Jakarta, FORTUNE - Menjelang penghujung kuartal-I 2026, belum ada emiten baru yang mencatatkan saham atau Initial Public Offering (IPO) di bursa. Kendati demikian, Divisi Riset PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai hal tersebut relatif tak berdampak terhadap rata-rata nilai transaksi harian di periode tersebut.
Anita Kezia dari Unit Kajian dan Analisis Ekonomi Divisi Riset BEI, mengatakan, walaupun belum ada aktivitas IPO saham pada awal tahun ini, rerata nilai transaksi harian (RNTH) bursa masih mencapai Rp29,9 triliun per 6 Maret 2026. Angka tersebut meningkat 65,3 persen dibandingkan RNTH BEI pada 2025, yakni Rp18,1 triliun.
Ia menilai, secara umum, nilai transaksi bursa lebih dipengaruhi aktivitas perdagangan saham yang sudah tercatat dan sentimen terkini. "Saat ini pun kami melihat, dengan belum adanya IPO, setidaknya hingga medio Maret ini, RNTH-nya masih terjaga, bahkan mungkin meningkat signifikan," kata Anita kepada pers, dikutip Jumat (13/3).
Kendati demikian, data RNTH per Maret itu mengalami penurunan dari RNTH Januari 2026, yakni senilai Rp34,9 triliun. Investor ritel berkontribusi paling tinggi dengan RNTH Rp20,3 triliun (58,1 persen). Kemudian disusul oleh investor institusi asing senilai Rp10,7 triliun (30,9 persen) dan institusi lokal Rp3,8 triliun (11 persen).
Salah satu penyebabnya adalah aksi net sell oleh investor asing yang mencapai Rp9,7 triliun sejak awal tahun. Aksi penjualan oleh asing khususnya terjadi pada akhir Januari 2026, ketika MSCI mengumumkan untuk menunda rebalancing saham-saham Indonesia di MSCI.
"Tapi, yang bisa kita lihat, seiring berjalannya waktu, mulai pertengahan Februari sampai setidaknya sebelum perang Iran dan Israel-Amerika Serikat (AS), itu terjadi net buy. Sepanjang Februari misalnya, ada Rp400 miliar net buy secara total," jelas Anita.
Lebih lanjut, ia mencatat, nilai transaksi investor asing juga masih terjaga, yakni di kisaran 30 persen.
Lalu, terkait IPO, BEI melaporkan terdapat 7 calon emiten baru dalam antrean atau pipeline per 6 Maret 2026. Itu mencakup 1 perusahaan aset berskala menengah (Rp50 miliar-Rp250 miliar) dan 6 perusahaan aset skala besar (di atas Rp250 miliar).
Ketujuh calon perusahaan terbuka itu terdiri dari 3 perusahaan sektor finansial dan masing-masing 1 perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals, energi, kesehatan, serta transportasi dan logistik.
