Kenapa IHSG Hari Ini Turun 1 Persen? Simak 5 Pemicunya

IHSG melemah 1,70 persen ke 5.835,14 pada 09.31 WIB, melanjutkan koreksi sebelumnya.
Eskalasi konflik Arab Saudi-Houthi mendorong harga minyak naik, memicu kekhawatiran terhadap defisit APBN dan neraca perdagangan Indonesia.
Ketidakpastian evaluasi MSCI, risiko capital outflow, pelemahan rupiah, serta penurunan bursa Asia menambah tekanan.
Jakarta, FORTUNE — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Selasa (13/10), melemah lebih dari 1 persen, melanjutkan koreksi 2,59 persen pada hari sebelumnya. Pada pukul 09.31 WIB, indeks turun 1,70 persen ke level 5.835,14 berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI).
Tekanan terhadap IHSG datang dari beberapa arah, mulai dari eskalasi konflik di Timur Tengah hingga ketidakpastian terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI). Tekanan pada saham-saham konglomerasi dan perbankan berkapitalisasi besar turut membebani indeks domestik.
Table of Content
Apa penyebab IHSG turun 1 persen?
1. Konflik Timur Tengah mendorong harga minyak
Eskalasi konflik Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan energi. Serangan terhadap wilayah Arab Saudi, termasuk Bandara Internasional Riyadh, menambah risiko gangguan di kawasan yang berperan penting dalam perdagangan minyak.
Pada perdagangan Senin (12/10), harga minyak mentah Brent naik 1,8 persen menjadi 106,65 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 2 persen ke 93,74 dolar AS per barel.
Kenaikan minyak menjadi perhatian bagi pasar Indonesia karena dapat menambah tekanan terhadap anggaran negara dan neraca perdagangan. Phintraco Sekuritas menilai harga minyak yang bertahan tinggi berpotensi memperlebar defisit APBN dan mendorong defisit neraca perdagangan.
2. Ketidakpastian MSCI membayangi pasar
Investor juga mencermati evaluasi MSCI terhadap pasar saham Indonesia menjelang tinjauan indeks pada November 2026. Kekhawatiran muncul akibat pembekuan sejumlah perubahan indeks, termasuk Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).
FIF merupakan faktor yang mencerminkan proporsi saham yang tersedia bagi investor asing. Sementara itu, NOS menunjukkan jumlah saham yang diperhitungkan dalam indeks.
Kebijakan tersebut menimbulkan ketidakpastian mengenai penyesuaian bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI. Pasar turut mengkhawatirkan risiko penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, yang berpotensi mengurangi aliran dana investor asing.
Phintraco Sekuritas menilai rumor terkait kebijakan MSCI turut menambah kekhawatiran investor, terutama karena pembekuan perubahan indeks diperkirakan baru dicabut pada semester II 2027.
3. Rupiah dan arus modal ikut menjadi perhatian
Selain faktor global, pasar saham domestik dibayangi kekhawatiran arus keluar modal (capital outflow) dari pasar obligasi Indonesia. Kondisi ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah, terutama jika dolar AS menguat. Pelemahan rupiah juga dapat mengurangi daya tarik aset Indonesia bagi investor asing.
Investor juga menunggu data inflasi Amerika Serikat periode September yang dijadwalkan rilis pada 14 Oktober. Data tersebut menjadi salah satu acuan untuk membaca arah kebijakan suku bunga AS dan pergerakan dolar.
Jika inflasi lebih tinggi daripada perkiraan, tekanan terhadap dolar dan aset pasar berkembang dapat meningkat. Karena itu, pelaku pasar mencermati rilis tersebut di tengah ketidakpastian geopolitik dan isu MSCI.
4. Saham konglomerasi dan bursa Asia melemah
Tekanan IHSG juga terlihat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham DSSA, TPIA, BRPT, BREN, BYAN, dan MORA kembali menekan indeks pada awal perdagangan Selasa (13/10). Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar juga melanjutkan pelemahan.
Koreksi ini berlangsung bersamaan dengan penurunan bursa Asia. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun sekitar 2 persen pada awal perdagangan. KOSPI Korea Selatan merosot 6,70 persen dan Nikkei Jepang melemah 2,70 persen.
5. IHSG masih menghadapi level teknikal penting
Dari sisi teknikal, BRI Danareksa Sekuritas menempatkan area 5.850–5.900 sebagai zona support yang perlu dicermati. Jika indeks menembus area tersebut, risiko pelemahan lanjutan meningkat.
Sementara itu, rentang 6.000–6.019 menjadi resistance terdekat yang perlu direbut kembali untuk meredakan tekanan jual.
Pada pukul 09.31 WIB, IHSG berada di 5.835,14, di bawah rentang support yang disebut BRI Danareksa. Namun, pergerakan indeks masih dapat berubah sepanjang sesi perdagangan. Menjelang penutupan sesi I, IHSG berada di 5.904,25 pada pukul 11.24 WIB.
Gabungan sentimen geopolitik, kenaikan harga minyak, ketidakpastian MSCI, dan pelemahan saham kapitalisasi besar menjadi faktor yang perlu dicermati dalam perdagangan Selasa (13/10). Data inflasi AS dan perkembangan pasar global berikutnya juga menjadi perhatian investor.
FAQ seputar IHSG hari ini turun 1 persen
Kenapa IHSG hari ini turun 1 persen? Tekanan berasal dari konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, ketidakpastian MSCI, dan pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar.
Berapa level IHSG hari ini? IHSG turun 1,70 persen ke level 5.835,14 pada pukul 09.31 WIB.
Bagaimana kenaikan harga minyak memengaruhi sentimen pasar? Harga minyak yang tinggi dikhawatirkan menambah tekanan terhadap defisit APBN dan neraca perdagangan Indonesia.
Berapa level support IHSG menurut BRI Danareksa Sekuritas? Area support yang dicermati berada di kisaran 5.850–5.900.











