Jakarta, FORTUNE - Kinerja perdagangan berjangka komoditi (PBK) mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang 2025. Capaian tersebut menjadi landasan bagi pemerintah untuk memacu penguatan industri PBK pada 2026.
Data Bappebti mencatat, sepanjang Januari–November 2025, total nilai transaksi PBK mencapai Rp42.867 triliun, meningkat 49,8 persen secara tahunan. Sejalan dengan itu, aktivitasnya yang tercermin melalui volume transaksi tercatat sebanyak 14,56 juta lot atau tumbuh 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari keseluruhan nilai transaksi tersebut, kontrak berjangka berbasis komoditi berkontribusi 89,48 persen.
Pada segmen perdagangan fisik, ekspor timah murni batangan selama Januari–15 Desember 2025 membukukan nilai transaksi Rp26,98 triliun dengan volume 9.830 lot. Sementara itu, pasar fisik emas digital mencatat nilai transaksi yang lebih besar, yakni Rp107,43 triliun dengan volume 55,58 juta gram.
Sementra itu, perdagangan kontrak berjangka crude palm oil (CPO) mencatat nilai transaksi (notional value) sebesar Rp2,69 triliun dengan volume 30.341 lot. Begitupun, pada kontrak syariah murabahah mencatat nilai transaksi Rp693,47 miliar dengan volume 415.986,7 blue barrel (BBL) atau setara 66,1 juta liter.
Kemudian kontrak berjangka Brent crude oil mencatat nilai transaksi (notional value) Rp3,14 miliar dengan volume 30 lot, diikuti perdagangan kontrak REC pada periode Januari–15 Desember 2025 mencatat nilai transaksi Rp1,84 miliar dengan volume 44.495 lot.
Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Senjaya menyampaikan, sepanjang tahun lalu, pihaknya fokus memperluas literasi PBK kepada masyarakat. Langkah tersebut dibarengi dengan penguatan regulasi dan pengawasan, serta pengembangan mekanisme perdagangan dan ragam produk.
"Selain untuk mendorong peningkatan transaksi, langkah ini juga sebagai upaya melindungi masyarakat dari praktik perdagangan ilegal yang mengatasnamakan PBK," ungkap Tirta dalam keterangan resminya, Senin (5/1).
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan, perlu konsistensi dan kerja sama berkelanjutan guna memperkuat kontribusi PBK terhadap perekonomian nasional.
Menurutnya, PBK memiliki peran strategis dalam memperbaiki tata niaga dan ekosistem perdagangan komoditas, khususnya melalui pembentukan harga acuan. Selain itu, mekanisme lindung nilai dinilai penting untuk menjaga kepastian harga bagi pelaku usaha.
"Berbagai manfaat industri PBK bagi penguatan perdagangan sektor komoditas di Indonesia harus dioptimalkan implementasinya. Komoditas unggulan yang saat ini belum masuk di bursa berjangka harus mulai dipetakan untuk mendapat manfaat pembentukan harga dan harga acuan serta manfaat lindung nilai (hedging)," katanya.
Roro juga menyoroti pesatnya perkembangan perdagangan emas digital yang dinilai memiliki potensi signifikan bagi perekonomian. Bappebti selaku regulator diminta terus memastikan perlindungan masyarakat, kepastian berusaha, serta pencegahan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme.
"Lanskap perdagangan serta dinamika pengaturan yang terus berubah menjadi suatu tantangan. Kita berharap, 2026 menjadi tahun yang baik bagi ekosistem PBK untuk dapat bertumbuh dan memberikan manfaat yang komprehensif," ujar Roro.
