Moody's Pangkas Outlook Rating 5 Bank RI, Ini Dampaknya ke Bisnis

- Moody's Ratings memangkas outlook 5 bank besar di Indonesia dari stabil menjadi negatif.
- Pemangkasan ini menyusul penetapan peringkat sovereign kredit RI di level Baa2 dengan outlook negatif pada 5 Februari 2026.
- Dampaknya akan terasa melalui biaya dan risk appetite.
Jakarta, FORTUNE – Lembaga pemeringkat utang global, Moody's Ratings, resmi memangkas outlook peringkat lima bank terbesar di Indonesia dari stabil menjadi negatif. Langkah ini merupakan konsekuensi langsung dari revisi peringkat utang negara Republik Indonesia yang ditetapkan pada level Baa2 dengan outlook negatif pada 5 Februari 2026.
Kelima entitas perbankan yang terdampak revisi ini adalah Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Tabungan Negara (BTN).
Dalam pengumumannya yang dikutip di Jakarta, Selasa (10/2), Moody’s menyoroti adanya peningkatan risiko terhadap kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia untuk jangka menengah, yakni lima hingga 10 tahun ke depan.
“Sebagaimana tecermin dalam berkurangnya prediktabilitas dan koherensi dalam proses pembuatan kebijakan, bersamaan dengan komunikasi kebijakan yang kurang efektif selama setahun terakhir,” demikian Moody’s.
Merespons situasi tersebut, Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengakui pemangkasan prospek ini akan memengaruhi daya tawar instrumen keuangan korporasi di pasar global. Hal ini khususnya berdampak pada penerbitan obligasi internasional dan aktivitas pinjaman luar negeri.
“Kalau [investor] asing itu biasanya pengaruh karena kita punya pinjaman atau instrumen yang dikeluarkan di luar negeri, yang kita jual di luar negeri, atau kita beli di luar negeri. Nah, ini memerlukan rating,” ujar Nixon dalam paparan kinerja di Menara BTN, Jakarta, Senin (9/2).
Secara terpisah, Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan dampak revisi peringkat ini tidak akan memukul pengoperasian perbankan secara langsung. Namun, tekanannya akan terasa melalui jalur biaya dana (cost of funds) dan perubahan selera risiko (risk appetite) investor.
Menurut Josua, prospek negatif cenderung mendorong pelaku pasar menuntut imbal hasil (yield) yang lebih tinggi, terutama untuk pendanaan jangka panjang dan valuta asing.
“Biaya dana berpotensi naik atau setidaknya turun lebih lambat. Ini mendorong bank lebih selektif yakni dengan menaikkan suku bunga kredit pada debitur berisiko,” kata Josua.
Lebih lanjut, Josua mewanti-wanti sentimen ini dapat menekan valuasi saham perbankan nasional. Investor asing umumnya akan menaikkan persepsi risiko terhadap sektor perbankan karena dianggap membawa risiko negara.
Guna memitigasi dampak tersebut, Josua menyarankan perbankan untuk segera memperkokoh fundamental. Langkah antisipatif yang perlu diambil meliputi penebalan bantalan likuiditas dan permodalan, penambahan pencadangan, serta pengetatan kualitas aset dengan menyalurkan kredit secara lebih selektif pada segmen berisiko.

















