Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IHSG Tertekan Inflasi AS, Level 5.850 Jadi Benteng Krusial
ilustrasi candlestick saham (unsplash/rc.xyz nft gallery)

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam tren koreksi pada perdagangan Kamis (15/10), setelah ditutup menguat 0,39 persen ke level 5.948,83.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG belum mampu menembus kembali level psikologis 6.000, sehingga kecenderungan lajunya masih bearish dan rentan tertekan. Area 5.900 dan 5.850 menjadi support penting yang perlu dipertahankan.

"Jika support tersebut ditembus, risiko pelemahan lanjutan perlu diwaspadai, sementara penembusan 6.000 diperlukan untuk memperbaiki momentum jangka pendek," kata Reza.

Pada perdagangan Kamis ini, perhatian tertuju pada dampak inflasi Amerika Serikat (AS) September yang tercatat 3,7 persen (YoY), di atas konsensus 3,6 persen. Pasar juga meninjau pergerakan DXY dan yield US Treasury.

Inflasi yang lebih tinggi berpotensi memperkuat dolar AS dan menjaga ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. "Kondisi ini dapat meningkatkan risiko capital outflow dari pasar emerging markets, termasuk Indonesia, sekaligus menambah tekanan terhadap rupiah dan IHSG," kata Reza.

Daftar saham pilihan tim BRIDS adalah TAPG, BSDE, dan MEDC.

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas menilai, secara teknikal, potensi penurunan IHSG diperkirakan terbatas karena indeks telah mencapai area wave (X), dengan level support paling krusial berada di 5.851. Dengan demikian, momentum penguatan berpotensi mulai terbentuk. Berdasarkan indikator teknikal, Stochastic K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif, meskipun volume perdagangan mengalami penurunan.

"IHSG diperkirakan berada dalam kondisi yang cenderung variatif dengan kecenderungan bergerak consolidation dalam rangka gathering momentum," kata Senior Technical Analyst Mirae Asset, Nafan Aji.

Menurutnya, rilis inflasi yang lebih panas dari proyeksi konsensus ini dengan cepat membalikkan ekspektasi kebijakan moneter The Fed, di mana probabilitas kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan 28 Oktober 2026 meningkat sekitar 32,7 persen menurut CME FedWatch tool. Dampaknya langsung terasa di pasar obligasi, di mana US 2-Year Bond Yield saat ini menguat 0,27 persen di level 4,806 persen.

Kondisi pasar global semakin kompleks akibat dinamika pasar komoditas dan ketegangan geopolitik yang terus berlanjut. Harga minyak mentah Brent naik 0,45 persen menjadi US$106,17 per barel dan WTI menguat 1,07 persen ke level US$95,17 per barel menyusul ekskalasi serangan balasan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang menargetkan fasilitas energi serta bandara di Riyadh dan Dhahran.

Dinamika domestik juga diwarnai oleh rotasi sektor investor lokal yang bergeser ke arah saham-saham defensif dan komoditas pendukung. Sektor teknologi dan saham berbasis konglomerasi yang sebelumnya mengalami tekanan jual mulai menunjukkan adanya pembalikan arah teknikal (rebound), sementara saham-saham perbankan big-cap (seperti BBCA, BBNI, BBRI, dan BBTN) serta emiten energi dan pertambangan mendapatkan katalis positif dari tingginya harga komoditas global.

"Bahkan aksi bargain hunting pada saham-saham berfundamental baik berpotensi menopang indeks dalam jangka pendek," kata Nafan.

Daftar saham pilihan tim Mirae Asset adalah BBTN, ELSA, dan WIFI.

Curated For You

Editorial Team

Related Article