Comscore Tracker
MARKET

Perang Rusia Picu Harga Minyak Melambung, Diramal Tembus US$200/Barel

Kenaikan terjadi di tengah sanksi barat terhadap Rusia.

Perang Rusia Picu Harga Minyak Melambung, Diramal Tembus US$200/BarelIlustrasi anjungan migas. (Pixabay/466654)

by Ekarina

Jakarta, FORTUNE-  Harga minyak dunia melonjak mendekati US$130 per barel atau level tertinggi sejak 2008. Analis dan pengamat memperkirakan, harga minyak bisa terus melambung hingga mendekati US$200 per barel. 

Mengutip Reuters, harga minyak kontrak berjangka jenis Brent naik 9,9 persen, menjadi US$129,78 per barel pada pukul 18:50, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 9,4 persen ke level US$126,51, menempatkan kedua kontrak di jalur kenaikan harian tertinggi sejak Mei 2020.

Pada perdagangan Minggu (6/3), kedua harga acuan naik ke level tertinggi sejak Juli 2008 dimana Brent menyentuh US$139,13 per barel dan WTI di US$130,50. Kontrak berjangka komoditas bensin dan minyak sulingan AS naik ke rekor tertinggi, mengikuti lonjakan harga minyak mentah pada beberapa menit pertama setelah pembukaan pasar.

Kenaikan harga minyak dunia ini terjadi di tengah penundaan pembicaraan pasokan minyak mentah Iran ke pasar dunia, terlebih  Amerika Serikat (AS) dan sekutu Eropa juga sedang mempertimbangkan untuk melarang impor minyak Rusia.

Pembicaraan menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015 dengan negara kuat dunia berdakhir dalam ketidakpastian pada Minggu (6/3), menyusul tuntutan Rusia kepada AS terkait sanksi yang dihadapinya atas konflik Ukraina tidak akan merugikan perdagangannya dengan Teheran. Di sisi lain, Cina juga tengah mengajukan tuntutan baru, menurut sumber seperti dikutip dari Reuters.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan, sanksi yang dikenakan terhadap Rusia atas invasi Ukraina tidak berhubungan dengan kesepakatan nuklir Iran. 

Sementara itu, AS dan Eropa sedang menjajaki pelarangan impor minyak Rusia. Gedung Putih berkoordinasi dengan para komite kongres untuk bergerak maju dengan kebijakan larangan negara masing-masing. 

"Iran adalah satu-satunya faktor bearish nyata yang menggantung di pasar, Jika sekarang kesepakatan Iran tertunda, kita bisa mencapai titik terendah jauh lebih cepat terutama jika barel Rusia tetap berada di luar pasar untuk waktu yang lama," kata Co.Founder Energy Aspect, Amrita Sen. 

Proyeksi analis harga minyak tembus US$185/barel

Sementara itu invasi Rusia ke Ukraina dan berdampak pada maraknya sanksi yang dijatuhkan ke Negeri Beruang Merah itu membuat harga minyak berpeluang terus mencapai rekor tertinggi. 

Analis JP Morgan mengatakan harga minyak bisa naik menjadi US$185 per barel tahun ini.

"Idenya bukan untuk memberi sanksi pada minyak dan gas karena sifatnya yang esensial, tetapi minyak mendapat sanksi dari pihak swasta yang tidak mau mengambilnya atau pelabuhan yang tidak mau menerima. Semakin lama hal ini berlangsung, semakin banyak rantai pasokan yang masuk," kata Penulis dan Wakil Ketua S&P Global, Daniel Yergin. 

Rusia mengekspor sekitar 7 juta barel per hari minyak dan produk olahan atau 7% dari pasokan global. Beberapa volume ekspor minyak Kazakhstan dari pelabuhan Rusia juga menghadapi komplikasi.

Analis di Bank of America mengatakan jika sebagian besar ekspor minyak Rusia terputus, mungkin ada kekurangan 5 juta barel atau lebih besar, dan itu berarti harga minyak bisa (naik) berlipat ganda dari US$100 menjadi US$200 per barel.

Iran akan membutuhkan beberapa bulan untuk memulihkan aliran minyak bahkan jika mencapai kesepakatan nuklir, kata para analis. 

Eurasia Group mengatakan tuntutan baru Rusia dapat mengganggu pembicaraan nuklir meskipun masih mempertahankan kemungkinan kesepakatan.

“Rusia mungkin berniat menggunakan Iran sebagai jalan untuk menghindari sanksi Barat. Jaminan tertulis yang memungkinkan Rusia melakukannya jauh melampaui apa yang dapat ditawarkan Washington di tengah perang skala penuh di Ukraina,” kata Deputy Head of Research & Director Eurasia Group, Hendry Rome. 

Di AS, harga rata-rata satu galon bensin mencapai US$4,009 kemarin, mendekati harga tertinggi sejak akhir Juli 2008. Harga bensin AS di SPBU pernah menyentuh ke rekor US$4,114 pada 17 Juli 2008.

Buntut sanksi Rusia ke harga minyak, emas dan cpo

Direktur PT.TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, invasi Rusia ke Ukraina membawa berkah tersendiri bagi negara-negara penghasil komoditas, salah satunya China, Indonesia, Australia dan Malaysia.

Menurutnya, kenaikan harga komoditas dijadikan umpan bagi para spekulan untuk menjatuhkan negara-negara yang  memberikan sanksi ekonomi terhadap Rusia dan Belarusia.

"Yang membuat harga komoditas naik bukan semata disebabkan oleh Rusia menginvasi Ukraina, namun sanksi berlebihan yang  dilakukan AS, Uni Eropa dan Inggris terhadap Rusia dan Belarusia," kata Ibrahim di Jakarta, (7/3).

Setelah sanksi ekonomi diterapkan, para spekulan diberbagai negara lantas melakukan aksi beli yang tak terbatas, membuat lonjakan harga komoditas yang tak wajar dan menjadi serangan telak bagi negara-negara yang memberikan sanksi ekonomi terhadap Rusia dan Belarusia. 

"Tanpa campur tangan pihak ketiga, harga komoditas tidak mungkin mengalami lonjakan yang signifikan," ujarnya.

ibrahim juga menyoroti berbagai rentetan kasus yang mungkin terjadi setelah Rusia menginvasi Ukraina. Sekutu Rusia yaitu Cina, menurutnya bisa jadi mengikuti jejak Putin akan melakukan invasi terhadap Taiwan.

Di samping itu, Bank Sentral Amerika (The Fed) dalam pertemuan di tanggal 15 Maret 2022 kemungkinan akan menahan suku bunga sampai perang benar-benar sudah berhenti.

"Dampak dari sanksi tersebut membuat harga-harga komoditas seperti minyak mentah, emas, gas alam, batubara, nikel dan lainnya mengalami kenaikan yang tidak wajar," katanya. 

Dengan sentimen ini, Ibrahim mengatakan harga emas dalam pada Maret 2022 bisa menyentuh US$2,150 per troy ounce atau Rp1.150.000 pergram, minyak mentah WTI bisa menyentuh U$200 per barel.

Komoditas lain seperti batubara U$600 per ton, Gas Alam U$5.500. Minyak CPO RM 7,500 per ton, indeks dollar bisa tembus US$ 105 serta bitcoin menembus US$ 45.000 per koin.
 

Related Articles