan dana jangka panjang.

Selain itu, periksa kondisi keuangan pribadi, termasuk kecukupan dana darurat dan kemampuan memenuhi kewajiban rutin. Dengan demikian, keputusan investasi tidak didorong oleh tekanan kebutuhan likuiditas jangka pendek.

3. Terapkan strategi averaging

Saat harga saham turun, sebagian investor memilih menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) atau investasi rutin dalam jumlah tetap. Ini memungkinkan investor membeli lebih banyak saham ketika harga sedang rendah, sehingga bisa menurunkan rata-rata harga beli portofolio dalam jangka panjang.

Strategi averaging juga membantu mengurangi risiko kesalahan dalam menentukan waktu masuk pasar. Alasannya, investor tidak perlu menebak titik terendah IHSG yang sulit diprediksi.

4. Utamakan analisis fundamnetal

Koreksi pasar sering membuat valuasi sejumlah saham menjadi lebih murah, tapi kondisi tersebut tidak berarti semua saham layak dibeli. Investor tetap harus selektif dengan memprioritaskan emiten yang memiliki kinerja keuangan solid, laba konsisten, arus kas sehat, serta tingkat utang terjaga.

Hans Kwee menilai valuasi IHSG saat ini sudah relatif menarik jika dilihat dari forward price to earnings ratio (P/E). Meski demikian, analisis fundamental tetap diutamakan sebelum mengambil keputusan investasi.

5. Diversifikasi dan rebalancing

Strategi investasi saat IHSG turun berikutnya adalah mengevaluasi komposisi portofolio. Periksa apakah investasi terkonsentrasi pada sektor tertentu atau sudah tersebar di berbagai aset (diversifikasi).

Selain itu, lakukan rebalancing dengan mengembalikan porsi investasi sesuai target awal. Strategi ini dapat menjaga profil risiko portofolio tetap sesuai tujuan investasi.

Hal yang perlu dihindari saat IHSG turun

Selain memahami strategi investasi saat IHSG turun, investor juga perlu menghindari beberapa tindakan yang berpotensi meningkatkan risiko, di antaranya:

  1. Mengalihkan seluruh portofolio ke kas saat pasar sedang turun karena dapat kehilangan peluang ketika pasar mulai pulih.
  2. Menggunakan dana darurat untuk membeli saham secara agresif.
  3. Mengambil keputusan berdasarkan rumor atau rekomendasi yang tidak memiliki dasar analisis yang jelas.

Koreksi pasar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari siklus investasi. Jadi, meski penurunan IHSG dan pelemahan rupiah memicu kekhawatiran, investor harus berpegang pada tujuan investasi jangka panjang.

FAQ seputar strategi investasi saat IHSG turun

Apa penyebab IHSG turun pada Juni 2026?

IHSG tertekan oleh aksi jual investor asing, sentimen kebijakan, dan faktor global seperti konflik geopolitik.

Apakah investor sebaiknya menjual saham saat IHSG turun?

Tidak sedikit investor memilih menahan saham dan menghindari keputusan yang didorong kepanikan.

Apa itu strategi averaging?

Averaging adalah membeli saham secara bertahap untuk menurunkan rata-rata harga beli investasi.

Mengapa diversifikasi penting saat pasar turun?

Diversifikasi membantu mengurangi risiko karena investasi tidak terpusat pada satu sektor atau aset.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ana Widiawati
EditorAna Widiawati

Related Articles

See More