Volatilitas Bitcoin Tekan Pasar, Platform Derivatif Perkuat Strategi Manajemen Risiko

- Volatilitas Bitcoin turun 50% dari rekor tertinggi Oktober 2025, mencapai US$68.000 per Februari 2026.
- Pintu Futures mengembangkan fitur manajemen risiko untuk mengatasi volatilitas ekstrem, termasuk pengaturan batas keuntungan dan kerugian otomatis serta fleksibilitas leverage hingga 25 kali.
- Data Coinglass mencatat likuidasi pasar kripto mencapai US$4,85 miliar saat harga Bitcoin turun ke level US$60.000 pada 6 Februari 2026, menunjukkan urgensi pengelolaan risiko.
Jakarta, FORTUNE– Tekanan volatilitas kembali membayangi pasar kripto global. Usai mencetak rekor tertinggi pada Oktober 2025, harga Bitcoin kini terkoreksi hampir 50 persen dan bergerak di kisaran US$68.000 per pertengahan Februari 2026.
Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk mencari instrumen alternatif yang lebih fleksibel dalam mengelola risiko dan peluang, salah satunya melalui perdagangan derivatif kripto.
Di tengah dinamika tersebut, Pintu Futures mengembangkan pendekatan manajemen risiko melalui serangkaian fitur yang dirancang untuk menekan eksposur volatilitas ekstrem. Platform derivatif milik PT Pintu Kemana Saja ini telah berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), seiring upaya regulator memperkuat tata kelola industri aset digital.
Head of Product Marketing PINTU, Iskandar Mohammad, mengatakan perdagangan derivatif tidak lagi hanya berorientasi pada potensi imbal hasil, tapi juga pada disiplin pengendalian risiko. Menurutnya, sepanjang 2025 perusahaan memprioritaskan pengembangan fitur yang memungkinkan trader menyesuaikan strategi dengan profil risiko masing-masing, terutama di tengah pasar yang tidak stabil.
Secara fungsional, penguatan manajemen risiko tersebut tercermin pada ketersediaan fitur pengaturan batas keuntungan dan kerugian otomatis, fleksibilitas leverage hingga 25 kali, serta mekanisme perlindungan harga untuk mengurangi dampak slippage saat volatilitas tinggi. Selain itu, terdapat pula fitur margin buffer guna menambah daya tahan posisi terhadap potensi likuidasi, serta fitur stop order yang memungkinkan eksekusi strategi berbasis analisis teknikal tanpa pemantauan pasar secara terus-menerus.
Urgensi pengelolaan risiko semakin terlihat dari data Coinglass, yang mencatat likuidasi pasar kripto mencapai US$4,85 miliar saat harga Bitcoin sempat turun ke level US$60.000 pada 6 Februari 2026. Tekanan tersebut turut mendorong indeks fear & greed ke level 6, terendah sejak awal tahun.
“Instrumen derivatif menawarkan fleksibilitas bagi pelaku pasar untuk merespons berbagai skenario, baik melalui posisi long maupun short. Namun, ia mengingatkan bahwa karakter high risk–high return menuntut kesiapan analisis, literasi pasar, serta pemanfaatan fitur manajemen risiko secara disiplin,” katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (18/2).
Karena itu, penguatan edukasi dinilai menjadi bagian penting dari ekosistem perdagangan derivatif kripto yang berkelanjutan.

















