Melansir Bloomberg, sovereign analyst S&P Global Ratings Rain Yin dalam webinar Asia Pasifik, Kamis (26/2), menyatakan pembayaran bunga utang pemerintah “sangat mungkin” melampaui ambang batas 15 persen dari pendapatan negara tahun lalu. Jika rasio tersebut bertahan di atas level itu secara berkelanjutan, kondisi tersebut dapat mendorong pandangan lebih negatif terhadap peringkat Indonesia.
S&P saat ini masih mempertahankan outlook stabil untuk peringkat BBB Indonesia. Namun, lembaga tersebut menyoroti rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan sebagai metrik utama. Selama bertahun-tahun, Indonesia menjaga rasio itu di bawah 15 persen. Sejak pandemi, rasio tersebut meningkat signifikan dan belum menunjukkan penurunan cepat.
Indonesia mencatat defisit fiskal 2,9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) tahun lalu, mendekati batas maksimal 3 persen sesuai aturan fiskal. Defisit lebih tinggi dari perkiraan dipicu lemahnya penerimaan negara. S&P menilai perkembangan tersebut bergerak “sedikit lebih cepat” dalam meningkatkan risiko penurunan terhadap trajektori fiskal Indonesia.
“Dua perkembangan yang kami cermati dengan sangat hati-hati adalah kerangka fiskal jangka menengah, apakah tetap berlabuh pada kebijakan aturan fiskal yang sudah mapan, dan kedua, perkembangan penerimaan,” ujar Yin.
Sebelumnya, Moody’s Ratings mengubah outlook peringkat Baa2 Indonesia menjadi negatif dari stabil. MSCI Inc. juga memperingatkan potensi penurunan status pasar negara berkembang jika isu investabilitas dan transparansi tidak dibenahi. Rangkaian pernyataan tersebut menekan sentimen investor asing.