Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Harga Bitcoin Relatif Stabil, Pasar Menanti Sinyal ke US$90.000

4 min read
Harga Bitcoin Relatif Stabil, Pasar Menanti Sinyal ke US$90.000
ilustrasi crypto bitcoin, kripto (pexels.com/DS stories)
  • Bitcoin bergerak relatif datar di kisaran US$85.000 setelah gagal bertahan dekat US$87.000; pola bull flag membuka peluang menuju US$90.000 jika resistance ditembus kuat.
  • Order book mencatat bid US$13,25 juta di US$82.500 dan ask US$15,52 juta di US$84.799,90; Coinbase Premium Index mulai pulih, menandakan minat beli spot AS meningkat.
  • Ketegangan Selat Hormuz, potensi inflasi energi, biaya pinjaman AS, serta data Federal Reserve membayangi pasar; kehilangan support dapat memicu likuidasi posisi long berleverage.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Bitcoin (BTC) bergerak relatif datar di kisaran US$85.000 pada awal Oktober 2026. Pelaku pasar kini mencermati kemampuan aset kripto tersebut mempertahankan level tersebut di tengah ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), dan dinamika permintaan di pasar spot.

Pergerakan Bitcoin dalam sepekan terakhir cenderung terbatas setelah harga sempat mendekati US$87.000, tetapi belum mampu mempertahankan posisi di area tersebut. Kondisi ini membuat level resistance menjadi perhatian pasar untuk menentukan arah pergerakan berikutnya.

Mengutip CoinMarketCap, Senin (5/10), Bitcoin mulai membentuk pola bull flag secara teknikal. Pola tersebut biasanya muncul setelah fase kenaikan dan dapat menjadi indikasi kelanjutan tren positif apabila harga berhasil keluar dari area konsolidasi dan menembus resistance dengan kuat.

Jika skenario breakout terwujud, Bitcoin berpeluang mengarah ke US$90.000. Sebaliknya, kegagalan berulang melewati resistance dapat membuat aset tersebut kembali bergerak menuju area support yang lebih rendah.

Level US$85.000 menjadi salah satu titik penting yang perlu dipertahankan untuk menjaga peluang kenaikan. Semakin lama Bitcoin tertahan di bawah resistance, semakin besar kemungkinan fase konsolidasi berlanjut.

Data order book CoinGlass menunjukkan terdapat posisi bid sekitar US$13,25 juta pada level US$82.500. Di sisi lain, ask mencapai US$15,52 juta pada harga US$84.799,90.

Komposisi tersebut menunjukkan adanya aktivitas jual dan beli yang cukup besar di sekitar level harga Bitcoin saat ini. Namun, posisi dalam order book bersifat dinamis sehingga dapat berubah dengan cepat mengikuti kondisi perdagangan.

Indikator lain yang menjadi perhatian adalah Coinbase Premium Index. Indikator ini mengukur selisih harga Bitcoin yang diperdagangkan di Coinbase dengan harga di Binance dan dapat memberikan gambaran mengenai perbedaan tekanan permintaan antara pasar Amerika Serikat dan bursa lainnya.

Coinbase Premium Index mulai menunjukkan pemulihan pada awal pekan. Kondisi tersebut dapat mengindikasikan meningkatnya minat beli Bitcoin di pasar spot AS, termasuk dari investor institusi.

Meski demikian, pergerakan indeks tersebut belum dapat dijadikan konfirmasi tunggal bahwa tren kenaikan baru telah dimulai. Perubahan premium juga dapat dipengaruhi oleh arus dana di bursa maupun pergerakan harga stablecoin.

Secara umum, nilai positif pada Coinbase Premium Index dapat menunjukkan tekanan beli yang relatif lebih kuat dari pasar AS. Sebaliknya, nilai negatif dapat mengindikasikan permintaan yang lebih tinggi di luar pasar tersebut.

  1. Geopolitik hingga suku bunga membayangi

    Selain indikator teknikal, sentimen makroekonomi dan geopolitik masih menjadi faktor yang berpotensi menentukan arah Bitcoin.

    Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian setelah Iran menyampaikan rencana mempertahankan penutupan Selat Hormuz. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan potensi kenaikan harga minyak.

    Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi meningkatkan biaya energi dan pada akhirnya menambah tekanan inflasi global.

    Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat memenuhi tujuh persyaratan berdasarkan memorandum Islamabad. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut jalur tersebut dapat dibuka dalam tujuh hari apabila tercapai proposal yang dapat diterima.

    Risiko geopolitik juga diperbesar oleh konflik di Yaman dan ketegangan regional lainnya. Perkembangan tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar minyak sekaligus aset berisiko, termasuk mata uang kripto.

    Dari AS, kenaikan imbal hasil dan biaya pinjaman turut menjadi tantangan bagi Bitcoin. Suku bunga hipotek 30 tahun tercatat mencapai 7,6 persen sepanjang pekan tersebut, mencerminkan kondisi pembiayaan yang masih relatif ketat.

    Pasar juga menunggu sejumlah indikator ekonomi AS, mulai dari risalah Federal Reserve, data klaim pengangguran, hingga ekspektasi inflasi. Jika tekanan inflasi kembali meningkat, ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter dapat semakin terbatas. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi minat investor terhadap aset berisiko.

    Di pasar derivatif, data likuidasi menunjukkan risiko yang cukup besar pada posisi long dengan leverage tinggi. Apabila Bitcoin kehilangan support penting, posisi-posisi tersebut berpotensi terkena likuidasi paksa dan mempercepat tekanan jual.

    Dengan demikian, arah Bitcoin dalam waktu dekat masih bergantung pada kemampuannya bertahan di atas US$85.000 sekaligus menembus resistance terdekat. Di luar faktor teknikal, perkembangan geopolitik, kondisi likuiditas, kebijakan The Fed, dan kekuatan permintaan pasar spot akan menjadi penentu apakah konsolidasi saat ini berkembang menjadi reli menuju US$90.000 atau justru berlanjut ke level yang lebih rendah.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More