Jakarta, FORTUNE — Bitcoin (BTC) kembali bergerak di atas US$80.000 meski pasar aset berisiko masih menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) dan penguatan dolar AS. Pergerakan tersebut membuat level US$80.000 kembali menjadi perhatian pasar setelah BTC sempat terkoreksi hingga sekitar US$82.500.
Mengutip data CoinMarketCap, harga Bitcoin naik 0,45 persen menjadi US$83.801. Pada perdagangan sebelumnya, aset kripto tersebut sempat menyentuh level terendah US$82.516.
Posisi tersebut masih berada di bawah level tertinggi Bitcoin pada pekan sebelumnya yang mencapai sekitar US$87.315.
Tekanan terhadap aset berisiko datang ketika imbal hasil surat utang pemerintah AS terus meningkat. Imbal hasil Treasury 30 tahun sempat mencapai 5,58 persen, sementara Treasury 10 tahun berada di sekitar 5,26 persen, yang merupakan level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi pasar tersebut turut memengaruhi aset lindung nilai tradisional. Harga emas terkoreksi hampir 4 persen pada Senin, 28 September, sebelum bergerak di kisaran US$4.150 per troy ounce pada hari berikutnya.
Di tengah tekanan tersebut, kemampuan Bitcoin mempertahankan harga di atas US$80.000 menjadi perhatian karena level itu sebelumnya dipandang sebagai area resistensi penting.
Melansir CoinDesk, Direktur Global Macro Fidelity Investments, Jurrien Timmer, melihat peluang teknikal yang lebih positif apabila Bitcoin mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut. Ia menyebut penembusan US$80.000 dapat mengonfirmasi pola double bottom. Secara teknikal, pola tersebut memiliki potensi target menuju US$100.000.
Dalam analisisnya, Timmer mengidentifikasi dua titik terendah Bitcoin di sekitar US$60.033 dan US$57.742. Di antara kedua titik tersebut terdapat area puncak sekitar US$82.800.
Double bottom merupakan pola grafik yang menyerupai huruf W. Pola ini umumnya digunakan untuk membaca kemungkinan perubahan tren ketika harga berhasil melewati level resistensi yang terbentuk di antara dua titik terendah.
Artinya, jika Bitcoin mampu mempertahankan momentum di atas area tersebut, struktur teknikal yang terbentuk dapat memberikan ruang bagi kenaikan menuju level yang lebih tinggi.
Namun, pola grafik tersebut tetap bukan jaminan bahwa harga Bitcoin akan mencapai US$100.000. Aset kripto masih menghadapi potensi pergerakan tajam karena dipengaruhi kondisi ekonomi global, likuiditas, serta sentimen investor terhadap aset berisiko.
Ekspektasi terhadap harga yang lebih tinggi juga tercermin di pasar derivatif Bitcoin. Data dalam laporan pasar, call option Bitcoin dengan strike price US$90.000, US$95.000, dan US$100.000 termasuk kontrak yang memiliki open interest besar di bursa Deribit.
Call option merupakan kontrak yang memberikan hak, tetapi bukan kewajiban, kepada pemegangnya untuk membeli aset pada harga tertentu. Besarnya open interest pada sejumlah level tersebut menunjukkan adanya posisi pasar yang terkonsentrasi pada harga-harga tersebut.
Meski demikian, posisi pada pasar opsi tidak otomatis berarti harga Bitcoin akan mencapai level strike tersebut. Kontrak derivatif dapat digunakan untuk berbagai strategi, termasuk lindung nilai dan spekulasi.
Sementara itu, analis Bitfinex menilai Bitcoin masih membutuhkan dorongan dari permintaan spot yang kuat untuk dapat kembali melewati US$87.000.
Permintaan spot menjadi penting karena kenaikan yang didukung transaksi pasar spot menunjukkan adanya pembelian aset secara langsung, bukan semata-mata aktivitas di pasar derivatif.
Dengan Bitcoin saat ini bertahan di atas US$80.000 tetapi masih berada di bawah level US$87.000, perhatian pasar selanjutnya tertuju pada kemampuan BTC mempertahankan area tersebut sekaligus membangun permintaan baru. Pergerakan imbal hasil Treasury AS, likuiditas global, aktivitas pasar spot, serta posisi di pasar opsi akan menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi arah Bitcoin berikutnya.
