Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak mixed to positive pada Rabu (26/8), setelah ditutup turun 0,37 persen ke level 6.501,67.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, IHSG akan melaju dengan support 6.455-6.400 dan resisten 6.568. Secara teknikal, tren bullish masih terjaga selama IHSG bertahan di atas 6.455, dengan peluang menguji 6.568. MA20 di 6.328 menjadi support berikutnya.
"Dari sisi sentimen, pasar menunggu data AS denegan konsensus Core PCE 0,2 persen (MoM); GDP kuartal-II 1,5 persen; personal invome 0,3 persen; personal spending 0,2 persen; dan durable goods order 0,7 persen; serta pidato The Fed di Jackson Hole," kata Reza dalam risetnya.
Lebih lanjut, harga minyak turun 3 persen ke US$82,5 per barel seiring meredanya tensi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Itu menjadi katalis positif bagi inflasi global.
Saham-saham yang disoroti oleh tim BRIDS hari ini adalah HRUM, PADI, dan SRTG.
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai, secara teknikal, walaupun telah terjadi koreksi wajar, pergerakan IHSG secara garis besar masih dalam keadaan tren penguatan. Berdasarkan indikator, MA20&60 telah menunjukkan positive crossover, sementara Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif. Meski demikian, volume terus mengalami penurunan.
"IHSG berpeluang mendapatkan dorongan dari membaiknya sentimen eksternal. Dari sisi global, Wall Street ditutup menguat berkat technical rebound saham teknologi, penurunan harga minyak, dan reli pasar obligasi," kata Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta.
Di tengah penurunan harga minyak dunia, terdapat harapan bahwa tekanan ekonomi dapat membuka ruang diplomasi. Salah satu faktor yang diperhatikan market adalah pembicaraan mengenai kemungkinan koridor navigasi sementara di Selat Hormuz, sehingga risiko gangguan terhadap jalur pengiriman minyak strategis tersebut untuk sementara dianggap berkurang.
Kemudian, pasar obligasi juga mengalami penguatan sebab imbal hasil atau yield Treasury turun. Itu karena rumor bahwa pemerintah AS menggunakan akun TGA (Treasury General Account) sebesar US$1 triliun untuk menekan yield jangka panjang.
Ke depan, para pelaku investor akan memperhatikan data inflasi PCE dan arah kebijakan The Fed, terutama pada Jackson Hall Symposium mulai Kamis hingga Sabtu mendatang.
"Jika inflasi kembali menunjukkan tekanan atau pejabat The Fed memberikan sinyal yang lebih hawkish, yield obligasi berpotensi naik kembali dan reli saham teknologi dapat kehilangan momentumnya," kata Nafan.
Dari sisi domestik, sentimen positif masih datang dari stabilitas kebijakan moneter, dengan BI-Rate berada di level 5,75 persen, serta ekspektasi bahwa pertumbuhan kredit tetap solid. Faktor ini menjadi penopang saham-saham perbankan dan sektor domestik.
Daftar saham yang disoroti Mirae hari ini adalah ACES, SOCI, dan UNTR.
