Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Dolar AS Tembus Rp18.100, Rupiah Semakin Tertekan

Dolar AS Tembus Rp18.100, Rupiah Semakin Tertekan
ilustrasi rupiah (unsplash.com/Naufal Jajuli)
Intinya Sih

  • Rupiah melemah ke Rp18.100 per dolar AS, menjadi yang terlemah di Asia dan mencatat rekor terendah sepanjang sejarah.
  • Pelemahan dipicu data ketenagakerjaan AS yang kuat, konflik Timur Tengah, serta ekspektasi suku bunga tinggi The Fed.
  • Analis menilai Bank Indonesia perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga 50–100 basis poin untuk menjaga stabilitas rupiah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada pembukaan perdagangan Senin (8/6), rupiah melemah ke level Rp18.132 per dolar AS atau turun 0,53 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Data Refinitiv menunjukkan pada pukul 09.07 WIB, atau tujuh menit setelah perdagangan dibuka, rupiah sudah di level Rp18.100 per dolar AS. Posisi tersebut mencerminkan depresiasi sekitar 0,50 persen terhadap dolar AS.

Dibandingkan mata uang negara lain di Asia, depresiasi rupiah tercatat paling besar. Peso Filipina melemah 0,20 persen, dolar Taiwan turun 0,13 persen, baht Thailand terkoreksi 0,08 persen, yen Jepang melemah 0,07 persen, dan ringgit Malaysia turun 0,04 persen.

Table of Content

Data ketenagakerjaan AS tekan rupiah

Data ketenagakerjaan AS tekan rupiah

Pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS di pasar global. Sentimen muncul usai perilisan data ketenagakerjaan AS, yang dinilai lebih baik dari perkiraan pelaku pasar.

Analis pasar uang, Lukman Leong, mengatakan kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam setelah data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan," ujar Lukman, Senin (8/6).

Konflik Timur Tengah perkuat dolar AS

Menurut Lukman, eskalasi baru di Timur Tengah juga menekan rupiah. Hal ini sejalan dengan pernyataan pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi.

Ia menilai konflik tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan berbagai instrumen keuangan global.

"Apa sih yang mempengaruhi fluktuasi indeks dolar, harga minyak mentah, rupiah, kemudian emas dunia dan logam mulia? Salah satunya adalah tentang masalah geopolitik," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (7/6).

Perhatian pasar saat ini tertuju pada meningkatnya tensi antara AS dan Iran yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah. Kondisi itu turut meningkatkan volatilitas pasar keuangan dan memperkuat posisi dolar AS.

Di sisi lain, risiko gangguan pasokan energi akibat memanasnya situasi geopolitik juga menjadi perhatian investor. Kenaikan harga minyak dan energi bisa mendorong inflasi global.

Pengaruh ekspektasi suku bunga The Fed

Setelah data ekonomi AS menunjukkan ketahanan yang kuat, pelaku pasar menilai peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama.

Ibrahim Assuaibi mengatakan kondisi tersebut berpotensi menjadi sentimen tambahan yang mendorong penguatan dolar AS.

"Kemudian kebijakan Bank Sentral Amerika sendiri, kita lihat bahwa data tenaga kerja yang dirilis di hari Jumat ini lebih baik, lebih bagus, dan ini pun juga membuat Bank Sentral Amerika kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi dan akan menaikkan suku bunga di kuartal ketiga, di kuartal keempat," tambahnya.

Suku bunga AS yang tinggi umumnya meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar karena menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif. Akibatnya, aliran modal berpotensi keluar dari negara berkembang dan menekan nilai tukar mata uang domestik.

BI perlu ambil kebijakan

Di tengah tekanan eksternal, sejumlah pelaku pasar mulai menyoroti langkah kebijakan yang dapat ditempuh Bank Indonesia (BI). Lukman menilai belum ada sentimen domestik yang cukup kuat untuk menopang penguatan rupiah dalam jangka pendek.

"Belum ada sentimen domestik yang mendukung penguatan rupiah. BI harus segera melakukan pertemuan darurat untuk menaikkan suku bunga," katanya.

Menurut Lukman, kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 hingga 100 basis poin dapat menjadi opsi untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memperkuat kepercayaan pasar.

Sementara itu, pasar masih mencermati berbagai perkembangan global yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan dolar AS dan rupiah dalam beberapa pekan ke depan.

Sebagai catatan, dolar AS tembus Rp18.100 menandakan rupiah kembali mencapai terlemah sepanjang sejarah. Posisi tersebut juga lebih lemah dibandingkan kurs rupiah saat krisis 1998 (Rp16.800 per dolar AS) dan pada periode awal pandemi Covid tahun 2020 (Rp16.367 per dolar AS).

FAQ seputar dolar AS tembus Rp18.100

Berapa kurs rupiah terhadap dolar AS pada 8 Juni 2026?

Rupiah dibuka melemah ke level Rp18.132 per dolar AS.

Apa penyebab rupiah mencapai Rp18.132 per dolar AS?

Penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik Timur Tengah, dan ekspektasi suku bunga tinggi The Fed.

Mengapa konflik Timur Tengah memengaruhi rupiah?

Karena investor cenderung beralih ke aset aman seperti dolar AS saat risiko geopolitik meningkat.

Apa saran yang muncul terkait kebijakan BI?

Sejumlah analis menilai BI perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ana Widiawati
EditorAna Widiawati

Related Articles

See More