Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Indodax Nilai Koreksi Bitcoin ke US$66.000 Masih Wajar
ilustrasi crypto bitcoin (pexels.com/David McBee)

Jakarta, FORTUNE - Harga Bitcoin (BTC) kembali berada di bawah tekanan dalam 24 jam terakhir. Pada Kamis (19/2), aset kripto terbesar dunia itu tercatat melemah 1,25 persen ke level sekitar 66.450 dolar AS, setara Rp1,11 miliar.

Pelaku pasar kripto domestik menilai penurunan harga BTC tersebut berkaitan dengan publikasi notulensi terbaru rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat. Dokumen itu memperlihatkan perbedaan pandangan di antara pejabat bank sentral AS, yang kemudian memicu penyesuaian ekspektasi pasar. Namun, kondisi ini dinilai masih berada dalam siklus normal konsolidasi Bitcoin.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, menyampaikan bahwa fundamental Bitcoin saat ini tetap solid meskipun tengah memasuki fase konsolidasi. “Koreksi harga yang terjadi pasca rilis FOMC ini adalah reaksi pasar yang sangat wajar dan bersifat sementara. Investor global saat ini hanya sedang melakukan penyesuaian terhadap timeline pemangkasan suku bunga The Fed," katanya dalam keterangan di Jakarta, Jumat (20/2).

Antony menambahkan, meskipun pergerakan Bitcoin saat ini masih berada di bawah level US$67.000, fluktuasi tersebut tetap berada dalam batas konsolidasi yang sehat.

Ia menilai area US$64.000 sebagai level penopang (support) yang cukup kuat. Secara historis, fase konsolidasi semacam ini justru kerap menjadi pijakan sebelum harga kembali melanjutkan tren penguatan.

Dalam konteks domestik, Antony juga menyoroti pengaruh kebijakan moneter nasional. Keputusan Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga acuan BI Rate yang saat ini berada di kisaran 4,75–5,5 persen dinilai berperan penting dalam menentukan arah likuiditas investor dalam negeri.

"Langkah Bank Indonesia ke depan dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah tentu memberikan kepastian bagi perekonomian domestik," ujarnya.

Di tengah dinamika suku bunga global dan ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung, Antony mengingatkan investor kripto agar tidak bersikap reaktif. Kondisi makroekonomi seperti saat ini, menurutnya, kembali menegaskan peran Bitcoin sebagai aset lindung nilai jangka panjang. "Kami melihat ini sebagai momentum yang baik bagi investor untuk merencanakan portofolio mereka secara lebih matang," katanya.

Sejalan dengan itu, Indodax terus mendorong edukasi kepada para penggunanya agar tetap rasional menghadapi volatilitas pasar. Investor juga diimbau untuk melakukan riset secara mandiri (Do Your Own Research/DYOR) serta menerapkan manajemen risiko yang disiplin. Dalam situasi pasar yang dipengaruhi tekanan makroekonomi, strategi investasi bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA) dinilai masih menjadi pendekatan yang paling bijak untuk meredam fluktuasi harga.

Editorial Team