Diskusi OJK, SRO Pasar Modal-MSCI Rampung, Lanjut ke Pembahsan Teknis

Jakarta, FORTUNE - Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah berdiskusi kembali dengan tim analis penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), Senin (2/2) sore.
Dalam diskusi tersebut, ada 3 proposal utama yang disampaikan oleh otoritas pasar modal Indonesia. Pertama, penyediaan data keterbukaan pemegang saham dengan porsi di bawah 5 persen, bahkan hingga 1 persen. Proposal pertama ini disebut akan mulai diimplementasikan pada Rabu (3/2).
Kedua, memperinci klasifikasi investor pada data yang selama ini dilakukan pengelolaannya di KSEI. "Yang saat ini terbatas hanya di 9 tipe investor utama, tapi nanti akan menjadi 27 subtipe, yang akan lebih memunculkan klarifikasi dan juga kredibilitas pengungkapan beneficial ownership dari kepemilikan saham tersebut," kata Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatf, dan Bursa Karbon, Hasan Fawzi di Gedung BEI, Senin, setelah rapat daring dengan MSCI.
Ia menambahkan, perincian data tersebut diharap semakin meningkatkan transparansi bagi berbagai pihak, termasuk penyedia indeks global seperti MSCI.
Ketiga, terkait rencana kenaikan ketentuan batas minimal free float menjadi 15 persen secara bertahap. Sebagai konteks, saat ini, ketentuan tersebut masih berada di 7,5 persen.
Hasan mengatakan, diskusi dalam pertemuan itu akan dilanjutkan kembali ke tahap pembahasan di level pertemuan tingkat teknis. Di pertemuan selanjutnya, pihak MSCI sepakat menyediakan panduan terkait metodologi dan cara penghitungan mereka pada akhirnya.
"Kami akan melakukan pembaruan rutin kepada publik terkait dengan perkembangan apa yang kami commit-kan untuk disediakan sebagai bagian dari menghadirkan transparansi di pasar modal," ujar Hasan.
Dalam diskusi daring dengan tim MSCI itu, turut hadir Chief Investment Danantara, Pandu Sjahrir.
















