Jaga Keberlanjutan Bisnis, Bos BCA: Fokus ke Nasabah, Bukan Kompetitor

- BCA fokus pada penguatan nilai tambah bagi nasabah, bukan terjebak dalam persaingan suku bunga.
- Kompetisi dalam industri perbankan dianggap normal, namun BCA memprioritaskan peliharaan konsumen dan keamanan digital.
- Strategi pencegahan fraud dilakukan dengan penguatan sistem keamanan pada akun nasabah dan pengetesan ketahanan internal.
Jakarta, FORTUNE - Ketatnya persaingan industri perbankan membuat sejumlah pemain tak jarang mengambil langkah perang suku bunga. Kendati demikian, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memilih tidak terjebak dalam kompetisi tersebut, melainkan fokus pada penguatan nilai tambah bagi nasabah.
Direktur BCA, Santoso, mengatakan pada dasarnya kompetisi dalam suatu industri adalah hal yang normal. Namun bagi BCA, strategi pertama yang dilakukan ialah mengenali dulu siapa konsumennya, memahami, kemudian mencari solusi dan memenuhi yang dibutuhkan konsumen.
"Jadi prinsip utama kami adalah nasabah yang harus kita pelihara. Karena kalau kompetitor, maka kita bisa distract terhadap value proposition yang harusnya tepat buat customer kita," kata Santoso di Fortune Indonesia Summit, di Jakarta (12/1).
Menurutnya, perbankan pada dasarnya merupakan bisnis kepercayaan. Produk yang ditawarkan bukanlah barang berwujud, melainkan jasa, dengan infrastruktur berupa kantor dan sumber daya manusia.
Untuk menumbuhkan kepercayaan dan mau menempatkan dana, menurut Santoso, perbankan harus bisa menunjukkan nilai tambah dan relevansinya ke nasabah.
"Sekarang sudah tanpa kertas, semuanya hanya di handphone. Apalagi bank digital, sudah tidak punya kantor. Bagaimana (nasabah) bisa menaruh uang, kalau bukan karena percaya," ujarnya.
Masih di kesempatan yang sama, Santoso juga membagikan strategi perusahaan untuk mencegah fraud. Bank yang bakal berusia 69 pada 21 Februari mendatang ini menilai kuncinya itu ada di sistem.
Menurut Santoso fraud itu bisa disebabkan dari internal maupun eksternal. Untuk eksternal diantisipasi dengan penguatan sistem keamanan pada akun nasabah.
"Dalam perbankan pada prinsipnya kita memberikan pengamanan seperti gembok dengan kunci. Tinggal kuncinya satu atau kombinasi beberapa kunci," ujar Santoso.
Namun, tantangannya nasabah seringkali tidak memiliki pemahaman memadai terkait keamanan digital. Karena itu, BCA secara berkelanjutan memberikan edukasi dan literasi kepada nasabah supaya tidak lengah dalam menjaga data maupun akses perbankan mereka.
Di samping itu, fraud juga bisa disebabkan oleh peretasan karena sistem internal yang lalai. Dalam hal ini BCA menerapkan peningkatan di seluruh titik konektivitas sistem. Setiap akses dan potensi celah diawasi dengan panduan ketat.
"Kami punya peringatan sendiri, jadi punya sistem mana yang indikasi fraud dan penyebabnya apakah ada di satu pintu yang dibuka di internal sehingga fraudster bisa masuk," jelas Santoso.
Secara internal BCA juga melakukan pengetesan ketahanan menghadapi serangan-serangan fraud.

















