Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melaju terbatas pada perdagangan Kamis (23/7), setelah ditutup turun 0,09 persen ke level 6.334,4 kemarin.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, memperkirakan, secara teknikal, IHSG akan bergerak dengan support 6.200 dan resisten 6.400. Selama mampu bertahan di atas area support, peluang konsolidasi dengan kecenderungan positif masih terbuka.
"Meski volatilitas berpotensi meningkat seiring perkembangan sentimen global," kata Reza dalam riset hariannya.
Pasar hari ini akan mencermati perkembangan konflik Timur Tengah yang kembali memanas setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menutup peluang negosiasi dengan Iran dan mengancam aksi militer lebih lanjut.
Sentimen tersebut mendorong harga minyak brent melonjak lebih dari 4 persen ke sekitar US$95 per barel, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan tekanan inflasi global. Dari pasar domestik, investor juga menantikan rilis M2 Money Supply sebagai indikator kondisi likuiditas perekonomian.
Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah ELSA, TPIA, dan BNBR.
Pelemahan IHSG kemarin mengakhiri reli penguatan selama sepuluh hari berturut-turut. Koreksi tersebut dipicu aksi profit taking setelah kenaikan yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir, di tengah net foreign sell sebesar Rp1,11 triliun di pasar reguler.
Dari domestik, keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 6 persen mencerminkan keyakinan terhadap stabilitas rupiah, inflasi yang terkendali, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas menilai, secara teknikal, IHSG masih bergerak di atas MA5 dan MA20 dan histogram MACD yang tetap berada di area positif. "Dengan demikian, kami memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 6.280-6.400 pada perdagangan Kamis," kata tim riset Phintraco.
RDG Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75% persen (22/7), di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 25 bps menjadi 6 persen. Untuk suku bunga Deposit Facility tetap di level 4,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,5 persen.
BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah instrumen lainnya guna mendorong aliran masuk investasi portofolio asing serta memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Keputusan tersebut mencerminkan keyakinan BI terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi yang tetap terkendali, sekaligus menjaga ruang pertumbuhan ekonomi domestik.
Meskipun BI Rate telah naik sebesar 100 bps pada Juni 2026 namun pertumbuhan kredit masih meningkat menjadi 12,67 persen (YoY) pada Juni 2026, dari 11,51 persen pada Mei 2026. Itu menandai laju terkuat sejak April 2024. Peningkatan itu didorong oleh kredit investasi (24,9 persen), kredit modal kerja (8,94 persen), dan kredit konsumen (5,75 persen).
Ketahanan perbankan tetap solid meskipun ketidakpastian global meningkat, didukung oleh cadangan modal yang kuat, risiko kredit yang rendah, dan likuiditas yang memadai. BI memperkirakan pertumbuhan kredit akan tetap berada dalam kisaran 8 persen–12 persen pada 2026, didukung oleh fasilitas pinjaman yang belum dicairkan sebesar Rp2,490 triliun, setara dengan 21,52 persen dari total batas kredit.
Daftar saham pilihan tim Phintraco Sekuritas hari ini, yakni: CPIN, MYOR, TINS, INCO, dan ERAA.
