Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan kembali menguat pada perdagangan Rabu (17/6), setelah ditutup naik 4,12 persen ke level 6.254 pada penutupan perdagangan Senin (15/6).
Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya risk appetite investor setelah tercapainya kesepakatan damai AS-Iran yang mendorong penguatan rupiah ke kisaran Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS) serta meredakan kekhawatiran terhadap risiko geopolitik dan harga energi.
IHSG berpotensi melanjutkan penguatan seiring terbentuknya pola V-shape recovery dan keberhasilannya kembali bertahan di atas level psikologis 6.000. "Sentimen positif didukung oleh ekspektasi Bank Indonesia dan The Fed yang diperkirakan mempertahankan suku bunga, serta meredanya risiko geopolitik pasca kesepakatan damai AS-Iran yang mendorong penurunan harga minyak dan penguatan rupiah," kata Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda dalam riset hariannya.
Secara teknikal, momentum rebound masih terjaga selama IHSG bertahan di atas support 6.071–5.931, dengan potensi melanjutkan penguatan menuju resisten di kisaran 6.300–6.360. Daftar saham yang disoroti oleh tim BRIDS adalah BMRI, MDKA, dan SMIL.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, memperkirakan IHSG masih dapat menguat setelah kembali membentuk pola upward bar. Di sisi lain, indikator stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume.
Para pelaku investor menunggu rincian lebih lanjut terkait kesepakatan kesepakatan damai antara AS dan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz. "Normalisasi ini memberikan efek pada penurunan harga minyak mentah dunia di bawah US$80 per barel sehingga meredakan sentimen risiko inflasi global," kata Nafan dalam risetnya.
Fokus utama para pelaku pasar tertuju pada hasil pertemuan FOMC The Fed terkait Keputusan Fed Rate serta FOMC Economic Projections, maupun RDG BI dalam rangka pengumuman BI Rate pada 18 Juni 2026. Fed Rate diperkirakan tetap pada level 3,75 persen berdasarkan konsensus, sedangkan BI Rate diperkirakan naik 25 bps pada level 5,75 persen berdasarkan konsensus.
Di sisi lain, para pelaku pasar juga mulai tertuju pada agenda review klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI yang dijadwalkan pada 23 Juni 2026.
