Jakarta, FORTUNE - Koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hampir mencapai 4 persen sepanjang perdagangan Kamis (21/5). Salah satu sentimen utamanya adalah pengumuman hasil tinjauan kuartalan indeks FTSE.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI) mencatat, nasib IHSG berbanding terbalik dari pergerakan bursa-bursa utama Asia yang menghijau berkat sentimen yang membaik seiring meredanya kekhawatiran geopolitik. Kecuali Hong Kong, yang terkoreksi tipis.
"Tekanan masih belum selesai mendera IHSG, setelah sempat dibuka menguat pagi tadi, namun akhirnya tergelincir ke level 6.144 atau melemah 2,76 persen pada penutupan sesi I," demikian menurut tim riset MASI, Kamis.
Dikutip dari IDX Mobile pukul 14.50 WIB, koreksi IHSG bahkan telah mencapai 3,57 persen ke level 6.092,8. Itu memperdalam tingkat pelemahan IHSG sepanjang perdagangan 2026, yakni hampir -30 persen.
Terkait koreksi hari ini, PIlarmas Investindo Sekuritas menggarisbawahi sejumlah kabar dari dalam negeri. Pertama, tekanan pasar muncul setelah Presiden Prabowo memperketat aturan ekspor komoditas utama, termasuk minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy, dengan mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara. Kebijakan pemusatan ekspor komoditas tersebut terus membayangi sentimen pasar.
"Meski bertujuan baik untuk mengeliminasi praktik under-invoicing dan kebocoran pendapatan negara, implementasinya dikhawatirkan dapat mengganggu operasional pelaku perdagangan serta menurunkan minat investor asing," kata tim riset yang dipimpin oleh Associate Director and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus dalam riset pada 21 Mei 2026.
Sentimen berikutnya berasal dari tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang diperkirakan masih akan berlanjut, meskipun Bank Indonesia (BI) telah mengambil langkah mengejutkan dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps. Kebijakan agresif bank sentral tersebut dinilai belum mampu meredam kuatnya gejolak eksternal maupun memulihkan sentimen negatif investor asing terhadap pasar keuangan domestik.
Selain itu, pelaku pasar juga tampak fokus mencermati rilis dari penyedia indeks internasional. Saat ini, pelaku pasar menantikan hasil dari Quarterly Review FTSE Global Equity Index Series yang dijadwalkan rilis pada 22 Mei 2026.
Keputusan taktis dari lembaga tersebut dinilai memiliki dampak instan terhadap pergerakan modal asing, baik yang masuk maupun keluar dari Bursa Efek Indonesia. "Perombakan susunan saham dalam indeks tersebut diyakini akan mengubah peta aliran dana investor global, tingkat likuiditas perdagangan, hingga volatilitas harga saham-saham tertentu di pasar domestik," tulis tim Pilarmas Investindo.
Sebelumnya, pada pekan lalu, FTSE Russell mengumumkan berpotensi menghapus saham emiten Indonesia dengan status high shareholding concentration (HSC) dalam kajian indeks Juni 2026, yang berlaku 22 Juni 2026.
