Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak mixed cenderung melemah pada perdagangan Kamis (27/8), setelah ditutup melemah 1,48 persen ke level 6.405,69 kemarin.
Techical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, IHSG akan melaju dengan support antara 6.340-6.300 dan resisten 6.455-6.550. Secara tekknikal, IHSG membentuk evening star setelah gagal menembus resistance trendline, sehingga berpotensi menguji MA20 di 6.340.
"Selama MA20 bertahan, struktur bullish jangka pendek masih terjaga," kata Reza dalam riset hariannya.
Katalis uama IHSG selanjutnya adalah aksi demonstrasi 27 Agustus. Kondisi aksi dan stabilitas keamanan akan menjadi perhatian utama investor. Jika berlangsung kondusif, maka tekanan terhadap IHSG berpotensi bersifat sementara. Namun, eskalasi dapat meningkatkan risk-off dan volatilitas pasar.
Daftar saham yang disoroti oleh tim BRIDS hari ini adalah SMIL, MAPA, dan ICBP.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI), M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, secara teknikal, meskipun telah terjadi koreksi wajar yang kedua kalinya, pergerakan IHSG secara garis besar masih dalam keadaan tren penguatan. Berdasarkan indikator, MA20&60 telah menunjukkan positive crossover, walaupun Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal negatif. Di sisi lain, volume mulai mengalami penguatan.
"Sentimen IHSG pada Kamis, 27 Agustus 2026 cenderung negatif dengan volatilitas tinggi, meskipun peluang technical rebound tetap terbuka setelah koreksi tajam sehari sebelumnya," kata Nafan.
Para pelaku investor memilih bersikap hati-hati di tengah ketidakpastian makroekonomi dan korporasi. Indeks S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones mengalami penurunan tipis setelah rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk bulan Juli. Adapun indeks harga PCE Inti yang menjadi indikator inflasi utama yang menjadi acuan The Fed, mengalami kenaikan 0,2 persen secara bulanan dan 3,3 persen secara tahunan.
Angka tahunan itu masih berada secara signifikan di atas target jangka panjang The Fed sebesar 2 persen, yang memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan tetap tinggi pada pertemuan bulan September mendatang.
"Untuk sementara ini, para pelaku investor akan mengamati terkait dinamika kebijakan The Fed, terutama pada Jackson Hall Symposium mulai Kamis hingga Sabtu menjelang akhir bulan ini," catat Nafan.
Selain rilis data PCE dan estimasi pertumbuhan GDP Q2 AS sebesar 1,5 persen, perhatian utama pelaku pasar tertuju pada laporan keuangan kuartalan Nvidia. Sebagai pemimpin sektor kecerdasan buatan kinerja NVIDIA dipandang sebagai penentu arah bagi keberlanjutan tren investasi AI secara global.
Meskipun pasar mengekspektasikan lonjakan pendapatan yang hampir dua kali lipat mencapai sekitar US$92 miliar, ekspektasi investor yang sangat tinggi membuat pasar sangat sensitif terhadap proyeksi masa depan dan rencana transisi chip ke generasi berikutnya, yaitu NVIDIA Vera Rubin.
Kehati-hatian itu juga diperberat oleh ketegangan geopolitik yang kembali memanas akibat kabar potensi eskalasi konflik Rusia-Ukraina, yang memicu pemulihan harga minyak mentah Brent di pasar global.
Dari sisi domestik, kewaspadaan terhadap potensi dinamika sosial-politik domestik terkait aksi penyampaian pendapat di Gedung DPR RI pada hari ini turut mendorong investor institusi dan asing membatasi eksposurnya sementara waktu. Selama aksi berlangsung tertib dan tidak berkembang menjadi gangguan keamanan yang signifikan, dampaknya terhadap IHSG kemungkinan lebih bersifat temporer dan berbasis sentimen, bukan perubahan fundamental.
"Sebaliknya, apabila terjadi eskalasi atau ketidakpastian politik meningkat, maka tekanan jual dapat berlanjut karena premi risiko pasar mengalami kenaikan," kata Nafan.
Selain itu, potensi penyesuaian portofolio menjelang rebalancing MSCI pada 31 Agustus 2026 (atau mulai berlaku 1 September 2026) masih menjadi perhatian, Dalam penyesuaian kali ini, saham GOTO dan CPIN dikeluarkan dari kategori Global Standard Index, sementara sembilan emiten terdepak dari kategori Small Cap Index, yakni termasuk ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI. Meskipun demikian, dampak pengumuman ini dinilai sudah sebagian besar diantisipasi pasar (priced-in) sejak Agustus, mengingat MSCI tidak memberikan kejutan negatif tambahan serta telah membekukan penyesuaian Foreign Inclusion Factor (FIF) bagi saham Indonesia sejak awal Juli.
