Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
BNI Sekuritas Proyeksi IHSG 2026 Capai 10.800 dalam Skenario Bullish
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman.

Jakarta, FORTUNE - BNI Sekuritas memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh kisaran level 7.200 sampai dengan 10.800 pada 2026.

Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, mengatakan, target tersebut mempertimbangkan aspek valuasi indeks acuan saham itu. Dalam skenario base, IHSG diprediksi mencapai level 9.200 atau menguat 6 persen, dengan implikasi price to earnings (P/E) 12,7 kali. Sementara dalam skenario bear dan bull, implikasi P/E IHSG masing-masing adalah 10,3 kali dan 14,5 kali.

"Dari segi P/E maupun price to book value (P/BV) ini masih cukup murah. Untuk P/E misalnya, masih dekat sekitar minus 2 standar deviasi di bawah rata-rata. Level ini hampir tidak pernah dilihat hampir 20 tahun," kata Fanny di acara Ramadhan market Update BNI Sekuritas, dikutip Kamis (12/3).

Dari segi pertumbuhan pendapatan emiten, BNI Sekuritas memperkirakan angkanya akan bertumbuh sebesar 9,1 persen pada skenario base. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan pendapatan emiten dalam skenario bear dan bull masing-masing sebesar 5 persen dan 12 persen.

Secara sektor, BNI Sekuritas menyoroti saham-saham sektor komoditas dan yang berkaitan dengan sektor consumer.

"Kalau komoditas, belakangan yang lumayan naik secara signifikan itu adalah emas, nikel, batu bara. Sementara untuk consumer, kami melihatnya dari segi indeks kepercayaan konsumen mulai naik. Dari segi RSI (retail sales index), juga sudah mulai naik, apalagi jelang lebaran," kata Fanny.

Lebih lanjut, daftar saham yang masuk pilihan BNI Sekuritas dari kedua sektor tersebut, yakni: ANTM, INCO, ADMR, NCKL, AADI, dan UNTR; serta CMRY, MYOR, MAPI, dan MPPA.

Lebih lanjut, BNI Sekuritas juga menggarisbawahi sejumlah sentimen IHSG yang mesti investor perhatikan, yakni: potensi penurunan suku bunga the Fed dan Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah terhadap dolar, risiko inflasi, serta kondisi fiskal Amerika Serikat (AS).

Editorial Team