Moody’s Turunkan Outlook Indonesia, BI dan Pemerintah Beri Penjelasan

- Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun mempertahankan peringkat Baa2.
- BI dan pemerintah menilai keputusan tersebut tidak mencerminkan fundamental ekonomi.
- Pasar keuangan merespons dengan peningkatan volatilitas dan kehati-hatian investor.
Jakarta, FORTUNE — Lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Investors Service menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, sembari mempertahankan peringkat kredit jangka panjang Indonesia di level Baa2 atau satu tingkat di atas batas layak investasi.
Penurunan outlook ini tidak berarti penurunan peringkat kredit, melainkan mencerminkan peningkatan risiko jangka menengah terhadap prospek peringkat tersebut. Keputusan tersebut diumumkan pada Kamis (5/2) dan langsung mendapat respons dari pemerintah serta otoritas moneter. Penyesuaian outlook ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan dinamika kebijakan domestik.
Yang terbaru, Moody’s Investors Service juga turut memangkas outlook lima bank besar di Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Sabtu (7/2). Daftar bank yang terdampak adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
Alasan Moody’s turunkan outlook kredit Indonesia
Dalam laporannya, Moody’s menyatakan bahwa penurunan outlook mencerminkan meningkatnya risiko terhadap efektivitas kebijakan dan kualitas tata kelola.
Lembaga tersebut menilai adanya ketidakpastian arah kebijakan publik berpotensi memengaruhi kredibilitas kebijakan makroekonomi Indonesia yang selama ini menopang stabilitas fiskal dan keuangan.
Moody’s juga menyoroti perubahan pendekatan fiskal pemerintah, termasuk pembiayaan program-program prioritas dan pembentukan instrumen baru, yang dinilai memunculkan pertanyaan terkait transparansi serta konsistensi kebijakan jangka menengah.
Namun, di saat yang sama, Moody’s tetap mencatat sejumlah kekuatan struktural Indonesia, seperti prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah dan rasio utang pemerintah yang relatif terkendali dibandingkan negara dengan peringkat setara.
Respons Bank Indonesia dan pemerintah
Bank Indonesia menilai bahwa keputusan Moody’s tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional. Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Alexander Lubis, menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia tetap solid meski menghadapi tekanan global.
Ia menegaskan konsumsi dan investasi domestik masih terjaga, dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat 5,11 persen. Dari sisi stabilitas sistem keuangan, permodalan perbankan dinilai kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) sekitar 28 persen, disertai likuiditas yang tetap tinggi dan risiko kredit yang terkendali.
Gubernur BI Perry Warjiyo juga menyampaikan bahwa penyesuaian outlook tersebut diyakini tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi. Ia menjelaskan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 mencapai 5,39 persen, inflasi terjaga pada 2,92 persen, dan stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat melalui bauran kebijakan bank sentral.
Dari sisi pemerintah, Kementerian Keuangan menegaskan bahwa Moody’s tetap mengakui ketahanan ekonomi Indonesia. Dalam keterangannya, Moody’s mencatat beban utang pemerintah yang terkendali, kebijakan fiskal dan moneter yang prudent, serta kemampuan institusional dalam mengelola tekanan eksternal, termasuk stabilisasi nilai tukar.
Dampak ke pasar keuangan
Penurunan outlook Indonesia oleh Moody’s memicu kehati-hatian investor di pasar keuangan. Pada perdagangan Jumat (6/2), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tajam dan melanjutkan tekanan dari sesi sebelumnya, seiring aksi jual investor asing.
Dari pasar obligasi, indikator Credit Default Swap (CDS) 5 tahun Indonesia tercatat naik tipis menjadi sekitar 80 basis poin, mencerminkan peningkatan premi risiko. Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di kisaran 6,33 persen, relatif stabil dibandingkan akhir Januari.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan dan ditutup melemah ke kisaran Rp16.830 per dolar AS. Sepanjang awal 2026 hingga awal Februari, rupiah tercatat terdepresiasi kurang dari 1 persen, seiring penyesuaian portofolio investor global pascakeputusan Moody’s.
Posisi Indonesia di antara lembaga pemeringkat
Dengan keputusan tersebut, posisi peringkat kredit Indonesia saat ini bervariasi di antara lembaga pemeringkat global.
Selain Moody’s yang memberi peringkat Baa2 dengan outlook negatif, Fitch Ratings dan S&P Global mempertahankan peringkat Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.
Japan Credit Rating Agency serta Rating & Investment juga menempatkan Indonesia pada level BBB+ dengan outlook stabil.
FAQ seputar Moody’s turunkan outlook Indonesia
| Apa arti Moody’s turunkan outlook Indonesia? | Penurunan outlook berarti risiko ke depan meningkat, namun tidak otomatis menurunkan peringkat kredit. |
| Apakah Indonesia masih investment grade? | Ya, Moody’s tetap mempertahankan peringkat Indonesia di level Baa2 atau investment grade. |
| Apa dampaknya ke pasar keuangan? | Keputusan ini memicu kehati-hatian investor dan tekanan terbatas pada saham, obligasi, dan rupiah. |
















