Ada sejumlah faktor yang menjadi pemicu koreksi tajam saham-saham bank hari ini. Berikut beberapa di antaranya:
1. Aksi ambil untung setelah penguatan sebelumnya
Dalam beberapa bulan terakhir, saham-saham bank besar mengalami tren penguatan seiring kinerja positif dan sentimen pasar yang membaik. Namun, saat harga mencapai level jenuh beli (overbought), investor cenderung merealisasikan keuntungan.
Momentum awal bulan juga kerap dimanfaatkan pelaku pasar untuk melakukan reposisi portofolio. Sebagai contoh, koreksi signifikan pada BRIS (7%) dan BBRI (4,49%) mengindikasikan adanya aksi jual besar-besaran sebagai bagian dari strategi profit taking.
2. Ketidakpastian global, khususnya dari Amerika Serikat
Dinamika geopolitik dan ekonomi global turut berperan menekan pasar. Salah satu isu yang mencuat adalah putusan Pengadilan Perdagangan Internasional AS yang menyatakan sebagian tarif impor era Trump tidak sah.
Hal ini memunculkan spekulasi tentang potensi kebijakan dagang baru jika Trump kembali menjabat. Kepemimpinan Trump bisa berdampak negatif terhadap stabilitas pasar global. Sektor perbankan yang sangat sensitif terhadap sentimen makroekonomi menjadi salah satu sektor yang paling cepat merespons ketidakpastian ini.
3. Sentimen negatif terhadap likuiditas dan suku bunga
Dari sisi domestik, kekhawatiran terhadap likuiditas turut menjadi perhatian pelaku pasar. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan akan menyesuaikan kembali tingkat bunga simpanan yang dijamin. Langkah ini bisa mengubah preferensi nasabah dalam menempatkan dana serta memengaruhi struktur pendanaan perbankan.
Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebagai respons terhadap tekanan inflasi juga membayangi sektor ini. Suku bunga yang lebih tinggi dapat menekan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) perbankan dan berdampak langsung terhadap profitabilitas.
Pelemahan IHSG pada awal pekan ini didorong terutama oleh koreksi di sektor perbankan, baik bank konvensional berkapitalisasi besar maupun bank digital. Meski demikian, pasar saham tetap menunjukkan aktivitas yang tinggi serta mencerminkan minat pelaku pasar masih kuat meski dalam tekanan.
Sentimen global dan kebijakan luar negeri masih akan menjadi faktor penentu pergerakan pasar dalam waktu dekat. Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan ekonomi domestik dan global, serta mempertimbangkan portofolio secara menyeluruh agar tetap optimal dalam menghadapi gejolak pasar.