Jakarta, FORTUNE - Otoritas Kamboja resmi mengekstradisi miliarder Chen Zhi ke Cina pada 7 Januari 2026, menyusul penangkapannya sehari sebelumnya. Pendiri sekaligus Chairman Prince Holding Group itu dituding sebagai otak di balik jaringan penipuan kripto lintas negara bernilai miliaran dolar AS yang beroperasi melalui praktik kerja paksa di Asia Tenggara.
Chen Zhi, pengusaha berusia 37 tahun yang juga tercatat sebagai warga negara Kamboja, ditangkap bersama dua warga negara Cina lainnya, Xu Ji Liang dan Shao Ji Hui, pada Selasa, 6 Januari 2026. Penangkapan ini merupakan hasil penyelidikan bersama selama berbulan-bulan terhadap operasi kejahatan finansial yang oleh jaksa Amerika Serikat digolongkan sebagai salah satu kasus terbesar sepanjang sejarah.
Dalam dakwaan yang diajukan otoritas AS sejak Oktober 2025, Chen disebut memegang peran sentral dalam mengendalikan jaringan penipuan kripto global yang menyasar korban di Amerika Serikat dan berbagai negara lain. Operasi tersebut dijalankan melalui kompleks-kompleks tertutup di Kamboja, tempat ratusan pekerja diduga direkrut secara ilegal, ditahan, dan dipaksa menjalankan aksi penipuan daring.
Mengutip laporan BBC, Chen dituduh menipu korban internasional hingga miliaran dolar AS dalam bentuk aset kripto. Ia juga didakwa mengelola “pabrik-pabrik penipuan” di Kamboja, di mana korban perdagangan manusia dipaksa bekerja di bawah ancaman kekerasan. Selain itu, Chen disebut mencuci hasil kejahatan melalui jaringan perusahaan yang tampak legal di bawah bendera Prince Group.
Proses ekstradisi ini berlangsung beberapa bulan setelah Departemen Keuangan AS menyita sekitar US$14 miliar bitcoin yang dikaitkan dengan jaringan tersebut. Pemerintah Inggris kemudian menjatuhkan sanksi terhadap Prince Holding Group. Sejalan dengan itu, Departemen Kehakiman AS menetapkan Prince Group sebagai organisasi kriminal transnasional, sementara Chen Zhi dan sejumlah pihak terkait dikenai sanksi resmi.
Kasus ini juga menyingkap modus utama yang digunakan jaringan tersebut, yakni skema penipuan pig butchering. Dalam praktik ini, pelaku membangun hubungan personal jangka panjang dengan korban sebelum mengarahkan mereka berinvestasi di platform kripto palsu. Seluruh dana korban kemudian disedot habis oleh jaringan penipu.
Melansir The Cambodia China Times, dokumen dakwaan menyebutkan, jaringan yang dikendalikan Chen berhasil mengumpulkan lebih dari 127.271 bitcoin. Seluruh aset tersebut kini berada dalam penguasaan pemerintah AS dan sedang diajukan untuk disita permanen, yang disebut sebagai penyitaan perdata terbesar dalam sejarah Departemen Kehakiman AS.
Jaksa juga mengungkap bahwa Chen mengawasi langsung operasional di setiap lokasi penipuan. Ia diduga menyimpan catatan rinci aktivitas jaringan serta mengatur penggunaan aset kripto untuk menyamarkan aliran dana ilegal. Sebagian dana tersebut kemudian digunakan untuk membiayai gaya hidup mewah, mulai dari perjalanan kelas atas hingga pembelian karya seni bernilai tinggi, termasuk lukisan Pablo Picasso.
Ekstradisi Chen Zhi ke Cina menjadi sorotan tersendiri di tengah dinamika diplomatik kawasan. Pemindahan ini terjadi lebih dari satu dekade setelah Chen melepaskan kewarganegaraan Cina dan beralih menjadi warga Kamboja. Perlindungan politik yang sempat ia nikmati runtuh setelah dekret kerajaan pada akhir 2025 mencabut kewarganegaraan Kambojanya, sehingga membuka jalan hukum bagi ekstradisi.
Kasus Chen Zhi mencerminkan krisis yang lebih luas di Asia Tenggara. Laporan Amnesty International pada Juni 2025 mengidentifikasi sedikitnya 53 kompleks di Kamboja yang digunakan untuk menjalankan skema pig butchering, dengan laporan praktik perbudakan modern, perdagangan manusia, pekerja anak, hingga penyiksaan sistematis.
Di sisi lain, skala kejahatan kripto global dinilai jauh melampaui kasus ini. Data Chainalysis mencatat saldo aset kripto yang terkait aktivitas kriminal di jaringan on-chain telah melampaui US$75 miliar atau sekitar Rp1.256 triliun. Pada Juli 2025 saja, entitas ilegal tercatat memegang hampir US$15 miliar dana kripto, melonjak lebih dari 300 persen dibandingkan 2020.
Penangkapan dan ekstradisi Chen Zhi dinilai menjadi pukulan besar bagi jaringan penipuan kripto berbasis kerja paksa di Asia Tenggara. Namun, koordinasi lanjutan antara otoritas Cina dan Amerika Serikat masih dinantikan, mengingat besarnya aset sitaan yang saat ini berada di bawah kendali pemerintah AS. Kementerian Dalam Negeri Kamboja sendiri belum mengungkap lokasi penahanan Chen sebelum ia diserahkan kepada otoritas Cina.
