Jakarta, FORTUNE - Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, melalui Federal Open Market Committee (FOMC), memutuskan menahan suku bunga acuan di rentang 3,5 persen hingga 3,75 persen dalam rapat pada 27–28 Januari 2026. Keputusan tersebut diambil setelah sebelumnya The Fed memangkas suku bunga sebanyak tiga kali beruntun dengan total penurunan 75 basis poin sepanjang September hingga Desember 2025.
Melansir beincrypto, hasil pemungutan suara dalam rapat itu mencatat perbandingan 10 banding 2. Dua gubernur, Christopher Waller dan Stephen Miran, memilih menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Keduanya menilai pasar tenaga kerja masih rapuh dan memerlukan dukungan moneter tambahan agar tetap stabil.
Namun, mayoritas anggota komite memilih bersikap lebih berhati-hati. Mereka menilai pelonggaran kebijakan di tengah inflasi yang masih tinggi berisiko mengirimkan sinyal melemahnya komitmen terhadap target inflasi 2 persen. Sejumlah pejabat menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga baru akan dilakukan setelah terdapat “indikasi jelas bahwa penurunan inflasi benar-benar berada di jalur yang tepat.”
Sorotan utama dari notulen rapat tersebut adalah munculnya pembahasan mengenai kemungkinan penyesuaian suku bunga ke arah yang lebih tinggi, yang secara implisit mengacu pada potensi kenaikan suku bunga di masa mendatang.
“Sebagian besar peserta mengingatkan bahwa kemajuan menuju target inflasi 2% mungkin lebih lambat dan tidak merata dari perkiraan,” demikian ditulis dalam notulen tersebut.
Nada hawkish ini berpotensi memunculkan ketegangan dengan kepemimpinan baru The Fed. Masa jabatan Ketua The Fed, Jerome Powell, akan berakhir pada Mei mendatang. Presiden AS Donald Trump telah mencalonkan mantan gubernur The Fed, Kevin Warsh, sebagai penggantinya.
Trump sebelumnya kerap mendorong penurunan suku bunga. Gedung Putih juga menyatakan data terbaru menunjukkan inflasi berada dalam kondisi “dingin dan stabil.” Namun demikian, indikator inflasi favorit The Fed, yakni indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), diperkirakan kembali meningkat dalam beberapa bulan ke depan, sehingga berpotensi menunda rencana pemangkasan suku bunga.
Di pasar berjangka, pelaku pasar memperkirakan penurunan suku bunga berikutnya baru akan terjadi paling cepat pada Juni, dengan peluang lanjutan pada September atau Oktober.
Pasar kripto merespons cepat sikap tersebut. Harga Bitcoin mulai melemah tak lama setelah catatan rapat itu dirilis pada sesi perdagangan sore di Amerika Serikat. Nilainya turun dari sekitar US$68.300 menjadi di bawah US$66.500 pada pagi hari waktu Asia, dengan penurunan harian sekitar 1,6 persen.
Tekanan jual bertambah seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak melonjak lebih dari 4 persen. Kondisi ini menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
CEO Coinbase, Brian Armstrong, berupaya meredakan kekhawatiran pasar. Ia menilai pelemahan harga lebih dipicu faktor psikologis ketimbang fundamental. Menurut Armstrong, perusahaannya justru melakukan pembelian kembali saham serta mengakumulasi Bitcoin di tengah harga yang lebih rendah.
Data pasar juga menunjukkan lonjakan volume perdagangan setelah pasar Asia kembali aktif usai libur Tahun Baru Imlek. Aktivitas tersebut memperbesar tekanan jual di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dengan sinyal penahanan suku bunga yang berpotensi berlangsung lebih lama serta meningkatnya risiko geopolitik, pasar kripto diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam waktu dekat. Investor kini menanti kejelasan arah kebijakan suku bunga dan perkembangan inflasi sebelum kembali mengambil posisi agresif di aset digital.
