Jakarta, FORTUNE - Pemegang saham pengendali dan Direktur Utama PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Low Tuck Kwong, meningkatkan porsi kepemilikan atas saham emiten BYAN.
Berdasarkan laporan keterbukaan informasi milik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Low Tuck Kwong membeli 500.000 unit saham biasa BYAN pada 13 Oktober 2026. Dengan harga Rp11.200, estimasi nilai transaksinya adalah Rp5,6 miliar.
“Tujuan transaksi adalah investasi,” demikian dikutip dari situs web resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (15/10).
Setelah transaksi tersebut, jumlah saham BYAN milik Low Tuck Kwong meningkat dari 2.216.166.832 unit menjadi 2.316.666.832 unit. Hak suaranya tidak berubah, masih tetap di level 9,95 persen.
Selaras dengan itu, Low Tuck Kwong pun menekankan statusnya sebagai pemegang saham pengendali. Ia juga menyatakan akan mempertahankan pengendalian tersebut.
Sebelumnya, pada 7 Oktober 2026, PT Jhonlin Baratama dilaporkan membeli lagi 16,66 juta unit saham biasa BYAN. Dengan harga Rp2.588 per saham, maka perkiraan nilai transaksinya mencapai Rp43,13 miliar.
Per pengumuman laporan kepemilikan saham perusahaan terbuka BYAN pada 13 Oktober 2026, PT Jhonlin Baratama tercatat memiliki 10,08 miliar unit saham BYAN, dari sebelumnya 10,07 miliar. Hak suara sebelum transaksi adalah 30,20 persen, lalu meningkat menjadi 30,25 persen.
Di tengah aksi beli dan akuisisi yang baru dilakukan oleh Jhonlin Group itu, BYAN menyatakan masih akan konsentrasi pada keberlangsungan dan ekspansi bisnis inti. Direktur BYAN, Jenny Quantero, mengatakan, strategi dan rencana bisnis perseroan yang sudah ditentukan akan dilanjutkan. Sampai dengan pertengahan Oktober 2025, belum ada perubahan rencana modal, investasi, ekspansi, diversifikasi usaha, ataupun kerja sama strategis.
Dari aspek operasional, entitas anak BYAN di sektor pertambangan telah mengantongi persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Untuk itu, mereka akan tetap menjalankan kegiatan usaha demi mencapai target produksi yang sudah perseroan tetapkan.
Selain itu, perseroan juga menyebut, belum ada pembahasan antara Jhonlin Baratama dan BYAN tentang potensi sinergi bisnis setelah transaksi akuisisi saham perseroan selesai.
