Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa pembekuan yang dimaksud sebelumnya memang mencakup tidak diterapkannya kenaikan kelas saham.
"Di announcement yang disebutkan terkait freeze termasuk not implement any increase in FIF and NOS, not implement index addition, not implement any upward migration," ujar Jeffrey kepada wartawan, Rabu (11/2).
BEI menyatakan telah melakukan komunikasi intensif dengan MSCI sejak Oktober 2025. "Kami sudah lima kali melakukan pertemuan dengan MSCI. Dan di awal Januari sudah ada sesuatu yang kita deliver, yaitu pembagian antara investor tipe korporat dan lain-lain menjadi yang di atas dan di bawah 5 persen," ujar Jeffrey di Jakarta, Kamis (12/2).
Dalam pertemuan lanjutan pada 11 Februari 2026, BEI mempresentasikan tiga rencana aksi, yakni disclosure pemegang saham di atas 1 persen, penyediaan data investor yang lebih granular, serta progres implementasi Peraturan I-A yang menaikkan minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen.
"Kami juga akan menerbitkan shareholders concentration list atau daftar saham yang terindikasi memiliki pemegang saham yang terkonsentrasi, yang juga sudah diterapkan di Hongkong. Tentunya dengan implementasi ini akan lebih meningkatkan transparansi dan integritas pasar kita ke depannya," jelas Jeffrey.
BEI menargetkan publikasi data pemegang saham di atas 1 persen pada akhir Februari atau awal Maret 2026, sementara data investor yang lebih granular direncanakan dirilis pada akhir Maret 2026.