Jakarta, FORTUNE — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melaju mixed relatif menguat pada Jumat (28/8).
Kemarin, IHSG ditutup menguat 1,81 persen ke level 6.521,75, rebound setelah koreksi 1,48 persen pada perdagangan sebelumnya. Penguatan berlangsung hingga penutupan setelah sempat menyentuh low 6.376,65, dengan pasar merespons positif kondisi aksi demonstrasi yang relatif kondusif serta kepastian Destry Damayanti sebagai Gubernur BI.
"Kami memproyeksikan IHSG bergerak mixed to positive dengan support 6.360–6.400 dan resistance 6.600–6.630. Secara teknikal, IHSG berhasil rebound dari area MA20 6.359 dan ditutup kembali di atas 6.500," jelas Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS).
Struktur bullish IHSG jangka pendek masih terjaga, namun indeks kini kembali mendekati resistance trendline 6.600–6.630. Artinya, menurutnya, perlu breakout untuk membuka ruang penguatan lebih lanjut.
Katalis selanjutnya akan tertuju pada pidato Chairman The Fed di Jackson Hole pada Jumat (28/8), terutama terkait arah kebijakan suku bunga AS. Dari domestik, investor juga akan mencermati perkembangan pasca aksi demonstrasi dan stabilitas pasar setelah penguatan IHSG hari ini.
Saham-saham yang disoroti oleh tim BRIDS hari ini adalah EXCL, INET, dan HRUM.
Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI), mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG akan membentuk pola high baru karena faktor uptrend. Berdasarkan indikator, MA20&60 telah menunjukkan positive crossover, Stochastics K_D menunjukkan sinyal positif, dan RSI berpotensi membentuk pola golden cross.
Pidato perdana Kevin Warsh dalam forum Jackson Hall Symposium menjadi salah satu katalis utama bagi pasar global karena investor menunggu kejelasan mengenai arah kebijakan moneter The Fed, khususnya di tengah inflasi AS yang masih menjadi perhatian dan meningkatnya ketidakpastian di pasar obligasi.
"Tantangan utama Warsh adalah menyeimbangkan kredibilitas Fed dalam mengendalikan inflasi dengan kebutuhan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan, sementara selama ini Warsh dinilai belum memberikan forward guidance yang cukup jelas mengenai arah Fed Rate," kata Senior Technical Analyst MASI, Nafan Aji.
Oleh karena itu, apabila pidatonya bernada hawkish dan menegaskan komitmen kuat untuk menjaga inflasi, pasar obligasi berpotensi kembali tertekan dan aset berisiko, termasuk saham, dapat mengalami volatilitas. Sebaliknya, jika Warsh memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi mulai cukup terkendali atau membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter, sentimen pasar saham global berpotensi menguat. Dengan demikian, Nafan menilai, substansi pidato tersebut tidak hanya penting bagi arah Wall Street, tetapi juga berpotensi menjadi penentu sentimen jangka pendek bagi IHSG melalui perubahan ekspektasi suku bunga AS, pergerakan dolar AS, arus dana asing, dan tingkat risk appetite investor global.
Dari sisi domestik, kepastian situasi politik dan keamanan dalam negeri pasca-aksi penyampaian pendapat di Gedung DPR RI kemarin yang berakhir damai, beserta kejelasan target pengesahan regulasi, memberikan kelegaan bagi para pelaku pasar sehingga memicu aksi beli di seluruh sektor emiten.
Selain itu, keputusan DPR yang menargetkan pengesahan UU Perampasan Aset paling lambat 15 Desember 2026 turut dipersepsikan positif karena memberikan kepastian arah tindak lanjut atas salah satu tuntutan dalam aksi penyampaian pendapat tersebut. Namun demikian, para pelaku pasar perlu mencermati pergerakan rupiah yang terdepresiasi 0,11 persen ke level Rp17.744 per dolar AS sehingga berpotensi membatasi penguatan IHSG, khususnya jika kembali memicu kekhawatiran terhadap arus modal asing.
Di sisi lain, potensi penyesuaian portofolio menjelang rebalancing MSCI pada 31 Agustus 2026 (atau mulai berlaku 1 September 2026) masih menjadi perhatian.
