Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IHSG Diproyeksikan Sideways di Tengah Skenario Higher for Longer Fed
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
  • IHSG diperkirakan bergerak sideways di kisaran 5.860–6.130, dengan saham JSMR, HMSP, dan GULA menjadi sorotan utama analis BRI Danareksa Sekuritas.
  • Data Core PCE AS yang naik memperkuat ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi The Fed, membatasi penguatan rupiah dan meningkatkan volatilitas pasar domestik.
  • MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market, sementara arus dana asing ke SRBI dan obligasi pemerintah menopang stabilitas rupiah meski daya saing nasional menurun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melaju sideways pada Jumat (26/6), setelah ditutup naik 1,96 persen ke level 5.999.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG akan bergerak di kisaran support 5.860 dan resisten 6.130. Saham-saham yang BRIDS soroti hari ini adalah JSMR, HMSP, dan GULA.

"Penembusan di atas 6.130 berpotensi membuka ruang penguatan lanjutan, sedangkan pelemahan di bawah 5.860 dapat memicu tekanan jual kembali," kata Reza dalam risetnya.

Hari ini, pasar akan mencermati dampak rilis Core PCE Price Index AS yang naik 0,3 persen (MoM) dan 3,4 persen (YoY), level tertinggi sejak Oktober 2023. Data itu memperkuat ekspektasi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer. Dus, hal tersebut berpotensi membatasi penguatan rupiah dan meningkatkan volatilitas pasar.

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan, secara teknikal, pergerakan IHSG melemah terbatas sejak “wave (b)” terbentuk. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif didukung penurunan volume, namun RSI menunjukkan sinyal positif.

Para pelaku pasar merasa lega setelah MSCI mengumumkan tetap mempertahankan status Indonesia dalam kategori Emerging Market.

"Sentimen ini meredakan kekhawatiran besar bahwa Indonesia akan downgrade ke Frontier Market, sehingga berhasil menahan arus modal keluar dalam skala masif dan memicu aksi bargain hunting. Oleh sebab itu, pergerakan IHSG terlihat membentuk wave (b)," kata Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta.

Dari global, kemajuan upaya perdamaian antara AS dan Iran menjadi katalis positif yang kuat. Dampaknya langsung terasa pada stabilisasi harga minyak mentah dunia, dimana WTI ke kisaran US$71 dan minyak brent ke US$75 per barel. Bagi Indonesia sebagai net oil importer, hal itu meringankan beban fiskal dan meredakan ekspektasi inflasi.

Di sisi lain, rupiah juga terapresiasi 0,05% menjadi Rp17.943 per dolar Amerika Serikat (AS). Data Bank Indonesia menunjukkan derasnya aliran dana asing yang masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan obligasi pemerintah yang mencapai sekitar Rp105 triliun sepanjang Juni, sehingga turut memberikan bantalan stabilitas bagi nilai tukar rupiah.

Meski demikian, hasil data US core PCE (3,4 persen) dan headline PCE (4,1 persen) per Mei secara tahunan di atas target inflasi The Fed sebesar 2 persen, akan menjadi alasan kuat bagi The Fed untuk menerapkan kebijakan kenaikan suku bunga selama 12 bulan ke depan.

Terakhir, penurunan peringkat daya saing Indonesia dalam World Competitiveness Ranking sebanyak 21 peringkat selama 2 tahun terakhir, dari posisi 27 ke peringkat 48 dari 70 negara, masih menjadi catatan fundamental domestik yang dicermati oleh investor jangka panjang.

Editorial Team

Related Article