BNI Bukukan Laba Rp20 Triliun Sepanjang 2025, Ini Penopangnya

- BNI membukukan laba bersih konsolidasi senilai Rp20,04 triliun atau terkontraksi 6,6 persen (YoY) sepanjang 2025.
- Penyaluran kredit BNI tumbuh 15,9%, didukung oleh ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif.
- Kinerja intermediasi BNI tumbuh positif dan berimbang secara keseluruhan, dengan struktur pendanaan yang semakin kuat dan rasio kecukupan modal mencapai 20,7 persen.
Jakarta, FORTUNE – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membukukan laba bersih konsolidasi senilai Rp20 triliun atau terkontraksi 6,6 persen (YoY) sepanjang 2025. Laba ini ditopang oleh Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) senilai Rp9,4 triliun serta pendapatan bunga bersih (net interest income) sebesar Rp40,33 triliun.
Sementara itu, pendapatan non bunga tumbuh 5,2 persen (YoY) menjadi Rp24,6 triliun, didorong oleh peningkatan aktivitas transaksi melalui digital channel, treasury, trade finance, serta peningkatan produktivitas cabang.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, meski kondisi cukup menantang, capaian ini mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan.
"Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif," ujar Putrama melalui keterangan resmi di Jakarta, Selasa (3/2).
Penyaluran kredit BNI tumbuh 15,9%

Hingga akhir tahun 2025, BNI juga mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 15,9 persen (YoY), kredit ini didukung oleh ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif. Kondisi ini sejalan dengan, NPL bruto yang terjaga sebesar 1,9 persen atau membaik 10 bps (YoY). Sedangkan, Loan at Risk (LaR) mencapai 8,5 persen. Putrama menyebut kondisi ini mencerminkan penurunan eksposur risiko kredit secara menyeluruh dan sudah kembali ke kondisi sebelum pandemi.
Di sisi lain, NPL coverage ratio mencapai 205,5 persen dan LaR coverage ratio mencapai 46,9 persen, menunjukkan tingkat pencadangan yang kuat dan prudent dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan.
Selain itu, pertumbuhan kredit juga ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin kuat, tercermin dari struktur pendanaan berbasis dana murah (CASA) yang semakin solid, sehingga menopang efisiensi biaya dana di tengah dinamika pasar.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan, kinerja intermediasi BNI tumbuh positif dan berimbang secara keseluruhan. "Strategi pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi menjadi kunci dalam menjaga kualitas portofolio di tengah perlambatan ekonomi global," ujar Paolo.
Paolo menambahkan, pengelolaan neraca BNI sepanjang 2025 difokuskan pada keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan permodalan yang kuat. Fokus utama diarahkan pada penguatan pendanaan berbasis CASA.
Ia menyatakan, penyaluran kredit sepenuhnya didanai oleh dana murah dengan pertumbuhan CASA sebesar 28,9 persen (YoY), ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 43,8 persen (YoY) dan tabungan yang mencatat pertumbuhan 11,2 persen (YoY). Struktur pendanaan yang sehat tersebut menopang pengelolaan likuiditas secara optimal
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 20,7 persen, jauh di atas ketentuan regulator, sehingga memberikan ruang yang memadai bagi BNI dalam mendukung ekspansi bisnis ke depannya serta mengantisipasi risiko.


















