Jakarta, FORTUNE - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak terbatas pada perdagangan Kamis (20/8). Potensi konsolidasi ini terjadi setelah IHSG ditutup melemah 0,86 persen ke level 6.394,12 pada hari sebelumnya, tertekan aksi profit taking serta penyesuaian pasar terhadap dinamika global dan domestik.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, memperkirakan IHSG bergerak pada rentang 6.330–6.490 hari ini. Secara teknikal, pergerakan indeks membentuk pola shooting star di area resisten 6.490 setelah mengalami penolakan (rejection) dua kali pada zona 6.400–6.450.
Kondisi tersebut mengindikasikan potensi konsolidasi atau aksi ambil untung lanjutan.
"Namun, IHSG masih bertahan di atas MA20 dengan MACD yang tetap positif, sehingga bias jangka pendek belum berubah menjadi bearish," kata Reza dalam riset hariannya.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, menilai reli penguatan IHSG tengah memasuki fase cooling down setelah mengalami koreksi wajar. Secara teknikal, indikator MA20 dan MA60 telah menunjukkan positive crossover, ditopang sinyal positif dari Stochastics K_D dan RSI serta penguatan volume transaksi.
Momentum bullish pada tren IHSG dinilai masih berlaku.
"Untuk key driver hari ini yaitu kombinasi yield US Treasury, harga minyak, pergerakan rupiah, foreign flow, dan respons market terhadap keputusan BI," katanya.
Dari pasar global, sentimen positif datang dari keputusan US Treasury yang menggandakan nilai buyback obligasi tenor panjang dari US$2 miliar menjadi US$4 miliar per operasi mulai 9 September mendatang.
Langkah ini menyuntikkan likuiditas dan menekan yield US Treasury 30 tahun turun 9,9 basis poin ke level 5,186 persen, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak Juni 2007 pada 5,337 persen.
Meredanya yield jangka panjang sedikit mengurangi tekanan valuasi sehingga investor kembali masuk ke pasar saham. Namun, penguatan pasar tetap tertahan oleh risalah rapat (FOMC Minutes) Fed bulan Juli. Mayoritas pembuat kebijakan masih membuka peluang kenaikan suku bunga jika laju inflasi tidak kunjung mereda.
Risiko inflasi energi juga meningkat akibat ketegangan geopolitik dan konflik di Selat Hormuz yang mengancam rantai pasok global. Harga minyak mentah jenis Brent pun terdorong naik ke US$91–92 per barel.
Dari sisi pasokan modal, keputusan FTSE menunda penambahan konstituen baru Indonesia hingga Desember 2026 turut menjadi perhatian terkait arus dana asing (foreign flow).
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Tujuan kebijakan terseut adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi, sekaligus melanjutkan kebijakan penarikan modal asing dan pendalaman pasar uang.
Mata uang rupiah terapresiasi 0,12 persen pada Rp17.840 per dolar AS.
"Keputusan itu dapat dibaca positif karena BI memiliki ruang untuk memprioritaskan stabilitas nilai tukar setelah sebelumnya melakukan kenaikan suku bunga. Hal ini memberikan bantalan stabilitas jangka menengah bagi makroekonomi domestik, khususnya sektor perbankan," ujar Nafan.
Meski demikian, laju indeks jangka pendek masih terbebani oleh aksi profit taking dan sentimen spesifik emiten. Salah satunya koreksi signifikan pada saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) akibat klarifikasi isu akuisisi.
Berikut daftar saham pilihan analis (20/8)
Broker/Sekuritas | Rekomendasi |
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) | BULL, IATA, SSIA |
Mirae Asset Sekuritas | ARKO, CBRE, PWON |
