Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Bitcoin Hadapi Oktober Volatil, Level US$87.000 Jadi Sorotan Industri

4 min read
Bitcoin Hadapi Oktober Volatil, Level US$87.000 Jadi Sorotan Industri
ilustrasi crypto bitcoin, kripto (pexels.com/DS stories)
  • Bitcoin memasuki Oktober 2026 dengan potensi volatilitas, meski historisnya menguat dalam 10 dari 15 Oktober terakhir dan mencatat median return 11,2%.
  • Inflow ETF Bitcoin spot mencapai US$2,98 miliar selama tujuh sesi, tetapi melambat pada 25 September; BTC perlu menembus US$84.433 dan resistance US$87.360.
  • Data ekonomi AS, yield Treasury, serta posisi long leverage US$4,35 miliar menjadi faktor risiko; penembusan support US$80.811 dapat membuka koreksi menuju US$74.957.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Pergerakan Bitcoin (BTC) memasuki Oktober 2026 berada dalam perhatian pelaku pasar. Meski secara historis bulan tersebut kerap memberikan kinerja positif bagi Bitcoin, sejumlah indikator menunjukkan volatilitas masih berpotensi mewarnai perdagangan aset kripto terbesar tersebut.

Dalam 15 periode Oktober terakhir, Bitcoin tercatat menguat sebanyak 10 kali dengan median return sekitar 11,2%. Setelah September berakhir positif, Bitcoin juga membukukan kenaikan dalam empat dari enam periode Oktober berikutnya.

Namun, pola historis tersebut belum serta-merta menjadi indikasi bahwa Bitcoin akan kembali menguat pada Oktober tahun ini. Salah satu faktor yang dicermati adalah perkembangan arus dana ke produk spot Bitcoin ETF.

Data internal FLOQ menunjukkan ETF Bitcoin spot mencatatkan inflow selama tujuh sesi beruntun sejak 17 September dengan nilai total sekitar US$2,98 miliar. Meski demikian, arus dana pada 25 September hanya mencapai US$134,47 juta, turun jauh dari rekor harian US$998,95 juta pada 21 September.

Dari perspektif teknikal, Bitcoin perlu kembali menembus area US$84.433 sebelum berpeluang menguji level resistance berikutnya. Sementara itu, US$87.360 menjadi salah satu resistance penting setelah BTC sebelumnya gagal mempertahankan momentum di area tersebut.

Di sisi bawah, penurunan hingga menembus US$80.811 berpotensi membuka ruang koreksi menuju sekitar US$74.957. Adapun zona US$82.900-US$83.000 menjadi support yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan tren jangka pendek. Selama area tersebut mampu bertahan, Bitcoin masih memiliki ruang untuk bergerak menuju kisaran US$88.600-US$92.200. Sebaliknya, pelemahan yang berlanjut di bawah zona support tersebut dapat meningkatkan risiko koreksi yang lebih dalam.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, melihat Oktober sebagai periode yang cukup menentukan bagi Bitcoin karena pasar akan menguji keberlanjutan momentum yang terbentuk pada September.

“Memasuki Oktober, Bitcoin berada di fase yang cukup krusial. Secara historis, Oktober memang sering menjadi periode positif bagi Bitcoin, tetapi kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa investor perlu melihat konfirmasi dari sisi arus dana ETF, likuiditas, dan respons harga terhadap level resistance utama,” kata Yudho, dalam pernyataan tertulis kepada Fortune Indonesia, Selasa (29/9).

Menurutnya, jika Bitcoin mampu mempertahankan area support dan kembali mendapatkan dorongan dari arus dana institusional, peluang untuk melanjutkan momentum kenaikan masih terbuka. Namun, volatilitas tetap perlu diantisipasi karena posisi leverage yang cukup besar dapat mempercepat pergerakan harga ketika terjadi breakout maupun koreksi.

Selain indikator teknikal dan arus dana ETF, perkembangan Bitcoin pada awal Oktober juga akan dipengaruhi oleh sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat. Yudho mencatat Bitcoin berada di sekitar US$83.000 pada 28 September, sementara US$85.000 menjadi resistance dan US$80.000 sebagai support utama. Pada periode yang sama, yield Treasury AS bertenor 10 tahun berada di sekitar 5,15 persen, sehingga tekanan terhadap aset berisiko masih menjadi perhatian.

Sejumlah data ekonomi penting akan dirilis pada pergantian September menuju Oktober. Data PCE AS dijadwalkan keluar pada 30 September, diikuti initial jobless claims pada 1 Oktober dan laporan ketenagakerjaan AS untuk September pada 2 Oktober.

Rangkaian data tersebut akan menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

“Laporan pekerjaan yang lebih lemah dari perkiraan, misalnya, dapat meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan berpotensi memberikan ruang bagi aset berisiko seperti Bitcoin. Sebaliknya, data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan dapat mempertahankan tekanan dari yield obligasi dan dolar AS,” ujarnya.

  1. Posisi leverage tingkatkan risiko

    Selain perkembangan makroekonomi, struktur leverage di pasar Bitcoin juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Peta likuidasi 30 hari menunjukkan posisi long Bitcoin mencapai sekitar US$4,35 miliar hingga area US$74.179. Nilai tersebut lebih besar dibandingkan posisi short yang berada di sekitar US$1,65 miliar.

    Komposisi tersebut membuat Bitcoin masih rentan terhadap aksi likuidasi apabila terjadi penurunan harga secara tajam. Risiko leverage juga menjadi perhatian setelah Bitcoin mengalami pergerakan ekstrem pada Oktober 2025. Pada 10 Oktober tahun lalu, lebih dari US$19 miliar posisi leverage tercatat dilikuidasi dalam satu hari.

    Di tengah risiko tersebut, tekanan jual dari pemegang Bitcoin jangka panjang belum sepenuhnya mendominasi pasar. Indikator Hodler Net Position Change kembali berada di zona positif sejak 31 Agustus. Posisi tersebut meningkat dari 16.415 BTC pada 25 September menjadi 23.172 BTC pada 27 September.

    Menurut Yudho, arah pergerakan Bitcoin pada Oktober akan banyak ditentukan oleh kombinasi permintaan institusional, kondisi ekonomi makro, serta struktur leverage pasar.

    “Oktober kemungkinan bukan hanya soal apakah Bitcoin naik atau turun, tetapi seberapa kuat demand yang menopang pergerakan tersebut. Jika arus ETF kembali menguat dan Bitcoin mampu melewati resistance utama dengan volume yang sehat, pasar bisa mendapatkan konfirmasi bahwa momentum masih berlanjut. Sebaliknya, jika inflow melemah sementara tekanan dari yield dan posisi leverage meningkat, risiko koreksi perlu diperhitungkan,” ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More