Jakarta, FORTUNE - DBS Group Research memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa mencapai level 9.500 hingga akhir 2026.
Bersama dengan proyeksi itu, DBS Group Research juga tetap mempertahankan pandangan overweight terhadap pasar saham Indonesia pada semester-I 2026, walaupun pasar masih dibayangi sentimen keputusan MSCI yang berisiko menurunkan status pasar Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market.
Faktor MSCI itu dianggap sebagai kartu kuning, tapi dinilai positif untuk IHSG dari segi struktural. "Sekarang ini sepertinya ada kelemahan atau konsolidasi, tapi kalau kita lihat ini konsolidasi yang sehat untuk pasar modal di Indonesia. Ini juga menjadi salah satu wake up call buat Indonesia," kata Indonesia’s Head of Research, DBS Group Research William Simadiputra dalam acara media briefing di Jakarta, dikutip Kamis (5/2).
Saat ini DBS Group Research menyebut IHSG sedang berada di kisaran 7.800-8.000. Itu merupakan level bear case. Namun, mereka telah mengantisipasi itu di tengah sentimen MSCI.
William mengatakan, fase itu memungkinkan normalisasi harga saham-saham yang sebelumnya diproyeksi masuk ke indeks MSCI setelah hasil kocok ulang Februari 2026.
"Kami melihat level 8.000 ini suatu posisi support krusial, karena merupakan level setengah valuasi angka P/E multiple-nya di bawah rata-rata 10 tahun," ujarnya.
Sebagai konteks, salah satu katalis yang melandasi proyeksi IHSG DBS Group adalah harga sejumlah komoditas yang menguat, seperti emas. Ditambah dengan ekspektasi terhadap kenaikan harga nikel. Faktor itu menjadi salah satu aspek tematik yang disoroti di pasar saham Indonesia.
Ia mengatakan, beberapa saham yang memiliki eksposur emas, sedang dalam posisi harga sahamnya naik. "Kami memproyeksi harga emas US$5.000 per troy oz akan bertahan untuk tahun ini. Kita tidak dapat mengabaikan momentum itu. Jadi beberapa saham dengan eksposure perdagangan atau tambang emas mungkin menjadi [pilihan] menarik," kata William.
Selain itu, katalis lain yang perlu diperhatikan pada kuartal-I 2026 di pasar saham Indonesia, mencakup: festival musiman terkait perayaan imlek, puasa, dan lebaran yang berlangsung dalam kurun waktu berdekatan.
Harapannya, sentimen itu dapat meningkatkan daya beli dan roda perekonomian. Pada akhirnya, momentum itu juga diharap dapat berdampak positif terhadap kinerja perusahaan di sektor konsumsi.