Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Gejolak Geopolitik Global Justru Jadi 'Entry Point' di Pasar Modal RI
Layar papan perdagangan di BEI menunjukkan IHSG menguat, Jumat (30/1/2026). (IDN Times/Pitoko)
  • Sebagian investor justru melihat volatilitas sebagai peluang mengoleksi aset keuangan Indonesia.

  • Komposisi investor pasar modal didominasi 99,78 persen investor lokal.

  • Piter Abdullah menilai dampak global terhadap Indonesia relatif ringan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Pasar modal Indonesia diyakini tetap tangguh di tengah memanasnya gejolak geopolitik di Timur Tengah. Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), Piter Abdullah, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mempertahankan resiliensinya meski sentimen global cenderung tidak menentu.

Piter menilai volatilitas pasar saat ini tidak serta-merta memicu investor keluar dari pasar domestik. Sebaliknya, penurunan harga akibat kepanikan sesaat justru menjadi celah bagi investor strategis untuk melakukan akumulasi aset.

“Gejolak seperti ini tidak otomatis membuat investor keluar. Justru bagi sebagian pihak, ini bisa menjadi timing untuk masuk dan mengoleksi aset-aset keuangan kita,” ujar Piter dalam keterangan tertulisnya, dikutip Selasa (3/3).

Meskipun arus modal keluar masih membayangi, Piter menekankan dampaknya tidak akan luas. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sepanjang 2025, komposisi investor pasar modal kini didominasi oleh investor lokal sebesar 99,78 persen, sementara investor asing hanya mencakup 0,22 persen.

Struktur kepemilikan yang terkonsentrasi pada basis domestik ini dinilai mempersempit ruang bagi tekanan jual asing lebih lanjut.

“Untuk aliran capital outflow, saya tidak terlalu khawatir. Dalam beberapa waktu terakhir memang sudah terjadi penyesuaian, sehingga walaupun masih ada yang keluar, jumlahnya tidak banyak,” katanya.

Secara fundamental, resiliensi Indonesia didukung oleh struktur ekonomi yang lebih bertumpu pada pasar domestik ketimbang bergantung pada ekspor. Kondisi ini membuat dampak negatif dari fragmentasi perdagangan global relatif lebih ringan bagi Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga.

Namun, tekanan jual jangka pendek tetap terlihat di lantai bursa. Merujuk data Phillip Sekuritas Indonesia, investor asing membukukan aksi jual bersih senilai Rp490,53 miliar pada perdagangan Senin (2/3), terutama pada sektor energi dan keuangan.

Secara tahun kalender (year-to-date), total net foreign sell telah mencapai Rp19,16 triliun.

Pada perdagangan Selasa (3/3), IHSG sempat dibuka menguat 0,54 persen ke level 8.059. Namun, tekanan pasar menyeret indeks berakhir di zona merah dengan koreksi 0,96 persen ke level 7.939 pada penutupan perdagangan.

Editorial Team