IHSG Tertekan MSCI, Pidato Prabowo Jadi Penentu Arah Pasar

- IHSG ditutup melemah 1,13 persen ke 6.301,77 akibat profit taking pascareview MSCI dan aksi jual asing Rp1,39 triliun; pergerakan Jumat diproyeksikan terbatas atau sideways.
- Investor menunggu pidato Presiden Prabowo mengenai Nota Keuangan dan RAPBN 2027, yang akan menentukan pandangan pasar atas arah fiskal, defisit, penerimaan negara, belanja produktif, serta daya beli.
- Sentimen global mendapat dukungan dari perlambatan inflasi AS, penurunan yield Treasury, dan koreksi minyak; namun dampak MSCI, arus dana asing, serta risiko AS-Iran dan Selat Hormuz tetap dicermati.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih bergerak terbatas pada perdagangan Jumat (14/8), setelah ditutup melemah 1,13 persen ke level 6.301,77.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, penyebab utama koreksi IHSG kemarin adalah aksi profit taking setelah pengumuman hasil review MSCI Agustus. Tekanan jual juga tercermin dari aksi jual investor asing sebesar Rp1,39 triliun di pasar reguler.
"Dari domestik, investor cenderung wait and see menjelang pidato kenegaraan Presiden Prabowo terkait RAPBN 2027 yang akan memberikan gambaran arah kebijakan fiskal ke depan," kata Reza dalam risetnya.
Ia pun memperkirakan IHSG melaju terbatas dengan support di antara 6.270–6.300 dan resisten antara 6.350–6.400. Secara teknikal, IHSG masih berada di area support setelah terkoreksi dari resisten, sementara MACD mulai melandai sehingga momentum penguatan belum solid.
Menurutnya, pergerakan IHSG selanjutnya berpotensi cenderung sideways karena investor menunggu pidato Presiden. "Dengan peluang technical rebound tetap terbuka apabila support mampu dipertahankan," kata Reza.
Daftar saham yang masuk pantauan tim BRIDS hari ini adalah HRTA, BBTN, dan FAST.
Sementara, itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, menilai, secara teknikal, pergerakan IHSG masih membentuk fase bullish consolidation selama diperdagangkan di atas MA20. Berdasarkan indikator, MA20&60 berada dalam fase bullish crossover, sementara RSI berpotensi membentuk pola golden cross.
"Meskipun demikian, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif, didukung penurunan volume," kata Nafan.
Pergerakan IHSG akan dipengaruhi ekspektasi positif para pelaku investor khususnya terhadap Pidato Presiden RI Prabowo Subianto terkait Nota Keuangan dan RAPBN 2027, namun upside masih terbatas karena para pelaku investor investor juga turut mencermati dampak MSCI dan foreign flow.
Dari global, Bursa Wall Street mengalami penguatan dipicu rilis data US PPI periode Juli 2026 yang kenaikan harga yang lebih landai dari perkiraan pasar menyusul data US CPI periode Juli 2026 sehari sebelumnya yang juga menunjukkan melandainya inflasi. Adapun PPI Juli tercatat flat di 0,0 persen secara bulanan, lebih rendah dari ekspektasi sebesar 0,2 persen, sementara secara tahunan naik 4,7 persen, lebih rendah dari ekspektasi sebesar 4,9 persen. Core PPI naik 0,2 persen (MoM), lebih rendah dari ekspektasi 0,3 persen.
Nafan mengatakan, melandainya inflasi meredakan ekspektasi akan terjadinya Fed rate hike pada pertemuan September 2026, sehingga probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga meningkat menjadi 66 persen dari 62 persen sebelumnya.
"Hal ini menjadi katalis positif bagi aset berisiko karena risiko higher-for-longer sedikit mereda. Bahkan Yield US Treasury 10 tahun turun sekitar 5,6 bps menjadi 4,63 persen, sementara yield 2 tahun turun menjadi sekitar 4,14 persen," ujarnya.
Ditambah lagi dengan terkoreksinya harga minyak dunia turut membantu risk appetite, karena meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Meski demikian, ketegangan AS-Iran dan gangguan di jalur pelayaran Selat Hormuz tetap menjadi risiko.
Dari domestik, Nafan menyebut, para pelaku investor juga ingin melihat kebijakan pemerintah untuk menjaga konsumsi kelas menengah, penciptaan lapangan kerja, bantuan sosial yang tepat sasaran, serta berbagai program yang dapat meningkatkan disposable income masyarakat.
Selain itu, kebijakan terkait subsidi energi, ketahanan pangan, impor, swasembada, biofuel, dan transisi energi juga akan menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap inflasi, daya beli, neraca perdagangan, dan profitabilitas emiten.
Menurutnya, apabila pidato Presiden RI menunjukkan kebijakan fiskal yang kredibel tetapi tetap pro-pertumbuhan, belanja produktif meningkat, investasi dipacu, daya beli diperkuat, dan tidak ada kejutan negatif mengenai defisit maupun penerimaan negara, maka ini bisa menjadi counter-sentiment positif bagi IHSG setelah tekanan MSCI.
"Sebaliknya, apabila target pertumbuhan dinilai terlalu agresif tetapi tidak didukung oleh program konkret, atau pasar melihat risiko pelebaran defisit, tekanan penerimaan negara, peningkatan utang, maupun kebijakan yang berpotensi membebani korporasi, maka respons pasar bisa negatif," ujar Nafan.









